Pemerintah tengah membangun 15 bendungan di berbagai wilayah Indonesia yang ditargetkan rampung secara bertahap hingga 2029. Seluruh bendungan tersebut diproyeksikan mampu menyuplai kebutuhan irigasi untuk lebih dari 200 ribu hektare lahan pertanian.
Deputi III Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) Kurnia Ramadhana mengatakan, pembangunan bendungan dan jaringan irigasi menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan nasional.
"Pembangunan bendungan dan jaringan irigasi merupakan bagian dari komitmen pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional sejalan dengan Asta Cita untuk mencapai kemandirian pangan dan mengurangi ketergantungan pada impor," kata Kurnia dalam konferensi pers Update Program Prioritas/PHTC serta Penguatan Ekonomi Kreatif sebagai Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi Nasional di Kantor Bakom RI, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (29/7).
Kurnia menjelaskan, ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga produksi pertanian. Tanpa bendungan dan jaringan irigasi yang memadai, sejumlah wilayah pertanian masih bergantung pada pola tanam tadah hujan yang rentan terhadap perubahan musim.
"Tanpa dukungan bendungan dan irigasi yang memadai, banyak wilayah pertanian masih mengandalkan pola tanam tadah hujan yang rentan terhadap perubahan musim, termasuk ancaman kekeringan saat El Nino maupun banjir curah hujan tinggi," kata Kurnia.
Atas instruksi Presiden Prabowo Subianto, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) membangun 15 bendungan di berbagai wilayah Indonesia sepanjang 2025 hingga 2029 sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional.
Berdasarkan data Kementerian PU per 21 Juli 2026, terdapat 243 bendungan yang telah beroperasi. Sementara itu, 15 bendungan lainnya masih dalam tahap pembangunan dengan kebutuhan anggaran mencapai Rp 32,806 triliun.
Ke-15 bendungan tersebut tersebar di 10 provinsi, yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Barat, Gorontalo, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, dan Maluku.
Bendungan Bulango Ulu di Gorontalo dan Bendungan Jragung di Jawa Tengah ditargetkan rampung pada 2026. Bendungan Budong-Budong dan Mbay ditargetkan selesai pada 2027.
Selanjutnya, Bendungan Cibeet, Cijurey, Jenelata, dan sejumlah bendungan lainnya ditargetkan rampung pada 2028. Sementara Bendungan Bagong, Bener, Cabean, Karangnongko, Manikin, Riam Kiwa, dan Tigadihaji ditargetkan selesai pada 2029.
Dari sisi kapasitas, Bendungan Jenelata di Gowa, Sulawesi Selatan, menjadi salah satu bendungan dengan kapasitas tampung terbesar, yakni mencapai 223,6 juta meter kubik. Bendungan tersebut akan menyuplai daerah irigasi Bissua seluas 12.793 hektare dan daerah irigasi Kampili seluas 10.547 hektare.
Sementara itu, Bendungan Tigadihaji di Ogan Komering Ulu Selatan, Sumatera Selatan, memiliki kapasitas tampung 139,77 juta meter kubik dan akan menyuplai daerah irigasi Komering seluas 124.701 hektare.
"Secara total, ke-15 bendungan ini diproyeksikan menampung air lebih dari 1 miliar meter kubik dan menyuplai kebutuhan irigasi untuk lebih dari 200.000 hektare lahan pertanian di berbagai wilayah Indonesia," ujar Kurnia.
Bendungan Disiagakan Hadapi El NinoSelain pembangunan bendungan baru, pemerintah mengandalkan bendungan yang telah beroperasi untuk memperkuat ketahanan air dan pangan nasional.
Menurut data Kementerian PU per 24 Juli 2026, sebanyak 240 bendungan yang telah beroperasi memiliki total volume tampungan air mencapai 9,74 miliar meter kubik.
Bendungan tersebut tidak hanya berfungsi memenuhi kebutuhan air pertanian, tetapi juga mendukung penyediaan air baku masyarakat, mengurangi risiko banjir, serta menghasilkan energi bersih dan terbarukan.
"Saat ini, ratusan bendungan yang ada turut menjadi salah satu infrastruktur yang disiagakan pemerintah dalam menghadapi ancaman kekeringan pada musim kemarau yang disebabkan fenomena El Nino," kata Kurnia.
Selain bendungan, pemerintah memiliki 601 situ dan danau dengan total volume tampungan 135,59 miliar meter kubik, 1.034 tampungan air baku dengan total volume 435,67 juta meter kubik, serta 10.789 sumur bor dengan total kapasitas 114.811,487 meter kubik per detik.
Kurnia mengatakan layanan irigasi dari bendungan berpotensi meningkatkan intensitas tanam di lahan pertanian.
"Kementerian PU mencatat layanan irigasi dari bendungan berpotensi meningkatkan intensitas tanam menjadi 2 sampai 3 kali tanam per tahun atau meningkat 200% hingga 300% per tahun," ujar Kurnia.
Hasil Panen Petani MeningkatKurnia mencontohkan manfaat Bendungan Meninting yang dirasakan Fathul, petani di Desa Bukittinggi, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.
Setelah Bendungan Meninting selesai dibangun pada 2025, produksi padi Fathul disebut meningkat dari sekitar 300 kilogram menjadi 600 hingga 700 kilogram setiap masa panen.
"Bendungan ini memiliki kapasitas tampungan air hingga 9,91 juta meter kubik dan melayani daerah irigasi seluas 1.559 hektare. Pak Fathul menuturkan para petani merasakan hasil panen yang melimpah sejak Bendungan Meninting selesai dibangun pada tahun 2025," kata Kurnia.
Manfaat jaringan irigasi juga dirasakan petani di Desa Trogotirto, Kecamatan Gabus, dan Desa Tanjung Harjo, Kecamatan Ngaringan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.
Menurut Kurnia, sebelum saluran irigasi tersedia, petani di daerah irigasi Ngrenjeng dan Ngenden kerap kesulitan mendapatkan air. Kondisi itu bahkan menyebabkan benih yang telah ditanam gagal dipanen.
"Menurutnya dengan sumber air yang lancar, perekonomian petani turut meningkat seiring bertambahnya pendapatan," ujar Kurnia mengutip kesaksian petani bernama Sabar.
Petani lainnya, Bagol, juga disebut merasakan manfaat jaringan irigasi tersebut. Tingkat keberhasilan panen yang sebelumnya sekitar 50 persen disebut meningkat menjadi 90 persen.
“Bagol mengaku sangat senang dengan kehadiran jaringan irigasi di wilayah pertaniannya. Ia menyebut layanan air irigasi sebagai sumber kehidupan bagi para petani sebab tingkat keberhasilan panen yang semula hanya 50% kini mencapai 90%,” kata Kurnia.
Pemerintah berharap pembangunan 15 bendungan baru dan optimalisasi bendungan yang telah beroperasi dapat menjamin ketersediaan air untuk pertanian, meningkatkan produktivitas, serta mendukung ketahanan pangan nasional.






Komentar (0)