Kolegium Psikiatri Anjurkan Para Dokter Tak Segan Konsultasikan Kesehatan Jiwa

idxchannel.com
1 jam lalu
Cover Berita

Anjuran tersebut adalah respons terhadap kejadian enam dokter meninggal dalam kurun waktu satu tahun belakangan.

Kolegium Psikiatri Anjurkan Para Dokter Tak Segan Konsultasikan Kesehatan Jiwa. (Foto: MNC Media)

IDXChannel—Kolegium Psikiatri dr. Fransiska Meliana Kaligis menyarankan, agar para dokter yang memiliki masalah kesehatan jiwa segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jiwa. 

Anjuran tersebut adalah respons terhadap kejadian enam dokter meninggal karena sakit, salah satunya dokter muda SZM yang tewas pasca loncat dari lantai 18 apartemen kawasan Kalibata.

Baca Juga:
Belasan Provinsi Mulai ‘Menua’, Kemenkes Dorong Peningkatan Faskes Ramah Lansia

"Jadi kami sebetulnya menghimbau kepada seluruh dokter internship yang merasakan memang ada masalah kesehatan fisik atau psikologis atau juga melihat rekannya yang mengalami untuk tidak ragu mencari bantuan kepada tenaga kesehatan jiwa terdekat. Selain itu juga tidak ragu untuk terbuka dengan orang-orang yang dapat dipercaya," ujarnya kepada wartawan, Rabu (29/7/2026).

Menurutnya, pihaknya berdukacita atas berpulangnya enam sejawat dokter dalam masa pengabdian tugasnya itu di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk dr. SZM. 

Baca Juga:
Kemenkes Buat Vaksin DBD Berbasis mRNA, Prototipe Telah Diluncurkan

Kolegium Kedokteran Jiwa akan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memastikan sistem kesehatan jiwa hadir bagi tenaga medis dan peserta didik yang sedang belajar.

"Misalnya untuk spesialis atau subspesialis atau bahkan juga dokter umum yang sedang bertugas. Karena memang kesehatan jiwa itu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan secara menyeluruh. Masalah kesehatan jiwa bisa terjadi pada siapa saja, termasuk profesi dokter yang sedang menjalani program internsip atau pada fase kehidupan lainnya," tuturnya.

Baca Juga:
6 Intern Meninggal dalam Setahun, Kemenkes Cek Ulang Kesehatan 10.000 Dokter Magang

Dia menerangkan, dalam konteks kesehatan jiwa dokter yang mengikuti internship, dokter pembimbing, rekan sejawat satu tempat kerja atau keluarga, sahabat, atau siapa saja yang dirasakan memungkinkan memberikan dukungan agar dapat diberikan tata laksana sedini mungkin. 

Selain itu, bagi yang sedang menjalani pengobatan seperti terapi untuk masalah kesehatan fisik atau jiwa yang sedang dialami, diharapkan dapat menjalankannya secara berkelanjutan.

"Sesuai dengan rencana terapi yang sudah ditetapkan sebelumnya, mungkin sudah didiskusikan dengan dokter sebelumnya, supaya tidak berhenti seperti itu. Karena memang ini sangat penting agar gejala itu bisa menghilang dan fungsi kehidupan sehari-harinya bisa dilaksanakan dengan baik," terangnya.

Dia menjelaskan, misalnya, dalam kondisi depresi, pengobatan perlu dilakukan dengan pemantauan berkala minimal enam bulan dan apabila kondisinya berat, seperti ada pemikiran untuk mengakhiri hidup atau terdapat gangguan dalam penilaian realita. 

Misalnya sangat mengganggu sekali seperti orang tersebut bisa mengalami gangguan mendengar suara atau mendengar bisikan atau bunyi seperti itu, yang tidak ada stimulus nyata dari lingkungan, yang mana itu disebut halusinasi.

"Kondisi ini memang sudah perlu menjadi perhatian khusus dan perlu penanganan segera. Evaluasi umumnya akan dilakukan dan memang perlu perawatan sementara waktu. Bahkan sampai ke perawatan inap mungkin untuk kondisi yang sudah membutuhkan penanganan khusus. Perlu dipahami juga gangguan kejiwaan, dalam hal ini misalnya depresi itu dapat disembuhkan," paparnya.

Dia mengungkap, persoalan kesehatan jiwa seperti depresi bisa disembuhkan dengan deteksi awal dan pengobatan teratur, dukungan keluarga dan orang-orang sekitarnya. Persoalan tersebut harus dikonsultasikan dengan tenaga profesional kesehatan jiwa terdekat, seperti psikolog hingga psikiater.

"Kemudian untuk skrining, misalnya mengisi data dasar, riwayat penyakit medis. Kemudian, gangguan psikiatrik, kemudian penggunaan obat-obatan itu sangat penting. Jadi mungkin ada kekhawatiran dari sejawat sekalian, kalau mengisi ini nanti bisa menghambat atau seperti apa, dipastikan pemeriksaan psikologis dan screening ini merupakan sesuatu yang sifatnya konfidensial atau dijaga kerahasiaannya," katanya.

Dia menambahkan, dokter yang memiliki masalah kesehatan jiwa diminta melakukan skrining dan mengisi data dasar karena itu sangat penting dan tidak usah khawatir data itu bakal dirahasiakan. Semua itu untuk keperluan pertimbangan dan dukungan yang bakal diberikan guna penyembuhannya.

"Kami juga berharap seluruh pihak dapat bersama-sama menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kesehatan jiwa. Terbuka terhadap upaya mencari bantuan dan bebas dari stigma. Apabila kita mendapati rekan sejawat kita yang kelihatan berbeda atau mungkin kurang sehat. Mungkin kita bisa dekati dan juga dengan tulus bisa kita tawarkan bantuan," katanya.


(Nadya Kurnia)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kronologi ODGJ Bawa Celurit Serang Warga di Kota Batu, Mendadak Masuk ke Rumah Korban yang Tengah Bersantai Bareng Anak
• 16 jam lalu
0
thumb
Ekonomi Kreatif Serap 27,4 Juta Tenaga Kerja, Investasi Tembus Rp183 Triliun
• 19 jam lalu
0
thumb
Prakiraan Cuaca BMKG Hari Ini: Jaksel dan Jaktim Hujan Ringan
• 8 jam lalu
0
thumb
Pamong Praja Muda IPDN Diharapkan Jadi Agen Perubahan di Daerah
• 12 jam lalu
0
thumb
Prabowo Resmikan Renovasi Cagar Budaya Stasiun Tawang Semarang Hari Ini
• 4 jam lalu
0
Berhasil disimpan.