Balai TN Aketajawe Lolobata Promosi Kekayaan Hayati Malut ke Dunia Lewat 2 Kegiatan Ini

jpnn.com
2 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, SOFIFI - Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata sukses menyelenggarakan AJALO Bird Race International Championship 2026.

Ajang tersebut berlangsung di Resort Tayawi, SPTN Wilayah I, Kota Tidore Kepulauan pada 27–29 Juli 2026.

BACA JUGA: WWF Indonesia Apresiasi Upaya Menhut Raja Juli Memperkuat Ranger di 13 Taman Nasional

Untuk pertama kalinya, ajang pengamatan, fotografi, dan sketsa burung bertaraf internasional ini digelar di Maluku Utara sebagai upaya memperkenalkan kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia kepada dunia.

BACA JUGA: Menhut: 13 Taman Nasional Akan Dikembangkan Jadi Kawasan Konservasi Kelas Dunia

Pada waktu yang sama, Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata bekerja sama dengan Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan, Kementerian Kehutanan juga menyelenggarakan Pojok Lensa di kawasan Ake Jawi, SPTN Wilayah III Subaim.

Kedua kegiatan tersebut menjadi bagian dari strategi memperkuat promosi konservasi, ekowisata, dan potensi keanekaragaman hayati Maluku Utara di tingkat nasional maupun internasional.

BACA JUGA: Kunjungan Taman Nasional Meningkat, Menhut: Anak Indonesia Tak Hanya Suka ke Mal

Taman Nasional Aketajawe Lolobata merupakan salah satu kawasan konservasi dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di Maluku Utara dan menjadi habitat berbagai spesies burung endemik yang memiliki nilai penting secara global.

Melalui AJALO Bird Race International Championship 2026 dan Pojok Lensa, kawasan ini diperkenalkan sebagai destinasi unggulan untuk pengamatan burung, fotografi alam, seni, penelitian, dan ekowisata berbasis konservasi.

Kegiatan yang diinisiasi Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata ini diikuti puluhan peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari mahasiswa, pegiat konservasi, komunitas pengamat burung, fotografer profesional, akademisi, pelaku usaha, tour operator, influencer, hingga peserta mancanegara.

Sekretaris Daerah Provinsi Maluku Utara, Samsuddin Abdul Kadir menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan AJALO Bird Race International Championship 2026.

Menurut Samsuddin, kepercayaan menjadikan Maluku Utara sebagai lokasi penyelenggaraan merupakan pengakuan atas kekayaan biodiversitas yang dimiliki daerah ini.

Dia menyampaikan kegiatan ini bukan sekadar kompetisi, tetapi juga menjadi gerakan nyata untuk memperkenalkan dan mempromosikan kekayaan keanekaragaman hayati Maluku Utara kepada dunia.

"Melalui kegiatan ini kami ingin menunjukkan bahwa kekayaan hayati Maluku Utara layak dikenal dunia sekaligus menjadi kekuatan baru bagi pengembangan ekowisata Indonesia," ujarnya.

Samsuddin mengatakan ekowisata berbasis konservasi merupakan masa depan pembangunan pariwisata.

Dengan mengedepankan prinsip pelestarian, Maluku Utara tidak hanya menjaga keberlanjutan ekosistem, tetapi juga membuka peluang ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat serta memperkuat posisinya sebagai destinasi unggulan di tingkat nasional maupun internasional.

Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata, Budhi Chandra menjelaskan AJALO Bird Race International Championship 2026 berlangsung selama tiga hari dan memadukan unsur olahraga alam, pengamatan burung, fotografi alam, seni, edukasi konservasi, serta pengumpulan data ilmiah sederhana mengenai keberadaan burung di habitat alaminya.

Kompetisi dibagi dalam tiga kategori, yaitu Birding (Pengamatan Burung) dan Wildlife Sketch (Sketsa Burung) yang dapat diikuti secara individu maupun tim beranggotakan 1–3 orang, serta Bird Photography (Fotografi Burung) yang diperuntukkan bagi peserta perorangan.

