FIFA akan Jual Saham Piala Dunia untuk Investor, Ini Alasan Banyak Dikecam

metrotvnews.com
12 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Seminggu setelah Piala Dunia 2026 usai dengan kemenangan Spanyol 1-0 atas juara bertahan Argentina, FIFA kembali memicu kontroversi.

Awal minggu ini, Presiden FIFA Gianni Infantino mengumumkan rencana untuk menjual sebagian kecil saham minoritas di perusahaan baru yang bakal mengelola ajang-ajang Sepakbola dunia, termasuk Piala Dunia dan Piala Dunia Antarklub di bawah entitas baru bernama FIFA Forward Enterprises (FFE). yang akan mengambil alih seluruh operasi komersial sepakbola dunia.
 
"Sepak bola adalah olahraga paling populer di dunia dan pendorong luar biasa bagi pembangunan manusia dan sosial," ujar Presiden FIFA Gianni Infantino, mengutip laman resmi FIFA.

"Sebagian dari industri sepak bola telah mengubah popularitas tersebut menjadi nilai komersial yang luar biasa, dan kami merayakan keberhasilan itu serta ingin melanjutkannya karena hal tersebut mengangkat seluruh ekosistem sepak bola." tambah Infantino.

Namun, rencana ini menuai kecaman dari berbagai pihak, termasuk federasi sepak bola regional seperti CONCACAF dan UEFA, yang menegaskan kembali status FIFA sebagai organisasi nirlaba.
  Apa Itu FFE? FIFA mendeskripsikan FFE sebagai "anak perusahaan baru yang dimiliki dan dikendalikan oleh FIFA untuk mengonsolidasikan operasi komersial dan penyelenggaraan acara FIFA".

Perusahaan ini akan menggabungkan seluruh kegiatan penghasil uang FIFA, mulai dari hak siar, sponsor, tiket, lisensi, hingga penyelenggaraan acara, ke dalam satu entitas yang berfokus secara komersial.

FIFA, yang tetap menjadi pengatur sepakbola dunia, berencana menjual saham minoritas hingga 20% kepada investor luar, sembari tetap memegang kendali mayoritas.

Berdasarkan laporan The Times, masing-masing dari 211 asosiasi anggota FIFA juga akan diberikan saham, yang diperkirakan bernilai sekitar USD 20 juta (sekitar Rp361 miliar).

Saham tersebut dapat mereka simpan atau jual untuk meningkatkan pendapatan federasi masing-masing. Sumber dari The Times mengklaim bahwa Infantino, diproyeksikan untuk memimpin FFE sebagai komisioner setelah masa jabatan kepresidenannya berakhir.

Infantino menyampaikan bahwa FIFA berharap FFE dapat menghasilkan pendapatan komersial yang cukup untuk mengumpulkan dana tambahan sebesar USD 20 juta pada tahun 2030.

Dana ini dialokasikan untuk pengembangan "infrastruktur, pelatihan, tim nasional, kompetisi, sepak bola akar rumput, dan sepak bola wanita" di negara-negara anggota di seluruh dunia.
  Salah Satu Investor yang Terlibat Orang Dekat Trump Rencana ini akan didanai oleh Joshua Kushner, saudara dari Jared Kushner (menantu Presiden AS Donald Trump), yang berinvestasi melalui perusahaan miliknya, Thrive Eternal. JP Morgan juga ditunjuk sebagai penasihat keuangan FIFA untuk proyek FFE.

Selain Kushner, FIFA juga menyatakan bahwa Greg Maffei, CEO Bann Ventures yang bergerak di bidang pembangunan ruang kesehatan, hotel, komersial, dan pemukiman, akan menjadi penasihat komersial utama dalam pembentukan FFE.
  Kritik Terhadap FFE
Presiden AS Donald Trump (kiri) menerima FIFA Peace Prize dari Presiden FIFA Giovanni Infantino selama pengundian final Piala Dunia FIFA 2026 di Kennedy Center di Washington DC, AS, 5 Desember 2025. (EFE)

Rencana ini memicu gelombang penolakan dari berbagai pihak. Kritik pertama tertuju pada keterlibatan Kushner.

Menurut Al Jazeera, langkah ini dinilai sebagai upaya terbaru Infantino untuk mendekatkan diri dengan Trump, setelah sebelumnya membentuk FIFA Peace Prize untuk Presiden AS tersebut dan mengizinkan intervensi anulir kartu merah striker Timnas AS, Folarin Balogun di Piala Dunia.

