Evolusi jembatan pejalan kaki di Jakarta memasuki era baru. Dimulai dari Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) sederhana yang sudah menjamur di berbagai sudut kota, lalu kemunculan skybridge yang mengintegrasikan JPO dengan beberapa moda transportasi publik, dan kini merambah kepada inovasi pedestrian deck.
Kawasan urban yang semakin padat dan terus bertambahnya opsi transportasi publik membuat kebutuhan infrastruktur interkoneksi antarmoda di jantung kota Jakarta semakin mendesak, tidak terkecuali Dukuh Atas, yang memang memiliki kawasan-kawasan terfragmentasi.
PT MRT Jakarta (Perseroda) memberikan solusi berupa Pedestrian Deck Dukuh Atas. Kawasan tersebut terbagi menjadi empat kuadran akibat perpotongan dua infrastruktur utama, yaitu Sungai Ciliwung dan Jalan Sudirman. Selain itu, lokasi stasiun dan halte transportasi umum di sekitarnya masih menyebar dan belum terhubung secara optimal.
Advisor Program Management Office Division PT MRT Jakarta, Agus Trihan, mengatakan perusahaan membagi kawasan Dukuh Atas menjadi Q1 yakni area Stasiun MRT Dukuh Atas dan Stasiun KRL BNI City, lalu Q2 yakni Stasiun KRL Sudirman dan Transport Hub, Q3 yakni kawasan perkantoran BNI, serta Q4 yaitu Stasiun LRT Jabodebek dan Halte Transjakarta Galunggung.
Sebagai salah satu mandat pengembangan kawasan berorientasi transit (TOD) dan integrator transportasi, perusahaan melihat urgensi pengembangan pedestrian deck di Dukuh Atas. Agus menyebutkan, kajian pra uji kelayakan (feasibility study/FS) sudah dilakukan dan pencanangannya diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.
"MRT ini tugasnya untuk menjamin kenyamanan bagi pengguna transportasi publik. Untuk itu, kemarin kita ada kajian pra-FS, dari dukungan dari Jepang. Kita lihat bahwa ada kebutuhan pembangunan infrastruktur untuk pejalan kaki yang bisa menghubungkan empat kawasan ini," ungkap Agus saat kelas MRTJ Fellowship Program 2026, dikutip Minggu (2/8).
Agus menambahkan, empat kawasan di Dukuh Atas memiliki seluruh layanan transportasi publik yang ada di Jakarta, yakni MRT, Transjakarta, KRL, Kereta Bandara, LRT Jabodebek, dan LRT Jakarta yang masih dalam proses pembangunan. Sayangnya, hingga saat ini seluruhnya tidak saling terkoneksi.
Di sisi lain, lanjut dia, PT MRT Jakarta sudah mengembangkan Dukuh Atas sebagai kawasan TOD secara bertahap. Contohnya, pembangunan Gedung Transport Hub dan Pedestrianisasi Jalan Blora-Kendal, yang sebelumnya adalah underpass untuk kendaraan. Hanya saja, semua infrastruktur itu berada di kawasan Q1 dan Q2.
"Sekarang sudah jadi aktif banget area di Kendal ini. Next step-nya adalah kita mau jangan cuma daerah sini yang hidup, kalau bisa dari selatan juga bisa terkoneksi. Untuk itulah kita mengusulkan untuk pembangunan Pedestrian Deck Dukuh Atas," kata Agus.
Kompleksitas Rekayasa Sipil
Agus mengakui bahwa pedestrian deck merupakan ambisi besar, meski tidak mustahil. Pasalnya, Dukuh Atas merupakan kawasan urban yang sangat padat, dengan lahan yang tidak seluruhnya dimiliki pemerintah. Belum lagi tantangan teknis karena harus melewati sungai, jalan layang, hingga menembus terowongan MRT.
