Mengapa Indonesia Selalu Kekeringan dan Krisis Air Meski Kaya Curah Hujan?

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

Musim kemarau tahun ini diperkirakan akan semakin menantang seiring pengaruh El Nino yang berpotensi menurunkan curah hujan di sejumlah wilayah. Ancaman kekeringan pun tidak hanya membayangi sektor pertanian, tetapi juga pasokan air baku, pembangkit listrik tenaga air, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau yang lebih kering dibandingkan kondisi normal. Sebanyak 437 zona musim atau sekitar 48,77 persen wilayah daratan Indonesia diprediksi mengalami durasi musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan, hasil pemantauan suhu permukaan laut menunjukkan fenomena El Nino terus menguat. Hingga akhir Juni 2026, Indeks Nino 3.4 yang menjadi indikator kekuatan El Nino telah mencapai lebih dari 1,56 atau melampaui ambang batas kategori kuat yang berada di atas 1,5.

Di sisi lain, kondisi di Samudra Hindia masih menunjukkan nilai Indian Ocean Dipole (IOD) negatif sebesar minus 0,38. Namun, BMKG memprediksi terdapat peluang yang cukup signifikan terjadinya IOD positif pada periode September hingga Desember 2026.

“Prediksi BMKG, El Nino diperkirakan mencapai puncaknya pada akhir tahun, yaitu sekitar Desember 2026 hingga Januari 2027. Kondisi El Nino tahun ini juga berpeluang melampaui kategori El Nino kuat. Umumnya, El Nino berlangsung hingga kuartal pertama tahun berikutnya,” ujarnya dalam konferensi pers di kantor BMKG, Jakarta, Kamis (30/7/2026).

Kondisi El Nino memang turut memicu penurunan curah hujan secara signifikan hingga bisa menyebabkan kekeringan di sejumlah daerah. Namun, Ardhasena menyebut kekeringan pada 2026 belum tentu akan lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi tersebut perlu dilihat berdasarkan perkembangan curah hujan dari bulan ke bulan.

Baca JugaKekeringan Melanda, Ribuan Warga di Mojokerto Alami Krisis Air

Ardhasena menjelaskan berdasarkan pemeringkatan curah hujan nasional, pada Mei 2026 justru tercatat sebagai salah satu bulan Mei terbasah, yakni menempati peringkat ketiga tertinggi. Sementara itu, Juni 2026 juga bukan merupakan bulan Juni yang paling kering karena hanya berada pada peringkat kedelapan dari sisi tingkat kekeringan.

Kondisi mulai berubah memasuki Juli 2026. Pada periode ini, hujan mulai mengalami retret yang ditunjukkan oleh peta curah hujan dengan dominasi warna kecokelatan di sebagian besar wilayah Indonesia. Kondisi tersebut menandakan berkurangnya curah hujan seiring perkembangan musim kemarau.

Selain itu, analisis sifat hujan menunjukkan mayoritas wilayah Indonesia telah mengalami curah hujan di bawah kondisi normal. Perkembangan tersebut pun menjadi sinyal bahwa musim kemarau mulai menguat sehingga berbagai sektor perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan dan dampak turunannya.

Ardhasena mengatakan, BMKG telah berkoordinasi dengan berbagai sektor agar langkah-langkah antisipasi terhadap dampak kekeringan dapat dilakukan lebih dini. Informasi curah hujan juga menjadi acuan penting bagi sektor sumber daya air dan energi untuk menyusun rencana pengelolaan bendungan pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Variasi musim, distribusi hujan yang tidak merata sepanjang tahun, serta pengaruh fenomena iklim global seperti El Nino menyebabkan sejumlah wilayah tetap menghadapi krisis air.

Penyebab kekeringan

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan curah hujan tertinggi di dunia karena berada di kawasan tropis maritim yang diapit Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Data BMKG menunjukkan curah hujan tahunan di Indonesia pada 2024 umumnya berkisar antara 1.500–4.500 milimeter (mm) per tahun.

Sejumlah wilayah seperti Aceh, Jawa Barat, Kalimantan, hingga Papua bahkan memiliki curah hujan lebih dari 4.500 mm per tahun. BMKG mencatat, curah hujan tahunan tertinggi terjadi pada 2024 mencapai 5.596 mm per tahun di Kabupaten Deiyai, Papua Tengah.

Meski demikian, kelimpahan hujan tersebut tidak serta-merta membuat Indonesia terbebas dari ancaman kekeringan saat musim kemarau. Variasi musim, distribusi hujan yang tidak merata sepanjang tahun, serta pengaruh fenomena iklim global seperti El Nino menyebabkan sejumlah wilayah tetap menghadapi krisis air.

Alam dan manusia

Pakar Teknik Keairan dan Lingkungan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Ani Hariani menjelaskan, kekeringan setiap musim kemarau tidak hanya dipicu oleh penurunan curah hujan. Namun, kondisi ini turut dipengaruhi perubahan iklim yang memperpanjang musim kemarau dan mengurangi kemampuan lingkungan menyimpan cadangan air.

“Faktor utamanya memang berkaitan dengan curah hujan. Namun, sekarang dampaknya semakin besar akibat perubahan iklim. Fenomena El Nino yang secara alami memang terjadi dapat menjadi lebih parah karena dipengaruhi perubahan iklim global,” katanya.

