Wajah Anin (51) tampak lelah. Sesekali ia menyeka keringat yang mulai membasahi mukanya. Tangan kanannya memegang tali yang mengikat sebuah ember berwarna hijau tosca yang sudah lusuh untuk mengambil air dari sebuah mata air yang hampir kering. Air itu ditampung ke dalam ember hitam dan bekas galon air mineral yang berjumlah empat buah. Setelah keempat galon penuh, ia membawa pulang dengan dibantu anaknya. Dalam sehari, ia rata-rata mengumpulkan delapan galon air.
Anin dan warga Kampung Gunung Picu, Desa Pingku, Kecamatan Parungpanjang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, setiap hari memanfaatkan mata air itu untuk keperluan air minum, mandi, dan mencuci, terutama saat musim kemarau seperti telihat pada Kamis (30/7/2026).
”Saya harus menunggu dua jam agar debit airnya bertambah sehingga bisa diambil lagi,” kata Anin menerangkan kondisi mata air. Menurut Anin, ia mengambil air dari mata air karena sumurnya sudah kering.
Tidak lama berselang, Mak Acih (65) datang ke mata air dengan membawa ember berisi cucian. Ia datang untuk mencuci bajunya. Meski lansia, Mak Acih keliatan gesit dan lincah. Dengan cekatan ia menimba air dari dasar mata air yang tinggal sedikit itu untuk mencuci. Mak Acih mengaku sumurnya hampir kering, hanya cukup untuk kebutuhan air minum saja. Sisanya ia bergantung pada mata air Gunung Picu.
”Sudah sejak dua bulan terakhir hujan tidak turun di kampung ini,” kata Mak Acih. Ia berharap hujan segera turun.
Mata air Gunung Picu sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Menurut Mak Acih, sejak kecil ia sudah akrab dengan mata air itu. Pemerintah Desa Pingku membangun kolam penampungan, toilet, dan bangunan permanen untuk memudahkan warga mencari air di mata air itu. Saat musim kemarau seperti saat ini, mata air Gunung Picu ramai didatangi warga yang mulai kesulitan air karena sumurnya kering.
Mereka bergantian mengambil air untuk keperluan harian mulai pagi hingga malam, bahkan dini hari. Menurut Anin, hanya keluarga yang mempunyai sumur bor yang tidak mencari air di mata air Gunung Picu. Untuk membuat sumur bor di Kampung Gunung Picu diperlukan pengeboran lebih dari 100 meter ke dalam tanah agar airnya jernih. Tentunya memerlukan biaya yang tidak sedikit.
”Hingga kini belum ada bantuan air bersih dari pemerintah untuk kampung ini (Gunung Picu). Kami sudah lelah Pak, kesulitan air!” ungkap Anin pasrah.
Ia sangat berharap ada bantuan air bersih untuk kampungnya, setidaknya bisa meringankan kebutuhan air bersih untuk keluarganya. Dalam sehari Anin dua kali pergi ke mata air yang berjarak 3 kilometer dari rumahnya. Ia setiap hari berjalan kaki menuju mata air tersebut. Rutinitas itu ia jalani sejak 2,5 bulan terakhir.
Kawasan Kecamatan Parungpanjang adalah salah satu kecamatan yang rawan kekeringan saat musim kemarau di Kabupaten Bogor. Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat hingga Rabu (29/7/2026), jumlah desa yang terdampak kekeringan di Jawa Barat meningkat dari 194 desa menjadi 207 desa. Sebanyak 207 desa ini tersebar di 17 kabupaten dan kota di Jabar. Daerah itu, antara lain, Bekasi, Bogor, Garut, Purwakarta, Tasikmalaya, Bandung Barat, Bandung, Kabupaten Sukabumi, Indramayu, Cianjur, Banjar, Pangandaran, dan Ciamis.
Semantara 214.381 jiwa terdampak dan mengalami krisis air bersih di 207 desa ini. Daerah terdampak paling besar adalah Kabupaten Bogor dengan jumlah 108.529 jiwa (Kompas, 29/7/2026). Di daerah terdampak kekeringan, curah hujan sangat rendah, sedangkan tanah mengering dan retak. Sumber air di sumur ataupun area mata air pun berkurang.
Mak Acih mengumpulkan air dari sebuah sumber air yang debitnya kian berkurang di Kampung Gunung Picu, Desa Pingku, Parungpanjang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (30/7/2026).
Kompas/Hendra A Setyawan
Anin megumpulkan air dari sebuah sumber air yang debitnya kian berkurang di Kampung Gunung Picu, Desa Pingku, Parunpanjang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (30/7/2026).
Kompas/Hendra A Setyawan
Ember biru menjadi peralatan untuk mengumpulkan air di mata air yang kian berkurang debitnya di Kampung Gunung Picu, Desa Pingku, Parunpanjang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (30/7/2026).
Kompas/Hendra A Setyawan
Musim kemarau yang terjadi pada 2026 diprediksi akan berlangsung lebih kering dan lebih panjang. Meningkatnya kejadian kekeringan itu terjadi ketika berbagai lembaga iklim regional memperingatkan kemungkinan berkembangnya El Nino dalam beberapa bulan ke depan. Dalam buletin ASEAN Climate Outlook yang dirilis Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) pada 10 Juni 2026, para ahli iklim ASEAN menyatakan pemanasan yang terus berlangsung di kawasan Nino dan sejumlah indikator atmosfer menunjukkan perkembangan kondisi mirip El Nino.
Mayoritas model iklim internasional memprediksi El Nino moderat akan berkembang pada periode Juni-Agustus 2026 dan berpotensi menguat menjadi El Nino kuat hingga sangat kuat pada akhir tahun. Kondisi tersebut diperkirakan menyebabkan curah hujan di bawah normal di sebagian besar wilayah Maritim Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Kompas (14/6/2026). Selain penurunan curah hujan, suhu udara di sebagian besar Asia Tenggara juga diprediksi berada di atas normal selama musim kemarau tahun ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya juga telah memperingatkan bahwa puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.
Serial Artikel
Bertahan dengan Bantuan Air Bersih Hingga Kemarau Reda
Warga di Kecamatan Wonosegoro, Boyolali, kembali didera kekeringan akibat kemarau. Warga mengandalkan kiriman bantuan air bersih untuk bertahan hidup selama kemarau.






Komentar (0)