Liputan6.com, Jakarta - Uang di tangan Numan kala itu hanya tersisa Rp 38.000. Namun, kondisi tersebut tak membuatnya membatalkan perjalanan menuju Makassar. Baginya, selama masih ada mahasiswa yang membutuhkan pendampingan skripsi, perjalanan itu tetap layak dilanjutkan.
"Aku yang penting berangkat dulu. Aku percaya kalau memang niatnya bantu orang, pasti ada jalannya," cerita Nauman kepada Liputan6.com.
Advertisement
Perjalanan semacam itu bukan hanya sekali ia jalani. Sejak memulai program bimbingan skripsi gratis pada 2025, Numan terus berpindah dari satu kota ke kota lain untuk menemui mahasiswa yang membutuhkan pendampingan. Hingga kini, ia telah mendatangi sedikitnya 26 kota di Pulau Jawa, Sumatera, dan Sulawesi.
Keputusan itu bermula dari pengalamannya membuka layanan bimbingan skripsi berbayar di Bandung pada 2023. Meski berjalan cukup baik, ia mulai menyadari tidak semua mahasiswa memiliki kemampuan ekonomi untuk mengikuti bimbingan.
Kegelisahan tersebut membuatnya mengambil keputusan yang mengubah arah perjalanannya. Ia menghentikan sistem berbayar dan memilih memberikan bimbingan secara gratis.
"Enggak semua mahasiswa punya uang. Aku takut nanti ditanya kenapa ilmu yang bisa membantu orang justru harus terus dibayar," ungkap dia.
Keputusan itu kemudian berkembang menjadi perjalanan keliling Indonesia. Nauman mengaku ide tersebut tidak disusun melalui perencanaan panjang. Baginya, selama niat yang dijalankan tidak merugikan orang lain, tidak ada alasan untuk menunda.
"Kalau aku kepikiran sesuatu dan enggak ada kerugian bagi siapa pun, ya kenapa enggak dijalankan aja?," jelas Numan.
Perjalanan pertamanya dimulai sekitar Oktober 2025 menuju Pandeglang dan Serang, Banten. Berbekal dana seadanya, ia mulai mendatangi mahasiswa yang meminta bimbingan secara langsung. Biaya perjalanan hingga kini masih ia penuhi dari bimbingan daring yang dibayar mahasiswa secara sukarela atau seikhlasnya.
Menurut Numan, ia tak pernah menjadikan perjalanan tersebut sebagai ajang berlibur. Bahkan, satu permintaan bimbingan saja sudah cukup menjadi alasan baginya untuk berangkat ke sebuah kota.
"Kalau ada yang mau bimbingan satu orang aja, aku berangkat," cerita dia.
Tak Selalu MulusPerjalanan itu tidak selalu berjalan mulus. Selain keterbatasan biaya, ia juga harus berpindah dari satu kota ke kota lain dalam waktu yang singkat mengikuti permintaan mahasiswa.
Meski demikian, kondisi tersebut tak pernah membuatnya mengurungkan langkah.Baginya, perjalanan ini bukan sekadar berpindah tempat, melainkan upaya membuka akses pendampingan bagi mahasiswa yang membutuhkan.
Di setiap kota yang disinggahinya, selalu ada cerita baru yang ia temui. Beragam pengalaman itu pula yang kemudian memberinya gambaran tentang perjuangan mahasiswa dari berbagai daerah dalam menyelesaikan skripsi.
Melalui Program Bimbingan Skripsi Gratis Keliling Indonesia, Numan menemukan bahwa kesulitan mahasiswa menyelesaikan skripsi tidak selalu disebabkan oleh kurangnya kemauan untuk belajar.
"Problem mahasiswa tuh bukan serta merta atau selalu dari anaknya yang malas. Yang pertama itu kurangnya arahan. Terus yang kedua adalah faktor eksternal mereka yang juga banyak sekali," kata dia.
Menurut Numan, banyak mahasiswa menghadapi berbagai kondisi selama kuliah, mulai dari harus bekerja, membantu keluarga, hingga menjalani tanggung jawab lain di luar pendidikan.
Melihat kondisi tersebut, dia berusaha membantu mahasiswa agar tidak berjalan sendiri dalam proses penyusunan skripsi. Pendampingan yang diberikan tidak hanya berkaitan dengan teknis penelitian, tetapi juga membantu mahasiswa memahami langkah yang harus dilakukan hingga menyelesaikan tugas akhirnya.





Komentar (0)