Harga Minyak Naik 7%, Perang Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasokan

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Harga minyak melonjak sekitar 7 persen pada Rabu (29/7) setelah serangan udara kembali terjadi di Timur Tengah. Aksi tersebut menambah kekhawatiran terhadap berkurangnya pasokan. Kekhawatiran juga diperkuat oleh data pemerintah Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan persediaan minyak mentah domestik turun ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir. Dikutip dari Reuters, Kamis (30/7), kontrak berjangka Brent ditutup naik USD 6,65 atau 7,91 persen menjadi USD 90,74 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat USD 5,20 atau 6,56 persen menjadi USD 84,46 per barel. As dan Arab Saudi melancarkan serangan terhadap kelompok-kelompok yang didukung Iran di Irak pada Rabu (29/7), dengan menyalahkan kelompok tersebut atas serangan pesawat nirawak atau drone terhadap fasilitas minyak Arab Saudi. Serangan itu terjadi hanya beberapa jam setelah militer AS menyatakan telah menggagalkan serangan mendadak Iran terhadap pasukan AS di kawasan tersebut. Iran mengatakan telah melancarkan serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz serta pangkalan militer AS di Yordania. Di Mesir, ledakan menghantam sebuah pelabuhan pemuatan gas alam di Laut Mediterania. Perusahaan keamanan maritim Inggris, Ambrey, mengatakan sebuah kapal tanker penyimpanan terapung milik perusahaan AS di pelabuhan tersebut terkena serangan drone. “Pasar kembali dengan cepat memperhitungkan meningkatnya risiko terhadap pasokan di kawasan tersebut,” kata mitra Again Capital, John Kilduff. Harga minyak melonjak lebih tinggi lagi setelah Presiden Donald Trump. Dalam wawancaranya dengan Fox News, Trump menjanjikan akan melakukan serangan lanjutan terhadap Iran. AS juga menjatuhkan putaran baru sanksi terkait Iran dengan menargetkan upaya Teheran untuk “memonetisasi Selat Hormuz”. Departemen Keuangan AS menyatakan sanksi tersebut mencakup 10 entitas dan delapan kapal tanker tambahan.

Selat Hormuz Kembali Menjadi Sorotan

Teheran menolak usulan Oman mengenai pengelolaan bersama Selat Hormuz oleh negara-negara di kawasan, kata seorang pejabat senior Iran kepada Reuters pada Rabu (29/7). “Kami memperkirakan harga minyak Brent akan terus berfluktuasi di kisaran USD 80 hingga USD 100 per barel dalam waktu dekat seiring konflik di Timur Tengah yang terus memanas dan mereda,” ujar Kepala Riset Energi DBS Bank, Suvro Sarkar. Hanya sedikit kapal pengangkut komoditas yang melintasi Selat Hormuz sepanjang pekan ini. Sebanyak lima kapal melintasi Selat Bab el-Mandeb pada Rabu (29/7), yang menjadi jalur alternatif pengiriman minyak Arab Saudi ke Asia, setelah sehari sebelumnya tercatat 39 kapal melintas. Jumlah tersebut merupakan yang tertinggi sejak 19 Juli, tepat sebelum kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi. Menurut sejumlah sumber regional, kelompok Houthi juga tengah mempertimbangkan untuk mengenakan biaya terhadap kapal-kapal komersial yang berlayar melalui wilayah selatan Laut Merah. Sementara itu, China telah melakukan pembicaraan langsung dengan kelompok tersebut agar kapal-kapal tankernya dapat melintasi kawasan tersebut tanpa menjadi sasaran serangan, kata enam sumber yang mengetahui masalah itu. “Dari yang saya lihat, keberhasilan mereka menghentikan arus kapal di Bab el-Mandeb tidak seefektif di Selat Hormuz, meskipun tampaknya jumlah kapal yang masuk kini lebih banyak dibandingkan yang keluar,” ujar pakar energi TP ICAP, Scott Shelton. Para analis pun mengatakan persediaan minyak mentah AS turun pada pekan lalu karena ekspor energi tetap kuat dan permintaan domestik masih solid. Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan stok minyak mentah turun 7,2 juta barel menjadi 404,5 juta barel pada pekan lalu, level terendah sejak 2018. Sebelumnya, para analis memperkirakan penurunan hanya sebesar 1,3 juta barel. Sumber Reuters mengatakan faktor lain yang turut menopang harga minyak adalah kemungkinan OPEC+ menghentikan peningkatan produksi minyak selama tiga bulan mulai Oktober. Kebijakan tersebut diperkirakan akan dilakukan setelah kelompok produsen tersebut menyelesaikan pengembalian pasokan minyak yang sebelumnya dipangkas secara sukarela.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
PGN Bangun Rantai Nilai Ekonomi Sirkular, 871 Kg Sampah Plastik Diolah Jadi Produk Bernilai Jual
• 8 jam lalu
0
thumb
Perbandingan Ranking FIFA Timnas Indonesia Vs Timor Leste Jelang Bentrok di Piala AFF 2026: Bak Bumi dan Langit
• 23 jam lalu
0
thumb
Jadwal Layanan SIM Keliling di Jakarta Hari Ini 30 Juli 2026, Buruan Perpanjang!
• 4 jam lalu
0
thumb
Seskab Teddy: Prabowo Bakal Jajal Kereta Nusantara Explorer
• 1 jam lalu
0
thumb
Profile Tersangka Pungli Ertika, Kabid Geologi dan Air Tanah ESDM Jatim
• 15 jam lalu
0
Berhasil disimpan.