Pejabat publik dan para politisi secara sadar atau tidak adalah idola. Eksposur media terhadap kiprah dan kehidupan mereka berperan dalam hal ini. Semakin sering pejabat publik tampil di media, semakin besar peluangnya dikenal publik. Semakin besar pula kemungkinan munculnya fans.
Ada berbagai sebab mengapa tokoh publik dijadikan idola. Sangat mungkin, seperti yang ditengarai oleh konsultan manajemen komunikasi krisis, Lauren Beeching dalam artikelnya The Psychology of Obsession: Why Fans Fixate on Public Figures (2026), karena sang tokoh dianggap mewakili sesuatu yang diidamkan oleh fans. Baik itu kecantikan/ketampanan, kesuksesan, bakat, atau gaya hidup sang idola. Bagi mereka sosok idola menjadi simbol kenyamanan, stabilitas, atau bahkan identitas.
Dalam Mass Communication and Parasocial Interaction (1956), Donald Horton dan R.Richard Wohl menunjukkan bahwa interaksi antara audiens dan persona media (media persona) sering menciptakan hubungan parasosial (parasocial relationship). Apa itu hubungan parasosial? Tak lain dari perasaan keintiman dari audiens kepada persona media dikarenakan eksposur media yang begitu besar dan memengaruhi audiens. Relasi parasosial ini umumnya bersifat satu arah. Sang persona media mungkin tidak merasa bahwa dia telah menebar pesona, namun pada kenyataannya banyak orang yang merelakan diri menjadi fansnya.
Relasi ini menciptakan ilusi kedekatan sosial. Audiens yang telah menjelma menjadi fans, tak jarang menginvestasikan energi dan emosi untuk mengenal dan mencermati kiprah sang idola. Fans menganggap sang idola sebagai panutan, sosok inspiratif yang sangat dekat.
Berbagai penelitian menunjukkan hubungan parasosial dapat mempengaruhi audiens media dalam berbagai bentuk. Liebers dan Schramm (2019) dalam studi mereka Parasocial Interactions and Relationships with Media Characters–An Inventory of 60 Years of Research, menemukan bahwa jika seseorang memiliki hubungan parasosial dengan seorang persona media, persona media tersebut dapat memengaruhi pandangan politik, perilaku konsumsi, dan sikap terhadap stereotip gender.
Lalu bagaimana bila tiba-tiba keadaan yang tak terduga terjadi, seperti fenomena di Indonesia akhir-akhir ini?. Satu per satu pejabat publik dan politisi terjerat korupsi. Menteri, wakil menteri, kepala badan, sekjen DPR, anggota DPR, bupati, wali kota, kepala dinas, bahkan lurah terungkap keburukannya. Dalam skala kecil atau besar, di belakang tokoh-tokoh ini terdapat sederet pendukung, tim sukses, atau setidaknya fans. Tatkala mengetahui bahwa figur-figur yang diidolakan ternyata terlibat perbuatan tercela, ketika sosok impian yang dulu selalu tampil menawan kini tertunduk layu dengan tangan terbelenggu, bagaimana fans menghadapi kenyataan ini?
Bila memakai perspektif psikolog sosial AS terkenal, Leon Festinger, para fans yang sedang kita bicarakan ini sedang menghadapi apa yang dia sebut sebagai disonansi kognitif. Disonansi kognitif adalah keadaan ketidaknyamanan mental yang ekstrem akibat dihadapkan pada dua keyakinan yang saling bertentangan secara bersamaan. Dalam kasus yang kita bicarakan, dua keyakinan yang bertentangan itu adalah "Idola saya orang baik dan jujur” versus "idola saya seorang koruptor".
Menurut teori disonansi kognitif yang dicetuskan Festinger dalam bukunya A Theory of Cognitive Dissonance (1957), menghadapi keadaan yang demikian seseorang akan memilih satu dari empat alternatif tindakan. Pilihan pertama, menjustifikasi atau membela sang idola. Ini adalah respons paling umum dari fans fanatik. Mereka akan mencari narasi alternatif untuk melindungi citra sang idola. Misalnya, mereka menuduh kasus tersebut sebagai korban kriminalisasi, konspirasi politik dari kubu lawan, atau jebakan.
Pilihan kedua, meremehkan masalah. Fans mengakui kesalahan tersebut, tetapi mengecilkan skala atau dampaknya. “Bila dibandingkan dengan jasanya, kesalahannya hanya seujung jari,” begitu kira-kira argumen yang dikembangkan. Dengan demikian perilaku mendukung idola tetap terasa benar.
Pilihan ketiga, menghindar dari informasi (selective exposure). Untuk menjaga kedamaian pikiran, fans akan menutup mata dan telinga dari kenyataan. Misalnya, berhenti menonton berita, memblokir akun-akun yang membahas kasus tersebut, atau keluar dari grup percakapan yang mengkritik idola mereka.
