Berjibaku Mendata Ekonomi Warga Hingga ke Pulau Terluar

kompas.id
12 jam lalu
Cover Berita

Norma Do Hina (33), menggeber sepeda motor di atas jalan setapak berbatu yang membelah punggung bukit. Dipayungi suhu sekitar 35 derajat Celsius, ia menembus padang dengan rerumputan meranggas menuju Desa Loborui di Kecamatan Liae, Pulau Sabu, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur, 3 Juli 2026.

Setelah memarkir sepeda motor di puncak bukit, Norma jalan kaki menuruni tebing menuju sebuah rumah panggung. Dari kejauhan tampak dinding dari pelepah lontar dengan atap alang-alang. Rumah itu berdiri di dasar jurang, jauh dari rumah lain sebagaimana pola permukiman setempat. Jarak terdekat antararumah sekitar 500 meter.

Dalam bahasa daerah Sabu, Norma memanggil tuan rumah. Tanpa suara, sesosok perempuan lanjut usia dengan kain sarung menuruni tangga rumah panggung. Saat melihat tampang Norma yang lengkap dengan seragam, nenek itu kaget. Dengan wajah tegang, ia hendak masuk kembali ke rumah.

Baca JugaSensus Ekonomi 2026 Diwarnai Ketakutan Warga Akan Kenaikan Pajak, BPS Jamin Data Dilindungi

"B'hole meda'u," ujar Norma dalam bahasa Sabu yang artinya jangan takut. Ia lalu menjelaskan maksud kedatangannya. Mendata warga dalam program Sensus Ekonomi 2026 yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik. Norma adalah petugas sensus di lapangan.

Suasana cair. Nenek itu pun merespons. Namanya Li Tuka. Li tak tahu pasti usianya. Di kartu keluarga, tertulis lahir tahun 1960. Tanya jawab dalam sensus itu menggunakan bahasa daerah Sabu. Norma mengetik jawaban Li di telepon genggam dan sebagian ia tulis di kertas.

Li menunjuk satu per satu aset yang ditanya Norma. Satu unit rumah panggung berbahan pelepah dan alang-alang, kambing tiga ekor, dan ayam sepuluh ekor. Saat ditanya aset tanah, ia menunjukkan hampar lahan. Tak terhitung berapa ukurannya.

Saat ditanya air bersih, raut wajah Li berubah sendu. "Di sini susah air," ujarnya. Untuk mendapatkan air, mereka harus jalan kaki ke bukit di sebelahnya sekitar 1,5 kilometer. Terlebih pada musim kemarau, mereka bisa tidak mandi selama berhari-hari karena debit air menurun. "Pokoknya bisa minum," timpal dia lagi.

Selesai tanya jawab, Norma mengambil dokumentasi yang diwajibkan dalam sensus. Rumah tampak depan serta ruang tamu tampak dinding dan lantai. Ia juga memotret Li yang sendirian tinggal di rumah itu. Sensus pun selesai. Hanya 20 menit.

Baca JugaSensus Ekonomi 2026 Manual Berlangsung 15 Juni-31 Agustus

Melihat Norma berkemas dan hendak pulang, Li bertanya dengan raut wajah serius. Untuk apa data itu? Ia khawatir, jangan sampai gara-gara data itu, ia tidak lagi mendapatkan bantuan dari pemerintah. Namanya dikeluarkan dari daftar warga miskin. "Oma (nenek) masuk kategori miskin. Tetap dapat bantuan," jawab Norma.

Li merupakan salah satu warga yang berkesan di mata Norma. Rumahnya di lokasi terpencil sehingga butuh perjuangan untuk menemuinya. Li sosok yang polos dan apa adanya. Norma pun berpamitan kembali ke Seba, ibu kota Kabupaten Sabu Raijua, yang berjarak sekitar 20 kilometer dari rumah Li.

Kabupaten Sabu Raijua terdiri dari Pulau Sabu seluas 412 kilometer persegi dan Pulau Riajua seluas 36 kilometer persegi. Dua pulau mungil itu berada di selatan NTT, dikepung Samudra Hindia dan Laut Sawu. Dari Kupang, waktu pelayaran ke Sabu paling cepat 11 jam. Ada penerbangan perintis namun jadwalnya sering tidak menentu.

Serial Artikel

Setia Merawat ODGJ di Sabu, Pulau Terluar di Tepian Samudra Hindia

Di tengah keterbatasan, perawat memberi diri bagi pasien ODGJ. Mereka merawat pasien hingga mengurus administrasi kependudukan agar terakomodasi dalam program JKN.

Baca Artikel

Sinyal sulit

Harlando Hae Dara (30), petugas lapangan juga punya pengalaman menantang saat melakukan sensus di Pulau Raijua. Pulau itu dicapai dengan berlayar sekitar 2 jam dari Pulau Sabu. Ketika musim angin kencang seperti saat ini, mereka berjibaku melewati hadangan gelombang tinggi.

