JAKARTA, KOMPAS — Perkembangan konflik geopolitik, arah suku bunga Amerika Serikat, hingga kebijakan moneter dalam negeri berpotensi menambah ketidakpastian baru terhadap pasar keuangan Indonesia. Meski demikian, fundamental ekonomi yang relatif kuat serta investor yang antisipatif diyakini masih akan mendukung pasar keuangan dalam negeri.
Head of Global Financial Markets DBS Bank, Ronny Setiawan, dalam acara DBS Institutional Forum, di Jakarta, Rabu (29/7/2026), mengatakan, meningkatnya tensi geopolitik global di awal tahun telah memicu kekhawatiran terhadap inflasi dan kebijakan moneter yang lebih ketat, termasuk di dalam negeri.
Ronny menilai pelemahan ekonomi global dan nasional masih berpeluang berlanjut hingga akhir tahun. Namun, menurutnya, investor di pasar keuangan telah memposisikan ekspektasi mereka pada beragam risiko tersebut di masa depan alias price-in.
"Kalau kita melihat dari pasar, pertanyaannya sekarang adalah apakah the worst has been priced in. Salah satu indikatornya adalah ketika harga aset sudah berhenti jatuh dan mulai bergerak mendatar. Itu biasanya menjadi sinyal tekanan terburuk mulai tercermin di pasar," ujar Ronny.
Ia menyontohkan pelemahan rupiah yang sudah bergerak sangat cepat dari kisaran Rp 17.000 menjadi Rp 18.000 per dolar AS hanya dalam waktu sekitar 1,5 bulan, yakni dari pertengahan April ke awal Juni tahun ini.
Setelah rekor pelemahan terpecahkan pada Juni, nilai tukar rupiah bertahan di atas Rp 17.000 atau melemah sekitar 8 persen sejak awal tahun. Dua hari terakhir, rupiah kembali menyentuh level Rp 18.000, seiring dengan dinamika menyangkut otoritas keuangan dalam negeri.
Meski rupiah telah bergerak dalam anomali secara historis, Ronny menilai peluang pelemahan rupiah hingga Rp 20.000 per dolar AS masih relatif kecil. Bahkan, ketika dolar AS saat ini diproyeksikan menguat, kondisi ini akan lebih berpengaruh pada mata uang negara lain yang belum terkoreksi sedalam rupiah.
Tekanan di pasar saham juga dinilai Ronny sudah mereda. Setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat turun 30 persen sejak awal tahun ke level di bawah 6.000, mayoritas pergerakan harian di IHSG sepanjang Juli mulai sedikit membaik. Ini menunjukkan meredanya aksi jual investor.
"Kita sempat melalui (masa-masa ketika) setiap kita buka berita, (IHSG) turun sekian persen terus. Tapi, saat dia (pergerakan IHSG) mulai melandai, itu kemungkinan menunjukkan bahwa the worst has been priced in. Itu salah satu yang paling gampang untuk kita menilai, yaitu dari pergerakan harga," tuturnya.
Selain melihat tren pergerakan harga aset investasi, proyeksi ini juga bisa dibaca dari data fundamental ekonomi. Senior Economist DBS Bank, Radhika Rao, pada kesempatan yang sama, menilai bahwa pasar keuangan masih didukung oleh fundamental ekonomi Indonesia yang relatif kuat.
Berdasarkan proyeksi DBS, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II-2026 diperkirakan berada di kisaran 5,2-5,4 persen. Inflasi domestik juga diperkirakan tetap terkendali sekitar 3,6 persen sepanjang tahun. Ini relatif lebih rendah dibandingkan dengan sejumlah negara di kawasan karena ditopang oleh subsidi bahan bakar.
Kebijakan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sekitar 100 basis poin pada Mei dan Juni menjadi 5,75 persen juga dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dan mengantisipasi tekanan inflasi dolar ke depan.
DBS memperkirakan ada peluang kenaikan suku bunga BI satu kali lagi pada triwulan III-2026 apabila kondisi global kembali memburuk.
