Pantau - Indonesia mengeksplorasi peluang kerja sama dengan Amerika Serikat di sektor pangan, penerbangan, pertambangan, pertahanan, teknologi, hingga pengembangan Artificial Intelligence (AI) untuk memperkuat hubungan ekonomi kedua negara.
Fokus pada Investasi dan Transfer TeknologiPembahasan tersebut mengemuka dalam pertemuan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat Indroyono Soesilo dengan jajaran perusahaan Amerika di Washington pada 28 Juli 2026 atas inisiatif Dewan Bisnis AS-ASEAN.
“Hubungan ekonomi Indonesia dan Amerika Serikat tidak boleh berhenti pada angka perdagangan,” ungkap Indroyono.
“Yang jauh lebih penting adalah bagaimana perdagangan dan investasi bisa menciptakan nilai tambah, memperkuat industri nasional, membuka lapangan kerja, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan membawa teknologi baru ke Indonesia,” lanjutnya.
Pertemuan itu melibatkan sejumlah perusahaan besar Amerika Serikat seperti Boeing, Lockheed Martin, Freeport-McMoRan, Cargill, Caterpillar, PepsiCo, NVIDIA, Walmart Foundation, dan Chubb yang memiliki peluang memperluas kerja sama di berbagai sektor strategis.
NVIDIA turut berkontribusi dalam pengembangan talenta AI bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.
Nilai Perdagangan Masih Berpeluang TumbuhDirektur Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) New York Tessal Maharizky Febrian menyampaikan investasi Amerika Serikat ke Indonesia pada semester pertama 2026 mencapai sekitar 1,7 miliar dolar AS.
Pada 2025, nilai ekspor Indonesia ke Amerika Serikat tercatat sekitar 31 miliar dolar AS atau sekitar 11 persen dari total ekspor nasional, sedangkan perdagangan bilateral kedua negara mencapai sekitar 43,8 miliar dolar AS.
Komoditas utama ekspor Indonesia meliputi produk elektronika, tekstil, alas kaki, minyak sawit, furnitur, dan produk perikanan, sementara Indonesia mengimpor kedelai, kapas, gandum, pesawat terbang, mesin, produk kesehatan, bahan kimia, serta teknologi informasi dan telekomunikasi dari Amerika Serikat.
Menurut Indroyono, hubungan ekonomi kedua negara memiliki fondasi yang kuat, namun masih menyimpan ruang pertumbuhan yang besar apabila didukung peningkatan perlindungan hak kekayaan intelektual, konsistensi regulasi, efisiensi logistik, dan kualitas sumber daya manusia.
"Indonesia tidak hanya bersaing untuk mendapatkan modal, tetapi juga harus mampu menjadi tempat di mana teknologi, talenta, industri, dan rantai pasok global dapat tumbuh bersama," katanya.





Komentar (0)