Membaca Deschooling Society: Ramalan tentang Kiamat Dunia Pendidikan

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Ada satu kebiasaan yang barangkali tidak pernah kita curigai setiap kali berbicara tentang pendidikan, yang pertama kali muncul di kepala kita selalu sekolah. Seolah-olah keduanya adalah saudara kembar yang lahir dari rahim yang sama. Padahal, kalau dipikir-pikir, manusia sudah belajar ribuan tahun sebelum ada ruang kelas, seragam, upacara bendera, apalagi rapor dengan tanda tangan kepala sekolah.

Jauh sebelum sekolah berdiri, manusia telah belajar dari alam, dari pengalaman, dari percakapan, dan dari kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan sendiri. Socrates mengajar di jalanan Athena, para pelaut Nusantara membaca bintang tanpa pernah mengenal kurikulum nasional. Namun, entah sejak kapan kita menjadi begitu percaya bahwa seseorang baru boleh disebut "berpendidikan" setelah melewati gerbang sekolah selama belasan tahun.

Barangkali inilah lelucon terbesar yang berhasil dijual oleh peradaban modern bahwa kita tidak hanya membangun sekolah, tetapi juga membangun keyakinan bahwa tanpa sekolah, manusia hampir mustahil menjadi pintar.

Ivan Illich rupanya tidak membeli lelucon itu. Ketika menerbitkan Deschooling Society pada 1971, dia seperti tamu yang datang ke pesta ulang tahun lalu bertanya mengapa semua orang merayakan sesuatu yang belum tentu benar. Saat pemerintah di berbagai negara berlomba membangun sekolah, memperpanjang wajib belajar, dan mengukur kemajuan bangsa dari angka partisipasi pendidikan, Illich justru bertanya dengan nada yang nyaris usil: jangan-jangan sekolah bukan obat bagi kebodohan, melainkan pabrik yang memproduksi ilusi tentang pendidikan.

Tentu saja banyak yang tersinggung. Mengkritik sekolah pada masa itu hampir sama nekatnya dengan mengkritik demokrasi hari ini. Terlalu berisiko, terlalu tidak populer, dan terlalu mudah dicap sebagai orang yang tidak memahami pentingnya pendidikan.

Masalahnya, Illich tidak pernah mengatakan bahwa belajar itu buruk. Dia hanya curiga bahwa sekolah telah mengambil alih hak manusia untuk belajar secara alami. Anak kecil pada dasarnya adalah makhluk yang paling rakus bertanya. Mereka bertanya mengapa langit berwarna biru, mengapa semut berbaris, mengapa hujan turun, bahkan mengapa orang dewasa sering melarang hal-hal yang mereka sendiri lakukan.

Anehnya, setelah bertahun-tahun berada di sekolah, sebagian besar rasa ingin tahu itu justru menguap. Pertanyaan berubah menjadi jawaban pilihan ganda. Keingintahuan berubah menjadi target nilai. Belajar berubah menjadi pekerjaan administratif yang harus diselesaikan sebelum bel pulang berbunyi. Kalau Illich masih hidup hari ini, mungkin dia akan tersenyum sinis melihat betapa efektifnya sekolah mengajarkan satu pelajaran yang tidak pernah tertulis di kurikulum: jangan bertanya terlalu banyak, nanti mengganggu jalannya pembelajaran.

Kecurigaan Illich ternyata tidak semakin tua. Justru sebaliknya, seperti anggur yang semakin lama disimpan semakin terasa kuat. Lihat saja apa yang terjadi sekarang. Orang tua mengeluarkan biaya puluhan juta rupiah demi mengejar sekolah favorit, mahasiswa berlomba mengumpulkan sertifikat, dosen mengejar angka kredit, sementara perusahaan mulai bertanya dengan nada dingin, "Baik, Anda punya tiga gelar. Sekarang tunjukkan apa yang bisa Anda kerjakan." Dunia kerja pelan-pelan mulai bersikap lebih jujur daripada dunia pendidikan.

Gelar memang membuka pintu, tetapi kemampuanlah yang membuat seseorang tetap berada di dalam ruangan. Tidak mengherankan jika Indonesia pun mulai merasakan paradoks itu. LPEM FEB UI pernah menyoroti adanya sekitar 6.000 lulusan magister dan doktor yang belum memperoleh pekerjaan. Tentu angka itu bukan bukti bahwa kuliah tidak penting.

Namun, hal itu cukup menjadi tamparan bahwa ijazah bukanlah jimat yang otomatis mengusir pengangguran. Kalau gelar adalah segalanya, semestinya para pemegang gelar tertinggi menjadi kelompok yang paling tenang menghadapi pasar kerja. Kenyataannya, dunia tidak pernah sesederhana itu.

