Bukan Sekadar Wisata: Cara Baduy Menjaga Adat di Era Digital

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Di era ketika semua hal diukur dari seberapa digital dan modernnya kita, masyarakat Adat Baduy di Kabupaten Lebak, Banten, justru menunjukkan cara pandang yang bertolak belakang. Di saat masyarakat luar berlomba-lomba mengejar kecepatan teknologi, warga Baduy secara sadar memilih untuk menyaring dan membatasi masuknya budaya luar.

Salah satu hal paling mendasar yang sering disalahpahami oleh masyarakat luar adalah status kawasan Baduy itu sendiri. Banyak dari kita menyebut kunjungan ke Baduy sebagai "pariwisata" atau "berwisata". Padahal, bagi masyarakat adat setempat, istilah tersebut kurang tepat.

Mengapa Bukan "Wisata", tapi "Saba Budaya"?

​Berdasarkan penelusuran dan wawancara langsung dengan tokoh adat, Jaro. serta masyarakat setempat, lembaga adat Baduy secara tegas menolak label pariwisata. Menurut mereka, kata "wisata" sering kali membentuk pola pikir bahwa pengunjung bebas bertindak, bersenang-senang, atau berpakaian sesuka hati seperti di tempat liburan umum. ​

Sebagai gantinya, mereka menekankan konsep "Saba Budaya". Dalam bahasa Sunda, saba berarti bersilaturahmi atau berkunjung. Istilah ini menuntut setiap tamu yang datang untuk menempatkan diri sebagai pembelajar dan menghormati tatanan norma serta etika adat yang berlaku.

​"...Ketika dianggap atau dibilang wisata, maka orang di mana-mana berpikir pakaiannya bebas. Sedangkan ketika masuk ke Baduy, ranahnya sudah beda. Ada suku anak dalam yang harus dijaga moralitasnya, termasuk dalam hal berpakaian," ungkap Tokoh Adat (Jaro) Baduy.

Pemandu Lokal sebagai "Benteng" Adat

​Meningkatnya kunjungan orang luar, terutama di titik transit seperti Terminal Ciboleger membuat interaksi budaya tak terhindarkan. Untuk menjaga agar nilai adat tidak tergerus, pemandu lokal yang mayoritas berasal dari Baduy Luar memegang peranan kunci.

Mereka tidak sekadar mengantar jalan, tetapi bertindak sebagai mediator budaya. Pemandu inilah yang mengedukasi pengunjung mengenai aturan ketat, mulai dari larangan memakai sabun di area aliran sungai Baduy Dalam, aturan mengambil foto, hingga tata cara bersikap santun di kawasan adat.

Menjaga HP dan Kompromi Teknologi

​Bagi warga Baduy Luar, modernisasi tidak ditolak secara mentah-mentah. Telepon genggam (smartphone) sudah mulai digunakan untuk kebutuhan praktis saat bepergian ke luar daerah. Namun, penggunaan teknologi ini tetap berada dalam pengawasan adat yang ketat. ​

Pemeriksaan atau razia berkala masih dilakukan oleh lembaga adat untuk memastikan teknologi tidak merusak pola pikir dan moralitas masyarakat. Seperti yang disampaikan oleh Jaro setempat, teknologi memang sulit dibendung total, tetapi arusnya bisa dipelihara dan diperlambat melalui pendekatan kultural dan mediasi adat.

Pelajaran dari Tradisi Lisan dan Pendidikan Kultural

Di saat anak-anak modern bergantung pada sekolah formal, anak-anak Baduy belajar langsung dari orang tua dan tokoh adat melalui tradisi lisan. Anak laki-laki belajar menjaga alam dan bertani dari ayahnya, sementara anak perempuan belajar norma serta keterampilan rumah tangga dari ibunya.

​Sistem pendidikan nonformal ini terbukti ampuh membentuk karakter yang menghormati alam, menjaga hutan larangan, dan merawat keharmonisan sosial tanpa perlu bergantung pada kurikulum formal.

Pengalaman berinteraksi dengan masyarakat Baduy mengajarkan kita bahwa perubahan zaman tidak harus diterima secara bulat-bulat. Melalui prinsip Saba Budaya, Baduy membuktikan bahwa suatu komunitas bisa tetap relevan dan beradaptasi tanpa harus mengorbankan akar budaya dan jati dirinya.

​Bagi kita yang ingin berkunjung, ingatlah satu hal kita datang bukan sebagai pelancong yang ingin dilayani, melainkan sebagai tamu yang datang untuk bersilaturahmi dan menghormati aturan sang tuan rumah.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Sanksi Eropa Dekati 3.000 Target, Begini Cara Rusia Menembus Blokade Barat
• 18 jam lalu
0
thumb
121 Hakim Diusulkan Kena Sanksi Etik, Sahroni Dorong Evaluasi dan Mutasi Besar-besaran
• 5 jam lalu
0
thumb
Gempa M5,5 Guncang Seram Bagian Timur Maluku, Tidak Berpotensi Tsunami
• 17 jam lalu
0
thumb
Momen Chairul Tanjung dan Kapolri Hadiri Malam Puncak Hoegeng Awards 2026
• 19 jam lalu
0
thumb
Uni Eropa Bangun Pusat Penyelamatan Maritim di Libya di Tengah Lonjakan Kematian Migran
• 11 jam lalu
0
Berhasil disimpan.