Selain kebijakan suku bunga, Radhika menilai langkah BI memperkuat instrumen lindung nilai valuta asing juga mendapat respons positif dari investor asing. Kebijakan ini turut membantu menjaga stabilitas rupiah dan arus masuk modal asing ke pasar surat utang pemerintah.
BI mencatat arus modal asing ke pasar keuangan domestik mencapai 7,98 miliar dolar AS pada triwulan II-2026, berbalik dari triwulan sebelumnya yang masih mengalami arus keluar bersih sebesar 1,47 miliar dolar AS.
Radhika menambahkan bahwa sejumlah perkembangan turut memperbaiki sentimen pasar. Antara lain, keputusan Standard & Poor's (S&P) mempertahankan peringkat kredit Indonesia, kembali masuknya aliran modal asing ke pasar obligasi dan saham, serta komitmen pemerintah menjaga defisit APBN di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto.
Ia juga menilai defisit transaksi berjalan Indonesia saat ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan periode Taper Tantrum, yaitu kebijakan pengurangan nilai aset oleh bank sentral Amerika Serikat atau The Fed pada periode 2013-2014. Ketahanan eksternal Indonesia pun dinilai lebih baik dalam menghadapi gejolak global.
Meski demikian, Radhika Rao mengatakan ketidakpastian global belum akan berakhir dalam waktu dekat karena belum ada penyelesaian atas berbagai konflik geopolitik. Akibatnya, harga minyak dunia masih bertahan tinggi dengan rata-rata sekitar 90 dolar AS per barel sepanjang tahun ini, jauh di atas rata-rata sekitar 70 dolar AS pada tahun lalu.
Selanjutnya, perhatian utama pasar pada paruh kedua tahun ini akan tertuju pada arah kebijakan The Fed. Pasar mencermati apakah bank sentral AS akan kembali menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi di AS yang masih dipicu oleh tingginya harga energi, biaya tenaga kerja, kenaikan harga barang elektronik, tarif impor, hingga inflasi sektor jasa.
"Yang paling penting untuk diperhatikan pada semester kedua adalah apa yang dilakukan The Fed terhadap suku bunganya. Itu akan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan dolar AS dan pasar keuangan global," ujarnya.
Apabila The Fed kembali menaikkan suku bunga, tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, berpotensi meningkat sehingga bank-bank sentral di kawasan harus kembali menyesuaikan kebijakan moneter mereka.
Senada dengan DBS, Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas, Reza Diofanda, dalam laporannya, memproyeksikan The Fed bakal mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50–3,75 persen untuk kelima kalinya secara berturut-turut.
"Investor berfokus penuh pada forward guidance, dot plot, serta pernyataan resmi Ketua The Fed dalam konferensi pers," katanya.
Nada kebijakan yang cenderung hawkish atau mengarah pada kenaikan suku bunga dapat menekan mata uang di negara berkembang dan memperkuat dolar AS. Sebaliknya, sinyal dovish berpotensi menjadi angin segar bagi penguatan rupiah, pasar obligasi, dan IHSG.
Selain faktor geopolitik dan The Fed, dalam jangka pendek, pasar menantikan penetapan Gubernur BI definitif pascapengunduran diri Perry Warijyo. Saat ini, Destry Damayanti menjabat sebagai pejabat sementara Gubernur BI.
Penunjukan ini berlangsung di tengah tekanan pada nilai tukar rupiah dan ketidakpastian ekonomi global. Akibatnya, kondisi ini bisa menambah ketidakjelasan arah kebijakan moneter. Apalagi, isu independensi BI berpotensi menjaga volatilitas pasar domestik tetap tinggi.
Sejauh ini, masa transisi kepemimpinan di BI telah membuat mata uang rupiah kembali ke level Rp 18.100 per dolar AS. "Pelemahan rupiah diperkirakan menekan saham-saham yang memiliki eksposur impor tinggi serta memicu kewaspadaan terhadap aliran modal asing," kata Reza.






Komentar (0)