Para kritikus juga menilai langkah ini melanggar identitas FIFA sebagai organisasi nirlaba.

Konfederasi sepakbola regional seperti CONCACAF, yang mengelola ajang sepakbola di wilayah Amerika Utara, dan AFC, yang mengelola benua Asia, menyampaikan kekhawatiran mereka terkait proyek FFE.

"Kami sangat prihatin dengan kurangnya uji tuntas dan proses yang patut (due process)," ungkap CONCACAF dalam pernyataan resminya, mengutip Al-Jazeera

Kritik lainnya datang dari UEFA, yang mewakili 55 negara anggota di Eropa, yang juga dilaporkan tengah membahas wacana memboikot Piala Dunia jika proyek tersebut dilanjutkan.

"Jiwa dan tata kelola sepak bola bukanlah aset untuk diperdagangkan, terutama tanpa transparansi mengenai siapa yang diuntungkan secara finansial. Tidak ada satu pun dari kita yang merupakan pemilik sepak bola. Sepak bola bukan milik FIFA untuk dijual," tegas UEFA melalui pernyataan di platform X.
  Pembentukan FFE Butuh Persetujuan Negara Anggota Sebelum proyek ini dapat direalisasikan, 211 negara anggota FIFA harus melakukan pemungutan suara (voting) terhadap proposal pembentukan FFE.

Mengutip The National, proposal tersebut akan dibahas oleh Dewan FIFA pada akhir tahun 2026, meski jadwal pastinya belum diumumkan.

Jika Dewan FIFA menyetujuinya, proposal akan dibawa ke Kongres FIFA di Maroko pada Maret 2027 untuk diputuskan melalui pemungutan suara oleh asosiasi anggota.

Infantino menegaskan bahwa keputusan mengenai pembentukan FFE akan dilakukan secara demokratis. Persetujuan membutuhkan dua syarat: (1) dukungan dari mayoritas (lebih dari 50%) dari 211 negara anggota, dan (2) persetujuan dari Dewan FIFA.
 

Baca Juga :

Kenapa India dan Pakistan Ikut FIFA ASEAN Cup 2026? Ini Alasannya
 
Jika Tidak Disetujui, Dana Negara Anggota Berkurang Mengutip ABC News Australia, jika FFE disetujui, negara anggota berkesempatan mendapatkan akses ke peluang finansial tambahan.

Masing-masing dari 211 negara anggota bisa mendapatkan dana hingga USD 40 juta untuk siklus 2027–2030. Dana ini terdiri dari dana hibah sekaligus Fast-Forward hingga USD 20 juta serta dana pengembangan FIFA Forward sebesar USD 20 juta.

Jumlah ini diproyeksikan akan terus meningkat menjadi USD 22 juta untuk siklus 2031–2034 dan USD 24 juta untuk siklus 2035–2038.

Namun, jika proposal ini ditolak, berdasarkan surat dari Infantino kepada negara anggota yang diperoleh The Times, setiap negara hanya akan menerima kenaikan dana yang jauh lebih kecil. Mereka diperkirakan hanya akan memperoleh dana sekitar USD 10 juta per asosiasi dari total paket sebesar USD 2,7 miliar, daripada USD 10 miliar.

"Jika Anda berkenan untuk melanjutkan, paket sebesar USD 10 miliar ini akan tersedia mulai 1 Januari 2027, menandai fase berikutnya dari perjalanan kita bersama," tulis Infantino dalam surat tersebut.

"Sebagai imbalannya, yang kami butuhkan hanyalah kepercayaan Anda yang berkelanjutan, sisanya tetap tidak berubah," tambahnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Strategi Xabi Alonso Rekrut Pemain Berpengalaman untuk Chelsea
• 22 jam lalu
0
thumb
PGE Raup Laba Bersih USD 79,6 Juta Kuartal II 2026, Tumbuh 15,48 Persen
• 5 jam lalu
0
thumb
Mendagri: DBH Rp 70 T Bisa Atasi Gaji PPPK Daerah
• 23 jam lalu
0
thumb
Laba Bersih Cinema XXI Melambat Jadi Rp 210 Miliar per Semester I 2026
• 5 jam lalu
0
thumb
Berpotensi Ciptakan Ketidakadilan Hukum, Pakar Desak Evaluasi Audit BPKP
• 17 jam lalu
0
Berhasil disimpan.