Melalui ketiga kategori tersebut, peserta tidak hanya ditantang menunjukkan kemampuan mengamati, mendokumentasikan, dan menginterpretasikan keindahan burung liar, tetapi juga berkontribusi dalam meningkatkan pengetahuan, apresiasi, dan kepedulian terhadap pelestarian keanekaragaman hayati.

Pada hari yang sama, di Ake Jawi, SPTN Wilayah III Subaim, Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata bekerja sama dengan Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan, Kementerian Kehutanan menyelenggarakan Pojok Lensa yang diikuti 10 peserta terdiri atas tour operator, fotografer profesional, dan influencer.

Kegiatan ini bertujuan mengeksplorasi potensi wisata alam, mendokumentasikan keindahan bentang alam dan kekayaan biodiversitas kawasan, serta menghasilkan konten kreatif untuk memperluas promosi Taman Nasional Aketajawe Lolobata sebagai destinasi ekowisata unggulan Indonesia.

Kehadiran pelaku industri pariwisata, fotografer, dan kreator konten diharapkan mampu meningkatkan eksposur kawasan konservasi ini di tingkat nasional maupun internasional.

Selain kompetisi, kegiatan ini juga diisi dengan aksi konservasi berupa pelepasliaran Kakatua Putih (Cacatua alba) dan Nuri Ternate (Lorius garrulus) bersama Pemerintah Provinsi Maluku Utara dan tenaga ahli Kementerian Kehutanan.

Pelepasliaran tersebut menjadi simbol komitmen bersama dalam menjaga kelestarian satwa liar beserta habitatnya.

Budhi Chandra menegaskan bird race di Indonesia terus berkembang bukan hanya sebagai ajang kompetisi, tetapi juga menjadi gerakan yang memperkuat komunitas pengamat burung, meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap keanekaragaman hayati, serta mendorong pengembangan ekowisata yang bertanggung jawab.

AJALO Bird Race International Championship 2026 dan Pojok Lensa merupakan bagian dari rangkaian Road to Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026.

Penyelenggaraan kedua kegiatan ini secara bersamaan menunjukkan konservasi dapat berjalan seiring dengan pengembangan ilmu pengetahuan, seni, fotografi alam, promosi wisata, serta pemberdayaan masyarakat.

Melalui kolaborasi antara pemerintah, komunitas, akademisi, pelaku usaha, media, dan masyarakat, Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata berharap kawasan konservasi ini semakin dikenal sebagai salah satu destinasi birdwatching terbaik di Indonesia dan kawasan Wallacea, sekaligus menjadi contoh pengelolaan kawasan konservasi yang mampu memberikan manfaat ekologis, sosial, dan ekonomi secara berkelanjutan.

Melalui AJALO Bird Race International Championship 2026 dan Pojok Lensa, Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan konservasi sebagai gerakan bersama.

Melindungi burung berarti menjaga hutan, menjaga sumber air, menjaga keseimbangan ekosistem, serta mewariskan kekayaan alam Indonesia kepada generasi mendatang.

"Dari Halmahera untuk Dunia, Menjaga Burung Berarti Menjaga Masa Depan." (ris/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Menhut: Selamatkan Taman Nasional Harus Libatkan Masyarakat dan Swasta


Redaktur & Reporter : Sutresno Wahyudi


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
CORE: Industri otomotif RI perlu diperkuat melalui industri komponen
• 23 jam lalu
0
thumb
Pemasangan Pagar Tinggi di Mal, Mendag Budi Buka Suara
• 13 jam lalu
0
thumb
Bos BGN Sebut Program MBG Jadi Prioritas di Daerah dengan Angka Stunting Tinggi
• 10 jam lalu
0
thumb
Menyatukan Gaya dan Kenyamanan Lewat Inovasi ASICS Gel-Stratus MC
• 44 menit lalu
0
thumb
Peta Baru Kejahatan Lingkungan Indonesia
• 8 jam lalu
0
Berhasil disimpan.