Jakarta (ANTARA) - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai industri otomotif Indonesia perlu diperkuat melalui pengembangan industri komponen agar mampu naik kelas sebagai basis produksi, bukan sekadar menjadi lokasi perakitan kendaraan.
Yusuf, saat dihubungi di Jakarta, Jumat, mengatakan peningkatan ekspor kendaraan utuh memang menunjukkan perkembangan positif.
Namun, menurut dia, basis produksi yang kuat tidak hanya ditentukan oleh besarnya volume perakitan, melainkan juga kedalaman struktur industri dan rantai pasoknya, termasuk industri komponen.
"Memang ekspor kendaraan utuh terus meningkat, tetapi basis produksi yang kuat tidak hanya ditentukan oleh volume perakitan," kata Yusuf.
Meski demikian, ia menilai Indonesia masih tertinggal dibandingkan Thailand dan Vietnam sebagai basis produksi otomotif di kawasan.
Menurut dia, Thailand telah membangun jaringan pemasok komponen hingga lapis kedua dan ketiga selama puluhan tahun. Sementara itu, Vietnam mampu menarik investasi melalui proses perizinan yang cepat serta integrasi dengan rantai pasok industri elektronik.
Di sisi lain, Indonesia memiliki modal berupa pasar domestik yang besar dan cadangan mineral yang melimpah.
Namun, Yusuf menilai keunggulan tersebut masih bersifat komparatif dan belum cukup untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi yang kompetitif.
Ia menyebutkan pemerintah perlu memperkuat ekosistem industri dengan menurunkan biaya produksi melalui kepastian harga energi, meningkatkan efisiensi logistik, memberikan insentif fiskal yang dikaitkan dengan ekspor dan pendalaman industri, serta memperluas akses pembiayaan bagi pemasok komponen skala menengah.
Baca juga: Menperin minta pemenuhan komitmen investasi Rp21,2 T program LCEV
Baca juga: Menperin sebut RI berpindah dari pasar ke basis produksi otomotif
"Tanpa penguatan industri komponen, yang berkembang hanya aktivitas perakitan," ujarnya.
Menurut Yusuf, salah satu instrumen yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat industri komponen adalah kebijakan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).
Namun, kebijakan tersebut seharusnya menjadi instrumen untuk memperdalam struktur industri, bukan sekadar memenuhi persyaratan administratif.
"Selama ini banyak perusahaan lebih fokus mengejar sertifikat daripada meningkatkan kemampuan teknologi," katanya.
Kandungan lokal, menurut dia, tidak cukup berhenti pada komponen sederhana seperti ban atau jok, tetapi perlu berkembang ke komponen berteknologi tinggi, seperti sistem penggerak, elektronik kendaraan dan perangkat lunak.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan Indonesia tengah bertransformasi dari sekadar pasar otomotif menjadi basis produksi kendaraan.
Dalam pembukaan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di Tangerang, Banten, Kamis (30/7), Agus mengatakan transformasi tersebut tercermin dari meningkatnya kinerja industri otomotif nasional.
Sepanjang semester I 2026, produksi kendaraan bermotor mencapai 615 ribu unit atau tumbuh 11,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara penjualan secara wholesales meningkat 15,9 persen menjadi 436 ribu unit.
Di sisi ekspor, ekspor kendaraan utuh (completely built-up/CBU) meningkat 7,7 persen, ekspor completely knocked down (CKD) naik 38 persen, sedangkan ekspor komponen melonjak 46 persen. Sementara itu, impor kendaraan utuh turun 49 persen.
Baca juga: Pemerintah tak posisikan teknologi otomotif saling berlawanan
Baca juga: CORE: Ada 1 juta ton tetes tebu yang bisa dikembangkan jadi bioetanol
Yusuf, saat dihubungi di Jakarta, Jumat, mengatakan peningkatan ekspor kendaraan utuh memang menunjukkan perkembangan positif.
Namun, menurut dia, basis produksi yang kuat tidak hanya ditentukan oleh besarnya volume perakitan, melainkan juga kedalaman struktur industri dan rantai pasoknya, termasuk industri komponen.
"Memang ekspor kendaraan utuh terus meningkat, tetapi basis produksi yang kuat tidak hanya ditentukan oleh volume perakitan," kata Yusuf.
Meski demikian, ia menilai Indonesia masih tertinggal dibandingkan Thailand dan Vietnam sebagai basis produksi otomotif di kawasan.
Menurut dia, Thailand telah membangun jaringan pemasok komponen hingga lapis kedua dan ketiga selama puluhan tahun. Sementara itu, Vietnam mampu menarik investasi melalui proses perizinan yang cepat serta integrasi dengan rantai pasok industri elektronik.
Di sisi lain, Indonesia memiliki modal berupa pasar domestik yang besar dan cadangan mineral yang melimpah.
Namun, Yusuf menilai keunggulan tersebut masih bersifat komparatif dan belum cukup untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi yang kompetitif.
Ia menyebutkan pemerintah perlu memperkuat ekosistem industri dengan menurunkan biaya produksi melalui kepastian harga energi, meningkatkan efisiensi logistik, memberikan insentif fiskal yang dikaitkan dengan ekspor dan pendalaman industri, serta memperluas akses pembiayaan bagi pemasok komponen skala menengah.
Baca juga: Menperin minta pemenuhan komitmen investasi Rp21,2 T program LCEV
Baca juga: Menperin sebut RI berpindah dari pasar ke basis produksi otomotif
"Tanpa penguatan industri komponen, yang berkembang hanya aktivitas perakitan," ujarnya.
Menurut Yusuf, salah satu instrumen yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat industri komponen adalah kebijakan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).
Namun, kebijakan tersebut seharusnya menjadi instrumen untuk memperdalam struktur industri, bukan sekadar memenuhi persyaratan administratif.
"Selama ini banyak perusahaan lebih fokus mengejar sertifikat daripada meningkatkan kemampuan teknologi," katanya.
Kandungan lokal, menurut dia, tidak cukup berhenti pada komponen sederhana seperti ban atau jok, tetapi perlu berkembang ke komponen berteknologi tinggi, seperti sistem penggerak, elektronik kendaraan dan perangkat lunak.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan Indonesia tengah bertransformasi dari sekadar pasar otomotif menjadi basis produksi kendaraan.
Dalam pembukaan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di Tangerang, Banten, Kamis (30/7), Agus mengatakan transformasi tersebut tercermin dari meningkatnya kinerja industri otomotif nasional.
Sepanjang semester I 2026, produksi kendaraan bermotor mencapai 615 ribu unit atau tumbuh 11,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara penjualan secara wholesales meningkat 15,9 persen menjadi 436 ribu unit.
Di sisi ekspor, ekspor kendaraan utuh (completely built-up/CBU) meningkat 7,7 persen, ekspor completely knocked down (CKD) naik 38 persen, sedangkan ekspor komponen melonjak 46 persen. Sementara itu, impor kendaraan utuh turun 49 persen.
Baca juga: Pemerintah tak posisikan teknologi otomotif saling berlawanan
Baca juga: CORE: Ada 1 juta ton tetes tebu yang bisa dikembangkan jadi bioetanol






Komentar (0)