Kyiv: Sedikitnya sembilan orang tewas dan 28 lainnya terluka setelah Rusia melancarkan serangan rudal dan drone ke ibu kota Ukraina, Kyiv, pada Sabtu, 1 Agustus 2026.
Serangan tersebut merusak bangunan permukiman, memicu kebakaran, dan menghantam sejumlah wilayah di kota itu. Layanan Darurat Negara Ukraina menyatakan serangan mengenai lima distrik di Kyiv. Di antara korban luka terdapat empat anak.
Wali Kota Kyiv Vitali Klitschko sebelumnya memperingatkan warga agar segera berlindung ketika rudal balistik menghantam kota.
"Ledakan terjadi di kota. Kyiv sedang diserang rudal balistik. Tetap berada di tempat perlindungan," tulis Klitschko melalui Telegram yang dikutip France 24.
Jurnalis AFP di lokasi melaporkan mendengar lebih dari 10 ledakan beruntun yang memicu alarm kendaraan di berbagai kawasan ibu kota.
Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan pihaknya melancarkan "serangan besar-besaran" ke wilayah Kyiv dengan sasaran fasilitas kompleks industri militer dan pusat logistik.
Di Distrik Darnytskyi, serangan merusak sejumlah bangunan dan kendaraan. Otoritas setempat melaporkan tujuh orang tewas dan 14 lainnya terluka di kawasan tersebut.
Sementara itu, dua orang tewas dan delapan lainnya terluka di Distrik Solomianskyi setelah sebuah bangunan apartemen lima lantai mengalami kerusakan akibat serangan.
"Semuanya hancur, jendela, semuanya," kata Kateryna Kravchenko (75), salah seorang warga yang apartemennya rusak akibat serangan.
Warga lainnya, Oksana (46), mengatakan ia berencana meninggalkan Kyiv.
"Anda tidak bisa tinggal di sini setelah kejadian seperti ini. Tidak ada jaminan hal ini tidak akan terulang lagi," ujarnya. Lebih dari 100 Orang Diselamatkan Foto-foto yang dibagikan Layanan Darurat Ukraina memperlihatkan petugas pemadam kebakaran berupaya memadamkan api di sebuah bangunan permukiman, sementara tim penyelamat mencari korban di bawah reruntuhan menggunakan senter.
Hingga Sabtu pagi, sebanyak 105 orang berhasil dievakuasi dari lokasi-lokasi yang terdampak serangan.
Di sisi lain, Rusia mengklaim sistem pertahanan udaranya semalam mencegat dan menghancurkan 274 drone Ukraina.
Perusahaan perdagangan daring Rusia, Wildberries, juga melaporkan salah satu fasilitas logistiknya di Volgograd terbakar setelah diserang pada malam sebelumnya. Ukraina sebelumnya menuduh perusahaan tersebut menyimpan komponen drone untuk mendukung militer Rusia.
Serangan terbaru terjadi beberapa hari setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Usai pertemuan itu, Zelensky mengatakan Trump menyetujui pemberian lisensi produksi rudal pencegat Patriot kepada Ukraina. Namun, Trump kemudian menyatakan Washington harus "sangat berhati-hati" sebelum memberikan lisensi tersebut.
Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha mengatakan gelombang serangan Rusia menunjukkan negaranya sangat membutuhkan tambahan sistem pertahanan udara dan rudal pencegat.
"Pertempuran di langit akan menentukan arah perang ini. Semakin kuat perisai udara Ukraina, semakin dekat pula perdamaian," kata Sybiha.
Baca juga: Zelensky Tuding Rusia Gunakan Rudal Balistik Korea Utara untuk Serang Ukraina





Komentar (0)