Washington: Spanyol berhasil membalikkan gelombang besar migran yang memasuki wilayah kantong Ceuta di Afrika Utara, dengan sebagian besar dari sekitar 50.000 orang yang menyeberangi perbatasan melalui jalur darat dan laut telah kembali ke Maroko secara sukarela.
Kementerian Dalam Negeri Spanyol pada Jumat kemarin mengatakan bahwa sekitar 50.000 orang memasuki Ceuta sejak Kamis pagi. Hingga pukul 18.00 waktu setempat, sekitar 48.300 di antaranya telah kembali ke Maroko.
Dilansir dari TRT World, Sabtu, 1 Agustus 2026, Kepala Pemerintahan Ceuta Juan Jesus Vivas memperkirakan jumlah migran yang menyeberang dalam dua hari terakhir mencapai sekitar 60.000 orang.
Di tengah proses pemulangan tersebut, otoritas Spanyol mengonfirmasi sedikitnya 57 jenazah telah ditemukan di sisi perbatasan wilayah Ceuta. Pemerintah memperingatkan jumlah korban dapat bertambah karena diduga masih ada korban di wilayah Maroko.
Menurut pemerintah, sebagian korban tenggelam ketika berusaha menyeberang melalui laut, sementara lainnya tewas akibat terhimpit saat mencoba memanjat pemecah ombak yang menjadi bagian dari pagar perbatasan. Bentrokan di Perbatasan Pasukan keamanan Maroko menggunakan pentungan dan gas air mata untuk membubarkan kerumunan yang berusaha memasuki Ceuta melalui gerbang perbatasan.
Jurnalis Reuters di lokasi menyaksikan polisi antihuru-hara Maroko menembakkan gas air mata ke arah massa, sementara kendaraan meriam air dikerahkan untuk mengendalikan situasi. Sisa-sisa bus dan beberapa mobil yang terbakar juga terlihat di sekitar lokasi bentrokan.
Di sisi Spanyol, kendaraan militer ditempatkan di sepanjang pagar perbatasan. Ratusan migran tampak berjalan kembali ke Maroko melalui pos pemeriksaan maupun celah-celah pagar setelah mengaku tidak memperoleh makanan maupun tempat berlindung di Ceuta.
"Sejujurnya saya bahkan tidak tahu mengapa saya datang, dan sekarang saya memutuskan kembali," kata seorang pemuda asal Tangier kepada Reuters.
Migran lainnya, Ayman, warga Larache berusia 20 tahun, mengatakan dirinya berenang selama lima jam untuk mencapai Ceuta.
"Tidak ada makanan di dalam Ceuta dan kami diusir dengan keras oleh tentara Spanyol," ujarnya. Picu Ketegangan di Uni Eropa Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengunjungi Ceuta pada Jumat dan menyebut gelombang penyeberangan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan wilayah Spanyol.
Ia mengatakan pemerintah mempercepat proses pemulangan para migran yang masuk secara ilegal dengan kerja sama penuh dari pemerintah Maroko.
Krisis tersebut juga memicu perbedaan pandangan di Uni Eropa. Italia mengumumkan penangguhan sementara penerapan aturan kawasan bebas perbatasan Schengen untuk perjalanan udara dan laut dari Spanyol.
Pemerintah Spanyol menilai langkah tersebut bertentangan dengan perjanjian Uni Eropa.
Partai-partai sayap kanan di sejumlah negara Eropa menyalahkan kebijakan migrasi Spanyol yang dinilai lebih longgar, termasuk program amnesti bagi ratusan ribu migran pada tahun ini.
Pemerintah Spanyol juga memanggil Duta Besar Italia sebagai bentuk protes setelah Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani menyatakan kebijakan amnesti Spanyol telah "mendorong perdagangan manusia."
Ceuta bersama Melilla merupakan dua wilayah otonom Spanyol di Afrika Utara yang menjadi satu-satunya perbatasan darat Uni Eropa dengan benua Afrika.
Kedua wilayah tersebut kerap menjadi tujuan migran yang ingin memasuki Eropa, meski skala gelombang migrasi kali ini disebut sebagai yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Baca juga: Spanyol Kerahkan Pasukan ke Ceuta setelah Ribuan Migran Masuk dari Maroko





Komentar (0)