Evan, calon suami atlet golf Jesslyn Wijaya, terus berjuang dan menempuh berbagai upaya hukum untuk menemukan keberadaan calon istrinya yang hilang kontak selama lebih dari dua pekan.
Siang ini Evan dan kuasa hukumnya, Andi Darti, mendatangi Komnas Perempuan untuk meminta perlindungan dan bantuan penanganan kasus dugaan perampasan kemerdekaan tersebut.
"Saya hanya memperjuangkan hak asasi manusia atas Jesslyn dan hak Jesslyn sebagai perempuan dewasa yang sudah berumur 32 tahun untuk bisa menentukan pilihannya sendiri, menentukan hidupnya sendiri, mandiri," tegas Evan saat ditemui wartawan di Kantor Komnas Perempuan, Jumat (31/7).
Evan menyampaikan, upayanya mendatangi Komnas Perempuan ini dilakukan agar Jesslyn dapat terbebas dari segala bentuk ancaman dan pengekangan yang merenggut hak-hak dasarnya sebagai manusia.
"Tanpa ada ancaman atau intimidasi dari pihak mana pun. Jadi Jesslyn ini bisa hidup seperti layaknya manusia normal, manusia dewasa, hidup di negara Indonesia ini," ujar Evan.
Langkah ini diambil Evan didasari oleh rasa khawatir mendalam terhadap keselamatan jiwa Jesslyn. Pasalnya, Evan mengaku tahu betul rekam jejak penderitaan calon istrinya yang disebutnya pernah dikurung dan dirampas seluruh alat komunikasinya oleh pihak keluarga pada rentang April hingga Oktober 2025 lalu.
"Jadi laporan itu Jesslyn ada di rumah ibunya. Kemudian Jesslyn handphonenya dirampas, laptopnya juga disita oleh ibunya, sehingga Jesslyn tidak punya alat komunikasi apa pun untuk berhubungan dengan saya atau pun dengan teman-temannya," kata Evan.
Evan membeberkan, pengekangan ketat tanpa akses gawai di masa lalu tersebut, kata Evan, pernah membuat kondisi mental Jesslyn tertekan hebat hingga mengalami depresi berat.
"Dan Jesslyn, intinya Jesslyn selama 6 bulan lebih di rumah tidak bisa ngapa-ngapain kecuali baca buku dan nonton TV. Sehingga dia depresi sekali dan sudah tiga kali melakukan percobaan bunuh diri karena sudah tidak kuat dengan perlakuan ibunya terhadapnya," tutur Evan.
Kini, meski menghadapi tembok tebal karena Komnas Perempuan dan UPTD PPA terkendala dalam menghubungi Jesslyn akibat gawai korban kembali dirampas, Evan menegaskan tidak akan berhenti berikhtiar.
"Nah, kita lihat lagi nanti dari Komnas Perempuan, nanti akan melakukan tindakan apa. Mereka juga akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian juga ya," pungkas Evan.
Komnas Perempuan Terkendala
Kuasa hukum calon suami Jesslyn, Andi Darti mengatakan, Komnas Perempuan menghadapi kendala serius dalam memberikan pendampingan terhadap Jesslyn karena seluruh akses komunikasi korban terputus total.
Situasi tersebut membuat Komnas Perempuan sulit memantau keselamatan korban yang sebelumnya disebut pernah mengalami depresi berat hingga mencoba mengakhiri hidup akibat pengekangan keluarga.
"Komnas Perempuan akan mengupayakan melakukan upaya-upaya mendampingi ya, tetapi kan dalam hal ini pihak Komnas juga keberatan karena kan Jesslyn-nya sendiri itu tidak bisa dihubungi," ujar Andi Darti di kesempatan yang sama.
Andi menjelaskan, laporan mengenai dugaan perampasan kemerdekaan sebenarnya sudah pernah ditindaklanjuti sejak tahun lalu. Namun, proses perlindungan selalu terhalang lantaran gawai milik Jesslyn diduga dirampas sehingga ia diisolasi dari dunia luar.
"Sebenarnya dari pihak Komnas Perempuan itu sudah memberikan akses kepada Jesslyn, tetapi karena memang handphone-nya tidak ada, saat ini dia tidak memegang handphone, dari Komnas Perempuan tidak bisa mengakses, tidak bisa berkomunikasi dengan Jesslyn," ungkap Andi.
Kekhawatiran terhadap kondisi psikologis Jesslyn turut diperkuat oleh keterangan calon suaminya, Evan. Ia membeberkan bahwa pola pengekangan ketat dan penyitaan gawai oleh pihak keluarga ini pernah terjadi sebelumnya pada rentang April hingga Oktober 2025 lalu.
"Jadi laporan itu Jesslyn ada di rumah ibunya. Kemudian Jesslyn handphonenya dirampas, laptopnya juga disita oleh ibunya, sehingga Jesslyn tidak punya alat komunikasi apa pun untuk berhubungan dengan saya ataupun dengan teman-temannya juga," kata Evan.
Evan menambahkan, pengisolasian total tersebut membuat Jesslyn tidak bisa melakukan aktivitas normal, dilarang bekerja, hingga mengalami tekanan mental yang luar biasa di dalam rumah.
"Kemudian ada iPad juga dirampas juga. Kemudian Jesslyn tidak boleh keluar sendiri tanpa didampingi oleh ibunya. Kemudian Jesslyn tidak bisa melakukan hobinya, kemudian juga ada pekerjaan-pekerjaan dia yang kliennya sudah bayar waktu itu, kemudian oleh ibunya disuruh refund," jelas Evan.
Polisi: Jesslyn Diduga Dibawa Orang-orang Suruhan Ibunya
Polres Metro Jakarta Pusat mengungkap fakta baru terkait dugaan penculikan atlet golf Jesslyn Wijaya. Informasi terbaru yang diterima polisi, Jesslyn dibawa oleh orang-orang suruhan ibunya saat meninggalkan Indonesia.
Kita tahu, sudah tahu. Ada orang-orang yang disuruh oleh ibunya, ibunya Jesslyn yang suruh. Nah, sekarang kita tinggal bagaimana penerimaan Jesslyn terhadap kegiatan atau peristiwa tersebut," ujar Kasat Reskrim Polres Jakarta Pusat, AKBP Roby Heri Saputra kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jumat (31/7).
Roby mengatakan, polisi menerima informasi mengenai jejak Jesslyn sebagai berikut; dari lokasi 'penculikan' di kawasan Sawah Besar, Jakpus, lalu ke Semarang, Malaysia, dan berakhir di Bangkok Thailand.
"Jesslyn kami dapat informasi dia mulai dari TKP, terus kemudian ke Semarang. Kemudian naik pesawat dari Bandara Ahmad Yani ke Malaysia, lanjut ke Bangkok. Itu bersama dengan ibunya dan tantenya," ungkapnya.
Ia mengatakan, keberadaan Jesslyn, diterima polisi dari sebuah video testimoni. Namun hingga kini polisi masih meminta komunikasi lewat video call dengan Jesslyn, untuk mencari tahu apakah ia dibawa paksa atau pergi secara sukarela.
"Untuk keberadaannya, ya, sudah ada video testimoni. Namun, kami masih meminta untuk komunikasi langsung by Zoom meeting atau melalui video call kepada Jesslyn. Kita jadwalkan hari ini sudah bisa berhubungan atau bersentuhan langsung dengan Jesslyn yang sedang berada di luar negeri melalui Zoom meeting dan video call," ungkap Roby.






Komentar (0)