New York: Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres memperingatkan bahwa konflik di kawasan Teluk telah berkembang dari krisis regional menjadi sumber ketidakstabilan global, setelah enam bulan eskalasi militer yang mengganggu perdagangan internasional dan pasar energi.
Dalam pernyataannya pada Jumat, Guterres mengatakan perdagangan melalui Selat Hormuz mengalami kemerosotan tajam, sementara gangguan pada pasar energi telah memicu kenaikan harga pangan dan pupuk di berbagai negara.
"Di seluruh dunia, kita melihat keluarga kesulitan menyediakan makanan di meja makan, para petani tidak mampu membeli kebutuhan dasar untuk bertani, dan negara-negara yang rentan semakin terdorong ke jurang krisis," ujar Guterres, dikutip dari Yeni Safak, Sabtu, 1 Agustus 2026.
Ia memperingatkan jutaan orang berisiko kembali jatuh ke dalam kemiskinan akibat terganggunya rantai pasok global yang terus berada di bawah tekanan. Serukan Penghentian Konflik Guterres mendesak seluruh pihak segera menghentikan permusuhan dan memulihkan sepenuhnya hak pelayaran internasional di kawasan.
"Izinkan saya menegaskan dengan jelas: Pertempuran harus dihentikan," katanya.
Menurut Guterres, hak dan kebebasan navigasi internasional di Selat Hormuz maupun Selat Bab al-Mandab harus dipulihkan sepenuhnya, sementara penyelesaian konflik harus ditempuh melalui jalur diplomasi.
"Internasional harus memastikan hak dan kebebasan navigasi di sekitar Selat Hormuz dan Bab al-Mandab dipulihkan sepenuhnya. Diplomasi harus menjadi jalan utama," tegasnya.
Seruan tersebut disampaikan ketika operasi militer di kawasan masih terus berlangsung tanpa tanda-tanda akan mereda.
PBB memperingatkan bahwa berlanjutnya konflik akan membuat rantai pasok global semakin rentan terhadap gangguan, sekaligus memperburuk krisis ketahanan pangan yang dihadapi banyak negara berkembang.
Baca juga: Garda Revolusi Iran Tegaskan Selat Hormuz Tak Akan Dibuka Selama Ancaman AS Berlanjut





Komentar (0)