Ternyata AS Tak Dukung Reza Pahlavi Jadi Pemimpin Baru Iran

cnbcindonesia.com
2 jam lalu
Cover Berita
Foto: Reza Pahlevi. (Reuters)

Jakarta, CNBC Indonesia - Upaya Reza Pahlavi, putra terakhir Shah Iran yang digulingkan dalam Revolusi 1979, untuk memimpin masa transisi jika Republik Islam Iran runtuh mulai kehilangan momentum. Meski sempat menjadi sorotan selama perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran, hingga kini Washington belum menunjukkan dukungan resmi terhadap ambisinya memimpin negara tersebut.

Dalam wawancara dengan Reuters, Pahlavi tetap optimistis pemerintahan Iran berada di ambang keruntuhan.Ia menegaskan perannya hanya untuk memimpin masa transisi.

"Kampanye ini sudah menjadi misi hidup saya selama 46 tahun untuk membebaskan Iran. Ini tidak pernah tentang saya, melainkan tentang rakyat Iran dan hak mereka menentukan masa depan sendiri," ujarnya, dikutip Rabu (29/7/2026).


"Saya bukan tujuan akhirnya, saya hanya jembatan menuju tujuan tersebut."

Pilihan Redaksi
  • Perang AS-Iran Makan Korban Baru: India
  • Breaking: Timteng Masih Membara, Iran Kirim Serangan Mendadak ke AS
  • Diam-Diam China Jalin Komunikasi ke Houthi soal Minyak di Laut Merah
  • Rudal China Disebut Siap Bantu Iran, Resmi Ikut Perang Lawan AS?
  • 350 PNS Tewas, Bandara hingga Pesawat Baru Beli Hancur

Di awal perang, Pahlavi bahkan sempat mengklaim rakyat Iran telah memintanya memimpin proses transisi pemerintahan. Ia juga mendapat sambutan meriah dalam ajang Conservative Political Action Conference (CPAC) di Texas.

Namun, situasi berubah ketika Presiden AS Donald Trump melontarkan pernyataan yang mengancam akan "menghancurkan Iran hingga kembali ke Zaman Batu". Sikap Pahlavi yang tidak segera mengecam pernyataan tersebut memicu kekecewaan sebagian pendukung dan penyandang dananya.

Keretakan itu semakin terlihat setelah pemerintahan Trump berulang kali menegaskan tidak memiliki rencana mendukung Pahlavi sebagai pemimpin baru Iran. Wakil Presiden AS JD Vance bahkan menegaskan "Presiden Amerika Serikat tidak pernah mengatakan bahwa tujuannya adalah menjadikan Reza Pahlavi sebagai pemimpin baru Iran."

Sejalan dengan itu, kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran juga tidak memuat agenda perubahan rezim. Melainkan, menegaskan penghormatan terhadap kedaulatan Iran.

Di sisi lain, sejumlah penyumbang dana mulai mempertanyakan efektivitas kepemimpinan Pahlavi. Menurut sumber Reuters, mereka sebelumnya telah menggelontorkan lebih dari US$3 juta (sekitar Rp54 miliar/kurs Rp18.000 per US$), untuk mendukung gerakannya.

Namun, mereka menilai Pahlavi belum berhasil menyatukan kelompok oposisi. Bahkan, ia disebut kurang tegas mengecam aksi intimidasi maupun kekerasan yang dilakukan sebagian pendukung garis kerasnya terhadap sesama aktivis oposisi.

Menanggapi kritik tersebut, Pahlavi membantah tudingan bahwa dirinya membiarkan tindakan para pendukungnya. Ia menegaskan mengutuk segala bentuk kekerasan.

"Saya mengutuknya. Saya menjaga jarak dari tindakan itu. Saya tidak membenarkannya dan saya meminta siapa pun yang melakukan kejahatan tersebut diproses secara hukum," katanya.


Tak Ada Basis Politik Kuat

Selain itu, Pahlavi juga dinilai belum mampu membangun basis politik yang kuat di dalam negeri. Berbeda dengan sejumlah tokoh revolusioner lain, ia telah hidup di pengasingan selama hampir lima dekade sehingga tidak memiliki organisasi massa besar yang siap mengambil alih pemerintahan jika rezim saat ini tumbang.

Meski demikian, Pahlavi mengklaim telah menjalin komunikasi dengan lebih dari seribu kelompok yang terdiri dari pekerja, akademisi, tokoh agama, hingga organisasi etnis di Iran, meski klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Pahlavi juga menegaskan dirinya tidak pernah meminta dukungan pemerintah asing untuk menentukan masa depan Iran.

"Bukan pemerintah asing yang berhak menentukan siapa alternatif bagi Iran. Itu sepenuhnya hak rakyat Iran," ujarnya. Ia juga menekankan bahwa jika terjadi aksi militer, sasarannya harus rezim yang berkuasa, bukan infrastruktur sipil.

Meski sejumlah survei masih menempatkan Pahlavi sebagai figur oposisi Iran yang paling dikenal, jalan menuju kepemimpinan nasional dinilai masih penuh tantangan.

Selain oposisi yang terpecah, pemerintahan Trump hingga kini tetap memilih membuka jalur negosiasi dengan pemerintah Iran dibanding mendorong agenda pergantian rezim. Kondisi tersebut membuat peluang Pahlavi memimpin Iran pasca-Republik Islam masih jauh dari kata pasti.


(tfa/sef) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Hormuz Ditutup, Terusan Panama Raup Cuan

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
DPR dan Dukcapil Kemendagri Kompak Dorong Digitalisasi Perlinsos, NIK Jadi Kunci!
• 23 menit lalu
0
thumb
Nommensen Festival 2026: Ahmad Dhani dan Dewa 19 Bakar Semangat Ribuan Penonton di UHN
• 1 jam lalu
0
thumb
Harga Emas UBS Tetap, Galeri 24 di Pegadaian Turun Tipis Hari Ini
• 15 jam lalu
0
thumb
Sakura Matsuri 2026 Dongkrak Ekonomi Lokal, Puluhan Ribu Pengunjung Padati Jababeka
• 11 jam lalu
0
thumb
Penampakan Istri Bupati Pemalang Tiba di KPK, Ikut Terjaring OTT Dugaan Suap Proyek dan Jual-Beli Jabatan
• 5 jam lalu
0
Berhasil disimpan.