"PR bikin proyek ini ada dua, teknis sama administratif. Teknis, kita membangun kolom-kolom ini di area yang sudah padat, Kendal areanya sempit secara teknis, terus ada pondasi yang harus berada di antara terowongan MRT," jelasnya.
Untuk masalah administrasi, lanjut dia, PT MRT Jakarta perlu mengurus serangkaian perizinan yang melibatkan banyak pemangku kepentingan yang memiliki aset di kawasan Dukuh Atas. Dia berharap bahwa proyek ini bisa menjadi katalisator untuk menggerakkan seluruh pihak turut serta dalam pengembangan ekosistem mobilitas yang lebih terintegrasi.
"Sayangnya ini enggak semuanya punya lahan Pemprov DKI. Memang cukup banyak stakeholders-nya dan di area yang cukup padat dan sensitif. Jadi itu tantangan yang kita selain selain teknis adalah banyaknya stakeholders yang harus di-manage," tutur Agus.
Agus menuturkan, diameter Pedestrian Deck Dukuh Atas direncanakan sebesar 100 meter dengan tinggi bottom deck dari Jalan Sudirman sekitar 8 meter, serta bentang kolom 66 meter. Infrastruktur ini juga akan dilengkapi oleh eskalator dan elevator masing-masing sebanyak tiga unit untuk memberikan aksesibilitas bagi seluruh lapisan masyarakat.
"Proyek ada di atas sungai, di atas jembatan, lalu di daerah padat, itu challenge sendiri. Memang secara teknis banyak yang bisa ngerjain, tapi harus penuh perhatian, prinsip kehati-hatian, safety-nya, risk management-nya, ground monitoring sama building monitoring. Namun tetap feasible," tuturnya.
Fasilitas ini juga diharapkan dapat menjadi ruang publik baru yang nyaman dan menyenangkan, dengan pemandangan langsung ke arah Patung Sudirman dan Bundaran HI. Saat ini, tender atau lelang kontraktor sudah mulai dibuka dan ditargetkan mulai konstruksi pada November 2026.
"Basic design sudah selesai, sekarang kita lagi tender kontraktor, dengan harapan mudah-mudahan di November bisa on board kontraktornya. Targetnya mudah-mudahan beres di akhir 2028," imbuh Agus.
Berdasarkan kajian, Agus menyebutkan bahwa dibangunnya Pedestrian Deck Dukuh Atas dapat memangkas waktu tempuh pejalan kaki, terutama mobilisasi dari kawasan Q1 dan Q2 menuju Q3, yang saat ini lebih ramah untuk pengguna kendaraan pribadi.
"Kalau di kajian itu sebenarnya titiknya banyak, yang paling problematik adalah kalau dari titik antarmoda ini (Q1, Q2, dan Q4) ada penghematan sekitar 2-3 menit. Tapi yang paling signifikan adalah dari sisi Menara Landmark (Q4) mau ke Shangri-La (Q3), saya rasa bisa menghemat sekitar 4-5 menit," jelas Agus.
Filosofi dan Ikon Baru
Agus pun menuturkan bahwa desainnya yang berbentuk bulat, bahkan sering disebut-sebut sebagai "Jembatan Donat" bukan tanpa alasan. Hal ini menyesuaikan dengan desain Jalan Sudirman-Thamrin yang sedari awal memiliki beberapa poros atau sumbu lingkaran.
Dia memaparkan poros-poros tersebut yakni Bundaran HI, Bundaran Senayan, hingga bundaran Patung Kuda. Untuk itu, Pedestrian Deck Dukuh Atas akan dibangun bulat agar selaras dan tidak mengganggu desain poros salah satu jalan terpenting di Jakarta tersebut.
"Waktu desain Bung Karno dulu, pembuatan sumbu ini memang istilahnya dia menggunakan simbol lingkaran ini sebagai pusat-pusat. Jadi makanya kita juga membuat deck ini bulat untuk menghargai itu, untuk tidak mengganggu keselarasan desain yang sudah dibuat dari bapak pendiri bangsa kita," ungkap Agus.
