Mobil Elektrifikasi Toyota Bakal Makin "Indonesia"

viva.co.id
5 jam lalu
Cover Berita

Tangerang Selatan, VIVA – Toyota membuka peluang untuk meningkatkan kandungan lokal pada jajaran mobil elektrifikasinya di Indonesia. Langkah tersebut dilakukan seiring target pemerintah yang mendorong tingkat komponen dalam negeri (TKDN) kendaraan elektrifikasi mencapai 60 persen.

President Director PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Nandi Julyanto, mengatakan perusahaan akan mengikuti kebijakan pemerintah terkait peningkatan TKDN. Untuk mewujudkannya, Toyota akan berdiskusi dengan prinsipal mengenai komponen apa saja yang bisa diproduksi di dalam negeri.

Baca Juga :
55 Tahun Toyota Ada di Indonesia: Dampingi Kebutuhan Pelanggan lewat Land Cruiser Family dan bZ4X Touring di GIIAS 2026
Honda Cuma Jual 100 Unit Super-One di Indonesia

"Kalau pemerintah memutuskan seperti itu, tentu kita akan ikuti. Sehingga kita berbicara dengan headquarter apa yang bisa kita lokalisasi untuk mencapai itu," ujarnya, dikutip VIVA Otomotif di GIIAS 2026, Jumat 31 Juli 2026.

Saat ini, rata-rata TKDN kendaraan elektrifikasi Toyota berada di kisaran 40 persen. Menurut Nandi, perusahaan tengah mengkaji berbagai langkah agar angka tersebut dapat ditingkatkan sesuai target yang ditetapkan pemerintah.

Ia menjelaskan, proses lokalisasi tidak hanya bergantung pada kesiapan pabrikan, tetapi juga harus mempertimbangkan skala ekonomi. Semakin besar volume produksi, semakin besar pula peluang suatu komponen diproduksi di Indonesia.

"Selama volumenya bisa mencapai skala ekonomis, kita akan lakukan. Tapi kalau memang menjadi kebijakan pemerintah, tentu akan kita diskusikan bagaimana cara mencapainya," katanya.

Salah satu langkah yang tengah dipersiapkan Toyota adalah memproduksi battery cell di Indonesia. Menurut Nandi, pengembangan tersebut saat ini masih difokuskan untuk kendaraan hybrid karena volumenya sudah lebih besar dibanding mobil listrik berbasis baterai murni atau battery electric vehicle (BEV).

Ia menjelaskan bahwa pengalaman memproduksi battery cell untuk hybrid nantinya dapat menjadi modal ketika permintaan baterai untuk BEV meningkat. Dengan begitu, proses pengembangannya tidak perlu dimulai dari awal.

"Saat ini baterai itu adalah untuk hybrid karena skala volumenya sudah ekonomis. Kalau suatu saat dikembangkan menjadi baterai BEV, tentu akan lebih cepat dibanding memulai dari nol," tuturnya.

Selain mendukung kebutuhan pasar domestik, peningkatan kandungan lokal juga dinilai penting untuk menjaga daya saing industri otomotif nasional. Nandi menilai Indonesia perlu terus memperkuat rantai pasok agar investasi yang sudah masuk dapat berkembang sekaligus menciptakan nilai tambah di dalam negeri.

Baca Juga :
Terpopuler: Kia Seltos Baru, Toyota Bawa 3 Mobil ke GIIAS 2026, hingga Geely Coolray Resmi Dijual
MG Buka Harga ZS Hybrid+, Varian Termurah Dijual Rp299,9 Juta
Ternyata Bikin Hot Wheels Tak Semudah Diperkecil, Ada Proses Rumit di Baliknya

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
GAC Indonesia Tawarkan Pengiriman Ekspress untuk Pembelian Unit di GIIAS 2026
• 2 jam lalu
0
thumb
Apapun Keterbatasan APBN, MK Ingatkan Anggaran Pendidikan 20 Persen Tidak Boleh Dikurangi
• 13 jam lalu
0
thumb
Polisi Ungkap Penculikan Jesslyn: Dibawa oleh Orang-orang Suruhan Ibunya
• 2 jam lalu
0
thumb
DPR Minta Pemerintah Segera Salurkan Kurang Bayar DBH ke Daerah untuk Atasi Masalah Gaji Pegawai
• 21 jam lalu
0
thumb
Harga Komoditas Kompak Naik: Batu Bara, CPO hingga Nikel
• 10 jam lalu
0
Berhasil disimpan.