Pilihan keempat, mengubah keyakinan dan menerima kenyataan. Fans mengakui bahwa idolanya memang bersalah. Lebih jauh, fans mengubah sikap politiknya secara total. Di titik paling ekstrem, fans berbalik dari mengagumi sang idola menjadi membencinya.
Bila diurutkan berdasarkan tingkat kesulitannya, pilihan keempat merupakan yang paling berat dan paling radikal. Seseorang harus mengubah pendiriannya 180 derajat. Di sini ia tidak hanya harus berhadapan (dan mungkin berdebat) dengan anggota fans lain (yang masih ingin bertahan dengan keyakinan lama). Yang lebih berat adalah menghadapi diri sendiri, karena harus mengatasi rasa bersalah, bahwa selama ini telah telanjur mendukung sosok yang keliru.
Meskipun berat, pilihan keempat merupakan yang paling tepat bila dilihat dari perspektif pemberantasan korupsi. Publik harus berani menerima realitas bahwa idolanya dapat berbuat salah, tergelincir pada kasus korupsi. Sebaliknya, sikap-sikap penyangkalan (denial) akan memperlemah penanganan masalah korupsi. Apalagi bila hal itu dimanfaatkan para terdakwa korupsi sebagai bagian dari pembelaannya.
Tujuh Mitos sebagai Kemasan BeritaSeperti halnya media berperan memediasi munculnya penggemar tokoh publik, media juga berperan menentukan bagaimana fans mengambil pilihan mengatasi disonansi kognitifnya. Bagaimana cara media mengemas pemberitaan tentang jatuhnya sang idola memiliki kontribusi terhadap keputusan yang diambil oleh fans.
Jack Lule, dalam bukunya, Daily News, Eternal Stories: The Mythological Role of Journalism (2001) membahas tentang cara media mengemas berita yang berfungsi memandu pembaca mengambil keputusan, termasuk mengatasi disonansi kognitifnya. Menurut Lule, berita di era modern tidak sekadar laporan fakta. Berita juga adalah medium untuk mengonstruksi dan menyusun nilai-nilai di tengah masyarakat.
Media melaporkan berita bukan sekadar menyampaikan informasi, melainkan juga untuk menebarkan mitos. Mitos, dalam pengertian Lule, adalah berita yang telah menjelma menjadi kisah-kisah klasik, dipandang benar bahkan menjadi sumber kebijaksanaan. Ia digunakan oleh masyarakat untuk memahami kehidupan, menjelaskan nilai-nilai moral dan mengatasi kecemasan sosial.
Menurut Lule, media mengemas berita sebagai upaya menciptakan (mengonstruksi) mitos. Berita yang telah menjadi mitos, akan menjadi rujukan pembaca/pemirsa dalam memahami realitas yang dihadapi.
Dalam membangun dan menyebarluaskan mitos, menurut Lule, media memakai tujuh pola, template, atau dalam istilah yang dia buat sendiri, archetype (arketipe). Arketipe ini merupakan pembingkaian media tentang seseorang atau peristiwa.
Arketipe pertama adalah menjadikan subjek berita sebagai korban (victim). Media dalam pemberitaannya menonjolkan subjek berita sebagai sosok atau kelompok yang menderita bukan karena kesalahannya. Bisa saja misalnya, ia digambarkan sebagai korban dari sistem, atau korban dari kenaifan sikap, atau korban dari konspirasi.
Kedua, arketipe kambing hitam (spacegoat). Subjek berita digambarkan sebagai sosok yang dikorbankan demi membersihkan dosa sosial. Dalam tradisi Indonesia, sering juga disebut tumbal. Jadi kesalahan sang subjek dipandang berfungsi menebus kesalahan pihak lain.
Ketiga, arketipe pahlawan (the hero). Pemberitaan membingkai subjek berita sebagai sosok luar biasa, yang bekerja melampaui batas standar. Sang hero bertindak bukan demi kepentingan dirinya sendiri melainkan kepentingan masyarakat.
Keempat, ibu yang baik (good mother). Pemberitaan dengan pola ini menggambarkan subjek berita sebagai sang pelindung tanpa pamrih. Misalnya, dengan menggarisbawahi kiprahnya mendanai atau menyantuni masyarakat miskin.
Kelima, si penipu (trickster). Kebalikan dari arketipe pahlawan dan ibu yang baik, arketipe ini merupakan simbol dari sesuatu yang jahat. Sang subjek digambarkan sebagai sosok yang cerdas tetapi licik. Dan kesukaannya adalah menantang otoritas.
Keenam, the other (sang liyan). Ini adalah arketipe yang menonjolkan adanya ancaman dari luar. Misalnya, dengan menggambarkan bahwa musuh utama bangsa adalah kekuatan asing,
Ketujuh, bencana (the flood). Arketipe ini menonjolkan subjek berita sebagai bencana, dan fenomena itu dipakai sebagai pengingat akan kerapuhan manusia di hadapan takdir.
