JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Jenderal (Dirjen) Pengawasan Ruang Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) Irjen Pol Alexander Sabar menegaskan bahwa penanganan dan pencegahan radikalisme di ruang digital tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja.
Perlu kerja sama serta kolaborasi lintas kementerian dan lembaga.
Dorongan kolaborasi tersebut jadi salah satu rekomendasi yang ditawarkan dalam buku yang ia tulis berjudul "Atas Nama Surga: Algoritma Radikalisme Hingga Manipulasi Kesadaran".
"Jadinya, ini lintas kementerian membutuhkan diskusi bersama. Karena seperti yang saya sampaikan di diskusi buku tadi, ini tidak bisa ditangani oleh satu institusi saja," kata Alexander, dalam acara peluncuran bukunya di Menara Kompas, Rabu (29/7/2026).
Baca juga: Luncurkan Buku Atas Nama Surga, Alexander Sabar Tekankan Pentingnya Kesadaran Digital
Ia menambahkan, sifat ruang digital yang tanpa batas serta telah menjadi bagian dari aktivitas harian masyarakat membuat kompleksitas permasalahan di dalamnya semakin tinggi.
Oleh karena itu, Alexander merekomendasikan adanya koordinasi yang erat antarlembaga serta peran aktif dari media untuk membangun ketahanan masyarakat terhadap paparan materi radikal.
"Jadi, di akhir buku itu ada rekomendasi saya untuk bagaimana lembaga terkait, kementerian terkait, itu saling kerja sama, berkolaborasi, berkoordinasi untuk bersama-sama menghadapi atau mengatasi permasalahan ini," ungkap dia.
Ia mengingatkan bahaya penyebaran paham radikal yang kerap menyasar kelompok rentan seperti anak-anak dan remaja.
Ia berharap, semua pihak mau bersama-sama menjaga ruang digital dari konten radikal.
Baca juga: Peluncuran Buku Atas Nama Surga, Bedah Algoritma Radikalisasi dan Manipulasi Kesadaran
"Jadi, semua pihak saya berharap ini menjadi langkah bersama, bersama-sama kita untuk menghadapi fenomena baru ini untuk menjaga ruang digital kita tetap aman, dan tentunya untuk nantinya mencegah kaum rentan tadi, anak dan remaja dari hal-hal yang negatif itu," tutur dia.
Terus lakukan pengawasan berkalaAlex memastikan Komdigi akan terus melakukan pengawasan secara berkala melalui patroli siber terkait pemutusan mata rantai radikalisme di dunia digital.
"Ini tugas harian kami. Sehari-hari ya memang tugas kita mengawasi ruang digital. Secara proaktif dari kami melakukan patroli di ruang digital," kata dia.
Komdigi juga membuka partisipasi masyarakat dan instansi lain untuk melaporkan konten-konten yang bermuatan radikalisme.
Baca juga: Wajah Baru Terorisme di Indonesia, Pemicunya Tak Selalu Radikalisme
"Kita punya aduan konten yang terbuka untuk masyarakat yang bisa memberikan masukan kepada kita untuk nantinya bersama-sama kita tindak lanjut, kita verifikasi, baru kemudian kita proses apakah itu nanti ke proses takedown konten ataupun nanti pemblokiran kepada website ataupun IP address yang kita temukan dalam aktivitas di ruang digital," papar dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang





Komentar (0)