Tidak hanya itu, jaringan internet menjadi tantangan berikutnya. Di beberapa desa, sinyal internet hanya ada di titik tertentu. Tak boleh bergeser, sebab sinyal akan hilang. Dalam nada candaan, mereka menyebutnya sinyal GSM. Singkatan dari geser sedikit mati.

Dalam sensus itu, mereka memasukkan data langsung ke aplikasi di telepon genggam. Prosesnya berlangsung secara daring. "Kami bersyukur karena sistem ini memungkinkan pengisian secara offline. Ini membantu," katanya. Ketika terdeteksi sinyal internet, data-data itu terkirim secara otomatis.

Namun, data rekaman lokasi yang diwajibkan dalam sensus, tidak bisa diambil secara offline. Bagi rumah yang tak ada jaringan internet, petugas menyiasatinya dengan sudah mulai merekam sebelum mencapai lokasi rumah. Oleh karena itu, mereka harus melakukan survei sinyal internet terlebih dahulu sebelum dilakukan sensus.

Sama seperti Norma, Harlando juga masih sering mendapati warga yang ketakutan ketika ia datangi. Alasan mereka, jangan sampai data yang diambil petugas menggugurkan mereka dari data orang miskin. Mereka takut tidak lagi mendapat bantuan dari pemerintah. "Makanya, ada yang menolak," kata Harlando.

Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Sabu Raijua Yonsi Fredik Lian mengatakan, sebanyak 98 orang petugas lapangan serta 13 pengawas terlibat dalam Sensus Ekonomi 2026 di Kabupaten Sabu Raijua. Mereka melakukan sensus di 58 desa dan 5 kelurahan yang tersebar di 6 kecamatan.

Menurut dia, beban kerja setiap petugas lapangan berbeda tergantung situasi dan kondisi setempat. Untuk kelancaran pelaksanaan sensus, petugas yang direkrut diutamakan berdomisili di kabupaten setempat. Setidaknya bisa berkomunikasi dengan bahasa lokal.

Baca JugaSensus Ekonomi 2026 dan Jalan Panjang UMKM Naik Kelas

Pelaksanaan sensus dimulai sejak 15 Juni 2026 dan berlangsung selama dua setengah bulan. Sensus ekonomi dilakukan dari rumah ke rumah, dan dari tempat usaha ke tempat usaha. Tujuannya untuk menyediakan informasi tentang struktur ekonomi Indonesia, karekteristik usaha, serta perkembangan ekonomi digital dan lingkungan.

Selama sensus berlangsung, diakuinya, banyak tantangan dihadapi petugas lapangan mulai dari penolakan, mengalami kecelakaan di perjalanan, sampai dikejar hewan rabies. Hingga 29 Juli 2026, Sensus Ekonomi di Kabupaten Sabu Raijua sudah mencapai 70 persen dari target.

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka mengatakan, data yang akurat dalam Sensus Ekonomi 2026 menjadi fondasi penting bagi pemerintah daerah untuk menyusun rencana pembangunan. Terlebih, data kemiskinan sampai saat ini terus menuai perdebatan. Pasalnya, banyak penduduk miskin tidak tersentuh bantuan sosial. Masuk kategori daerah terpencil dari 22 kabupaten/kota di NTT, Sabu Raijua jadi perhatian serius.

Data BPS yang dirilis pada Februari 2026 menyebutkan angka kemiskinan di NTT per September 2025 mencapai 17,5 persen dari jumlah penduduk atau turun 1,1 persen poin dibandingkan dengan Maret 2025. Jumlah penduduk miskin NTT pada September 2025 mencapai 1,03 juta jiwa. Tersebar di perdesaan 919.150 jiwa dan perkotaan 112.540 jiwa.

Di tengah tingginya ekspektasi publik terhadap Sensus Ekonomi 2026, di balik itu terdapat banyak petugas yang berjibaku mengumpulkan data langsung dari lapangan. Mereka mendata kondisi ekonomi warga hingga ke ujung negeri.

Serial Artikel

Selamat Pagi Sabu, Pulau di Tepian Samudra Hindia

Pelayaran dari Kota Kupang ke Pulau Sabu lebih kurang 11 jam. Pulau Sabu berada di tepian Samudra Hindia.

Baca Artikel


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Istana Gelar Pesta Rakyat 17 Agustus di Monas: Ada Lomba-Makanan Gratis
• 8 jam lalu
0
thumb
Polisi Ungkap Progres Investigasi Kasus Kematian Satpam Jatiluhur | KOMPAS MALAM
• 22 jam lalu
0
thumb
Pendangkalan Perairan Marunda Hambat Nelayan Melaut, Warga Minta Pengerukan Lumpur
• 7 jam lalu
0
thumb
BI Catat Dana Asing Masuk Rp 195 Triliun Usai Suku Bunga Naik ke 5,75 Persen
• 8 jam lalu
0
thumb
AFC dan Concacav Kecewa dengan Rencana FIFA Jual Saham Piala Dunia
• 9 jam lalu
0
Berhasil disimpan.