Bagaimana Mitos Membantu Fans Mengatasi KecewaKetika sebuah skandal korupsi besar menimpa seorang tokoh idola, media akan membingkai berita mengikuti arketipe-arketipe ini. Misalnya, dengan menggambarkan sang idola sebagai seorang ‘pahlawan’ yang ternyata si penipu (trickster). Media dapat melakukan pembingkaian dengan menggunakan judul-judul dramatis, seperti, ‘Jatuhnya si Orang Paling Bersih,’ atau 'Sepandai-pandai Memakai Kedok, akhirnya Terbuka Juga’.
Fans yang mengalami disonansi kognitif akibat idolanya terjerat korupsi, akan mengadopsi arketipe-arketipe yang disajikan media sesuai dengan pilihan sikapnya. Mereka yang menolak realitas bahwa sang idola korupsi, akan lebih banyak mengadopsi arketipe-arketipe penyangkalan dan pembenaran. Misalnya, mereka akan mengadopsi pemberitaan dengan arketipe korban (menganggap idola hanya korban dari sistem yang korup), arketipe spacegoat (idola hanya dijadikan tumbal menutup kesalahan bosnya), arketipe pahlawan (sang idola dijerat korupsi karena ia menumpas kejahatan yang lebih besar), dan arketipe good mother (korupsi yang dilakukan sang idola tidak sebanding dengan jasa yang telah diberikannya kepada negara).
Sementara itu fans yang berusaha menerima realitas, bahwa idolanya memang benar terlibat korupsi, akan mengadopsi arketipe trickster (si penipu yang licik) sebagai lawan dari arketipe pahlawan. Dalam teori Jack Lule, arketipe trickster (si penipu yang licik) adalah narasi tentang sosok yang menggunakan kecerdasan, pesona, dan kepiawaian bicaranya bukan untuk kebaikan, melainkan untuk mengelabui aturan demi memenuhi keserakahan pribadinya.
Mengapa fans yang realistis mengadopsi arketipe trickster? Mereka mengambil pilihan ini sebagai kompensasi terhadap rasa bersalah dan malu karena telah mendukung seorang penjahat. Dengan menerima realitas bahwa sang idola adalah koruptor dalam arketipe si penipu yang licik, fans mengubah perasaan tidak nyaman karena menyalahkan diri sendiri (mengapa saya bisa mendukung seorang koruptor?) menjadi pembelaan diri (Saya adalah korban dari seorang penipu, seperti jutaan orang lain dan media pun ikut tertipu olehnya)." Dengan demikian fans dapat menerima kenyataan idolanya bersalah tanpa harus merasa bodoh dan malu.
Mengadopsi arketipe ini juga memberi jalan bagi fans untuk dapat menerima bahwa kebaikan, kepedulian dan kebijakan yang ditunjukkan oleh sang idola selama ini hanyalah topeng. Dengan narasi seperti ini, fans menerima realitas, tidak lagi menyangkal bukti korupsi, dan terhindar dari rasa bersalah karena di masa lalu telah mendukung sang idola.
Pada akhirnya, fans seakan sampai pada momen pencerahan. Mereka menjadikan terungkapnya kasus korupsi sang idola sebagai momen penemuan kebenaran. Narasi yang dikembangkan pun berubah, dari rasa bersalah karena mengambil keputusan yang keliru di masa lalu, menjadi kesadaran untuk tidak lagi tertipu di masa mendatang.
Ada kalanya media tidak secara dramatis menggambarkan sosok pejabat yang terjerat korupsi dengan langsung menggunakan pembingkaian arketipe trickster. Apalagi bila sang tokoh sebelumnya dikenal sebagai sosok panutan dan sering diberitakan dalam bingkai arketipe hero. Terlalu ekstrem bila sosok pahlawan seketika menjadi sosok si penipu.
Untuk itu media sering menggunakan pembingkaian dengan narasi the fallen hero (pahlawan yang tersandung) sebagai transisi menuju arketipe trickster. Dengan narasi ini, fans yang kecewa dibantu untuk menerima kenyataan secara bertahap. Misalnya, dengan tetap mengakui prestasi, dedikasi, atau warisan positif yang pernah diukir sang idola.
Ini penting agar fans tidak merasa seluruh hidup dan kekaguman mereka selama ini adalah sebuah kebohongan sia-sia. Selain itu, kasus korupsi dapat dibingkai sebagai tragedi keserakahan dan kelengahan moral. Dengan narasi ini pesan yang disampaikan ialah bahkan orang terbaik pun bisa jatuh jika melanggar nilai-nilai kebenaran.
Apakah media kita telah mengadopsi pendekatan ini saat memberitakan kasus-kasus korupsi? Model yang dikembangkan Jack Lule kini sudah bisa menjadi bekal bagi Anda untuk melakukan penilaian. Dengan demikian, kita turut membantu pemberantasan korupsi. ###





Komentar (0)