Lalu datanglah kecerdasan buatan, tamu baru yang membuat ruang guru, ruang rapat kementerian, dan ruang diskusi para akademisi sama-sama gelisah. AI melakukan sesuatu yang selama puluhan tahun dianggap sebagai wilayah eksklusif sekolah. AI menjelaskan materi dengan sabar, menjawab pertanyaan tanpa menghela napas, memperbaiki tulisan tanpa mengomel, bahkan bersedia mengulang penjelasan berkali-kali tanpa pernah berkata, "Coba baca lagi bukunya." Kalau dahulu pengetahuan harus didatangi, kini pengetahuan yang datang menghampiri kita.

Ironisnya, yang panik bukan murid, melainkan sistem pendidikan yang sejak lama merasa menjadi pemilik tunggal jalur menuju ilmu. AI seperti anak baru yang masuk kelas pada pertengahan semester, tetapi tiba-tiba mampu menjawab hampir semua pertanyaan guru. Wajar kalau sebagian orang mulai gelisah. Bukan karena AI terlalu pintar, melainkan karena memperlihatkan bahwa banyak hal yang selama ini dianggap tidak tergantikan ternyata bisa dikerjakan dengan cara yang berbeda.

Di sinilah saya merasa Illich sedang tertawa pelan dari balik halaman bukunya. Sejak awal dia tidak sedang meramalkan robohnya gedung sekolah, namun meramalkan runtuhnya monopoli sekolah atas pengetahuan. Selama dua abad terakhir, sekolah berdiri di atas asumsi bahwa informasi itu langka sehingga harus dikumpulkan dalam satu tempat, lalu dibagikan oleh orang yang disebut guru kepada mereka yang disebut murid.

AI membalik logika itu hanya dalam beberapa tahun. Informasi kini berlimpah. Yang menjadi langka justru kemampuan membedakan mana pengetahuan, mana kebisingan. Mana fakta, mana halusinasi. Serta mana argumen, mana propaganda. Tugas pendidikan pun bergeser. Persoalannya bukan lagi bagaimana membuat murid menghafal isi buku, melainkan bagaimana membuat mereka tidak mudah percaya pada apa pun yang muncul di layar.

Karena itu, pertanyaan yang sesungguhnya bukanlah apakah AI akan menggantikan guru. Pertanyaan itu sudah terasa usang bahkan sebelum selesai diucapkan. Pertanyaan yang lebih penting adalah, apakah sekolah masih mau berubah ketika dunia sudah berubah lebih dulu? Sebab sejarah tidak pernah kejam kepada institusi yang kecil. Sejarah hanya kejam kepada institusi yang terlalu percaya diri bahwa dirinya akan selalu dibutuhkan.

Surat kabar mengalaminya setelah internet lahir. Sekolah pun bisa mengalami hal yang sama apabila tetap mengira bahwa tugas utamanya hanyalah menyampaikan informasi. Padahal, informasi kini ada di mana-mana. Yang semakin mahal justru kebijaksanaan, empati, kemampuan berdialog, dan keberanian berpikir mandiri.

Mungkin inilah ironi yang paling jenaka sekaligus paling menyakitkan. Selama bertahun-tahun kita mengira sekolah sedang mempersiapkan anak menghadapi masa depan. Ternyata yang lebih sering terjadi justru sebaliknya, masa depan datang lebih cepat daripada sekolah sempat memperbarui dirinya.

Ivan Illich melihat gejala itu ketika internet bahkan belum lahir. Hari ini, AI membuat ramalannya terdengar seperti laporan cuaca, bukan lagi spekulasi filsafat. Barangkali kiamat yang dimaksud Illich memang bukan kiamat pendidikan. Yang sedang sekarat adalah kesombongan sebuah sistem yang terlalu lama mengira dirinya identik dengan pendidikan itu sendiri. Dan seperti semua kesombongan dalam sejarah manusia, yang tidak dihancurkan oleh musuh dari luar. Namun perlahan runtuh karena dunia akhirnya menemukan cara belajar yang tidak lagi meminta izin kepada tembok-tembok sekolah.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Peneliti Lingkungan Dukung Kebijakan Pemkot Makassar, Pilah Sampah Harus Dimulai dari Rumah
• 19 jam lalu
0
thumb
Sekjen Kemendagri: Transformasi Satpol PP Perlu Pendekatan Humanis
• 4 jam lalu
0
thumb
Kementerian PPN Gandeng KPK Mengawal Penggunaan Dana Otonomi Khusus Papua demi Perkuat Tata Kelola
• 11 jam lalu
0
thumb
Bursa Transfer AC Milan: Ethan Nwaneri Masuk Radar Rossoneri, Ruben Amorim Tunggu Situasi Rafael Leao
• 20 jam lalu
0
thumb
Motif Atlet Golf Jesslyn Diculik Ibu Sendiri: Gegara Pacaran!
• 1 menit lalu
0
Berhasil disimpan.