Momen Puting Beliung Terjang Kerinci, Jambi: 29 Rumah Rusak, Atapnya Terlepas

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Angin puting beliung menerjang Desa Tutung Bungkuk, Kecamatan Siulak, Kabupaten Kerinci, Jambi, Senin (27/7) petang. Sebanyak 29 rumah warga mengalami kerusakan, terutama pada bagian atap yang terlepas akibat empasan angin.

Sebelum angin puting beliung terjadi, warga menyebut cuaca berubah secara cepat. Langit yang semula mendung berubah semakin gelap, kemudian angin bertiup semakin kencang hingga berputar. Dalam waktu singkat, atap rumah beterbangan dan material bangunan berserakan di sekitar permukiman.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kerinci, Dedi Adrizal, mengatakan peristiwa itu terjadi setelah hujan yang disertai angin kencang melanda wilayah tersebut sekitar pukul 18.30 WIB.

“Berdasarkan informasi dari kepala desa setempat, hujan disertai angin kencang berlangsung sekitar lima menit. Angin tersebut menghantam permukiman warga hingga menyebabkan atap sejumlah rumah terlepas,” ujar Dedi saat dihubungi dari Kota Jambi, Rabu (29/7).

BPBD mencatat sebanyak 29 rumah terdampak. Meski demikian, tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam kejadian tersebut.

Dedi memastikan kondisi di lokasi kini sudah kembali normal. Aktivitas masyarakat telah berlangsung seperti biasa dan tidak ada peningkatan status kebencanaan pascakejadian.

Penyebab Puting Beliung

Kepala BMKG Kerinci, Ningsih, menjelaskan meski saat ini wilayah Jambi tengah memasuki musim kemarau, potensi terjadinya angin puting beliung masih tetap ada. Kondisi tersebut dipicu oleh proses pemanasan matahari yang menyebabkan penguapan tinggi dan memicu pertumbuhan awan hujan hingga berkembang menjadi awan Cumulonimbus (CB).

“Walaupun saat ini musim kemarau, potensi terjadinya angin puting beliung tetap ada akibat proses penguapan dari pemanasan sinar matahari dan pembentukan awan hujan yang berkembang menjadi awan Cumulonimbus. Untuk wilayah Kerinci juga perlu mewaspadai potensi hujan es,” kata Ningsih.

Menurut BMKG, angin puting beliung merupakan fenomena angin kencang yang berputar seperti spiral dengan durasi singkat, umumnya kurang dari 10 menit. Meski berlangsung singkat, fenomena ini mampu menimbulkan kerusakan pada bangunan dan pepohonan yang berada di jalurnya.

Awan Cumulonimbus yang menjadi pemicu utama memiliki ciri berwarna hitam pekat dan menjulang tinggi. Awan ini berpotensi memicu berbagai cuaca ekstrem seperti hujan lebat, petir, angin kencang hingga puting beliung, meski tidak setiap awan Cumulonimbus selalu menghasilkan cuaca ekstrem.

Berdasarkan hasil analisis BMKG, pada 27 Juli 2026 terdapat daerah belokan angin (streamline) di wilayah Kabupaten Kerinci yang memicu pertumbuhan awan Cumulonimbus. Selain itu, konvektivitas lokal yang cukup kuat turut mendukung pembentukan awan tersebut sehingga memicu terjadinya angin puting beliung.

BMKG mengimbau masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem, terutama apabila mulai terlihat awan gelap yang tumbuh cepat disertai angin kencang, petir, maupun hujan lebat. Warga juga diminta terus memantau informasi prakiraan cuaca dan peringatan dini dari BMKG, mengingat potensi hujan es masih dapat terjadi di wilayah Kerinci.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Gila! 19 Ribu Botol Miras Diduga Pakai Cukai Palsu Mau Dijual di Bali, Nilainya Rp12,5 Miliar
• 6 jam lalu
0
thumb
KTP2JB dan KPPU Teken Kerja Sama, Siap Awasi Dugaan Pelanggaran di Ruang Digital
• 1 jam lalu
0
thumb
MGLV Masuk Bisnis Data Center, Bidik Peluang AI dan Cloud Computing
• 1 jam lalu
0
thumb
LVMH Bangkit Lagi, Bisnis Fashion Mewah Mulai Comeback Setelah Dua Tahun Lesu
• 10 jam lalu
0
thumb
Awan Api Melanda Perancis, Menguat di Era Krisis Iklim
• 10 jam lalu
0
Berhasil disimpan.