Sementara itu, TOD Planning Department Head PT MRT Jakarta, Sagita Devi, menambahkan bahwa Pedestrian Deck Dukuh Atas tidak hanya menjadi simpul konektivitas baru, namun dapat menjadi ikon baru Jakarta sekaligus menjadi percontohan arsitektur dan rekayasa sipil yang rumit.
"Pedestrian Deck Dukuh Atas ini juga bisa menjadi salah satu ikon baru di Jakarta, juga mungkin tidak hanya sebagai sarana konektivitas tapi juga bisa jadi sebuah pembelajaran untuk pembangunan infrastruktur yang melewati sungai dan fly over, salah satu pembelajaran arsitektur dan sipil," ujarnya.
Sagita menuturkan, pedestrian deck menandai pengembangan TOD secara menyeluruh atau ultimate di Dukuh Atas, yang akan menghubungkan tidak hanya moda transportasi, namun juga perkantoran atau bahkan hunian. Misalnya, Menara Landmark, Wisma BNI, dan apartemen Two Sudirman yang kini masih dibangun.
"Harapannya ke depan dari Two Sudirman, dari area Wisma BNI juga bisa langsung terkoneksi cuma apakah dalam bentuk konektivitas layang atau dalam penyediaan koridor di area pedestrian saja, itu masih kita studi lebih lanjut baik itu dengan BNI, dengan Two Sudirman, Landmark ataupun dengan Transjakarta," tandasnya.
Urgensi Infrastruktur Ramah Pejalan Kaki
Pengamat Transportasi, Djoko Setijowarno, menilai konsep pedestrian deck sangat menarik diterapkan di Jakarta untuk mengelola mobilitas pejalan kaki yang lebih manusiawi dan berpotensi menjadi ruang publik dengan nilai ekonomi baru.
Djoko menilai, perbedaan mendasar antara skybridge dan pedestrian deck, meskipun sama-sama diciptakan untuk memisahkan jalur pejalan kaki dari lalu lintas kendaraan, terletak dari filosofi dan skala penataan ruang.
Skybridge (Jembatan Penyeberangan Tematik/Konektor) berbentuk struktur melayang berbentuk koridor/jembatan yang menghubungkan dua atau beberapa titik secara langsung, antarmoda atau antar-bangunan.
"Sementara pedestrian deck atau elevated plaza, bentuknya platform melayang berukuran luas tidak hanya berbentuk koridor, menyerupai alun-alun atau ruang terbuka publik melayang di atas jalan raya. Fokusnya, tempat beraktivitas, ruang interaksi sosial, ruang terbuka hijau, sekaligus area integrasi multidireksional," jelasnya kepada kumparan.
Menurutnya, integrasi melayang seperti ini sangat ideal dan menjadi solusi alternatif ketika trotoar darat (at-grade) sudah tidak mampu menampung kapasitas atau terlalu berbahaya karena konflik dengan lalu lintas kendaraan.
"Dampak positifnya peningkatan ridership angkutan umum, ada kemudahan aksesibilitas transit membuat masyarakat lebih tertarik beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi publik, serta nilai tambah ekonomi, kenaikan foot traffic mendorong pertumbuhan UMKM di sekitar area transit," tandas Djoko.
Pedestrian Deck Dukuh Atas menjadi penanda bahwa Jakarta mulai memandang ruang kota dengan cara yang berbeda. Bukan lagi sekadar membangun jalan bagi kendaraan, melainkan menghadirkan ruang yang mengutamakan manusia.
Langkah ini diharapkan bukan hanya mengubah wajah kawasan Dukuh Atas, tetapi menciptakan masa depan Jakarta yang menempatkan pejalan kaki dan transportasi publik sebagai denyut utamanya, sekaligus menjadi arah baru pembangunan kota-kota di Indonesia.






Komentar (0)