Secara ilmiah kekeringan dibedakan menjadi tiga jenis. Pertama, kekeringan meteorologis akibat berkurangnya curah hujan. Kedua, kekeringan hidrologis yang ditandai menurunnya ketersediaan air permukaan maupun air tanah. Terakhir, kekeringan pertanian yang terjadi ketika kadar air di dalam tanah tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan tanaman.

Baca JugaSebagian Wilayah Indonesia Memasuki Musim Kemarau, El Nino Akan Segera Aktif

Perubahan iklim tidak hanya memperpanjang musim kemarau, tetapi juga menggeser awal musim hujan maupun musim kemarau. Pergeseran tersebut menyebabkan berbagai perencanaan pengelolaan sumber daya air, mulai dari waduk, jaringan irigasi, hingga penyediaan air baku, tidak lagi sepenuhnya sesuai dengan kondisi di lapangan.

Selain faktor iklim, bertambahnya jumlah penduduk dan alih fungsi lahan juga turut memperparah krisis air. Berkurangnya kawasan resapan menyebabkan air hujan tidak lagi banyak tersimpan sebagai cadangan air tanah, melainkan langsung mengalir ke sungai hingga laut.

Air hujan tidak sempat meresap ke dalam tanah ketika lahan yang semula mampu menyerap air berubah menjadi kawasan permukiman. Akibatnya, cadangan air tanah tidak terisi kembali dan sumur-sumur masyarakat lebih cepat mengalami penurunan debit saat musim kemarau.

“Oleh karena itu, kekeringan bukan hanya dipengaruhi oleh faktor alam, tetapi juga oleh aktivitas manusia dan perubahan tata guna lahan,” ungkap Ani.

Ani menilai, saat ini pemerintah memang telah menyusun skenario pengelolaan sumber daya air. Namun, keberhasilan mengurangi risiko kekeringan juga sangat bergantung pada partisipasi masyarakat dalam menerapkan konservasi air, seperti membangun biopori, sumur resapan, serta sistem pemanenan air hujan.

Konservasi air ini dapat dimulai dari lingkungan rumah. Air hujan sebaiknya tidak langsung dialirkan ke saluran drainase, tetapi diupayakan meresap kembali ke dalam tanah atau ditampung untuk dimanfaatkan. Dengan cara itu, cadangan air tanah tetap terjaga sehingga dampak kekeringan saat musim kemarau dapat diminimalkan.

Saat ini pemerintah memfokuskan upaya penanganan pada pencarian sumber-sumber air baru, khususnya air tanah.

Upaya penanganan

Hingga akhir Juli 2026, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) telah menangani 294 titik kekeringan akibat el nino di seluruh Indonesia, yang terdiri atas 180 titik kekeringan di daerah irigasi (sawah) dan 114 titik kekeringan di kawasan permukiman. Dari jumlah tersebut, 202 titik atau 68,7 persen telah selesai ditangani, sedangkan 92 titik lainnya masih dalam proses penanganan.

Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga ketersediaan air irigasi, memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat, sekaligus mempertahankan produktivitas pertanian nasional di tengah musim kemarau yang mulai dirasakan di sejumlah wilayah.

Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, saat ini pemerintah memfokuskan upaya penanganan pada pencarian sumber-sumber air baru, khususnya air tanah. Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung kebutuhan pertanian di tengah kondisi kekeringan yang mulai terjadi di sejumlah wilayah sentra produksi pangan.

Penanganan kekeringan di daerah irigasi menjadi prioritas utama mengingat dampaknya terhadap produktivitas pertanian. Dari 180 titik kekeringan di daerah irigasi, sebanyak 160 titik telah selesai ditangani, sedangkan 20 titik lainnya masih dalam proses penanganan.

Selain itu, dilakukan juga pemompaan air dari sungai ke areal persawahan, normalisasi saluran irigasi, dan peninggian tanggul saluran secara darurat menggunakan sandbag. Upaya lainnya yakni pemasangan pipa untuk meningkatkan debit air serta pembangunan saluran irigasi tersier agar air dapat menjangkau lahan pertanian yang terdampak kekeringan.

Baca JugaKekeringan Melanda dan El Nino Akan Tiba, Apa Antisipasinya?

Selain sektor pertanian, Kementerian PU juga terus menangani dampak kekeringan di kawasan permukiman. Dari 114 lokasi kekeringan permukiman, sebanyak 42 lokasi telah selesai ditangani, sementara 72 lokasi lainnya masih dalam proses penanganan.

Penanganan darurat dilakukan melalui distribusi bantuan air bersih menggunakan truk tangki serta dukungan penyediaan air bersih bagi masyarakat terdampak agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau. 


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kirim Kode Ala Wenger, Reaksi Mikel Arteta Picu Kegilaan Transfer Vinicius Junior ke Arsenal
• 11 jam lalu
0
thumb
BYD Kejar Target Jual 5 Juta Mobil Tahun Ini, Butuh 530 Unit per Bulan
• 10 jam lalu
0
thumb
Kecelakaan Maut Minibus Tabrak Truk di Tol Cijago, 1 Orang Tewas
• 5 jam lalu
0
thumb
Sederet Fakta tentang Graduation Blues
• 4 jam lalu
0
thumb
Unai Emery Puji Taktik Indonesia All Stars Hadapi Aston Villa, Kurniawan Dwi Yulianto Pilih Rendah Hati
• 20 jam lalu
0
Berhasil disimpan.