jabar.jpnn.com, KOTA BANDUNG - Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKB Jawa Barat mendorong lahirnya figur pemimpin Nahdlatul Ulama (NU) yang mampu memadukan karakter kepemimpinan KH Idham Chalid, dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada Muktamar NU mendatang.
Gagasan tersebut mengemuka dalam diskusi umum bertajuk NLA Lecture Series #1 bertema "Menelusuri Jejak Keteladanan Pemimpin NU dari Masa ke Masa" yang digelar di Creative Hall, Kota Bandung, Sabtu (1/8/2026).
BACA JUGA: Igor Tolic Berharap Semifinal Piala Presiden 2026 Digelar di Bandung
Ketua DPW PKB Jawa Barat Syaiful Huda mengatakan, NU membutuhkan sosok pemimpin yang memiliki keluwesan dalam membangun komunikasi dengan berbagai pihak, tetapi tetap dekat dengan aspirasi warga nahdliyin.
Menurut dia, karakter tersebut tercermin pada KH Idham Chalid dan Gus Dur yang memiliki keunggulan berbeda.
BACA JUGA: Portina Depok Kirim Anggota untuk Ikuti Pelatihan Wasit hingga Juri Lisensi Nasional
"Saya kira bisa dikombinasikan karakter kepemimpinan Kyai Idham Chalid dan karakter kepemimpinan Gus Dur untuk pemimpin di masa yang akan datang. Jadi Pak Idham Chalid semangatnya sangat lentur, sangat fleksibel. Di saat yang sama kita butuh sosok Gus Dur yang mewakili arus bawah," kata Syaiful Huda.
Dia berharap kepemimpinan NU ke depan mampu menjaga keseimbangan antara otoritas keulamaan dan kemampuan mengelola organisasi.
BACA JUGA: Buka Akses Kuliah bagi Warga Kurang Mampu, UIKA Bogor Luncurkan Program Orang Tua Asuh
Menurutnya, posisi Rais Aam idealnya diisi ulama yang memiliki kharisma dan otoritas keilmuan, sedangkan jajaran tanfidziyah perlu diperkuat figur dengan kapasitas manajerial yang baik.
"Kami sangat berharap otoritas keulamaan bisa menjadi role model di masa yang akan datang. Jadi di level Rais Aam ada otoritas keulamaan yang karismatik, sedangkan di jajaran tanfidziyah melengkapi dengan sosok yang memiliki kemampuan manajerial organisasi yang mumpuni," ujarnya.
Diskusi tersebut menghadirkan Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi, Guru Besar Australian National University Greg Fealy, serta sejarawan Iip D. Yahya.
Ketiganya mengulas keteladanan KH Idham Chalid beserta relevansinya terhadap arah kepemimpinan NU pada masa mendatang.
Dalam kesempatan itu, Burhanuddin Muhtadi menilai kepemimpinan PBNU saat ini layak menjadi bahan evaluasi karena dinilai belum cukup memberi perhatian terhadap aspirasi warga nahdliyin.
"Kepemimpinan PBNU terakhir patut untuk dievaluasi karena terlalu menyantol ke atas sehingga kurang merawat umat. Kepentingan nahdliyinnya itu kurang disantuni," ujar Burhanuddin.
Dia menilai NU memerlukan figur yang mampu menggabungkan kelebihan KH Idham Chalid yang piawai membangun komunikasi dengan elite serta Gus Dur yang kuat merepresentasikan suara akar rumput.
"Menurut saya, kita perlu mencari kombinasi antara Kyai Idham dan Gus Dur. Kyai Idham itu figur yang sangat kuat ke atas, sedangkan Gus Dur sangat kuat ke bawah. Kita patut mencari kombinasi dari dua figur itu," pungkasnya. (mar5/jpnn)
Redaktur & Reporter : Ridwan Abdul Malik





Komentar (0)