Pasuruan (beritajatim.com) – Masyarakat Suku Tengger di kawasan lereng Gunung Bromo merayakan tradisi tahunan Hari Raya Karo dengan penuh khidmat dan kebersamaan. Perayaan adat ini menjadi momen sakral yang senantiasa dinantikan untuk mempererat tali silaturahmi serta melestarikan warisan leluhur.
Rangkaian kegiatan adat yang digelar secara berurutan ini sarat akan makna spiritual dan nilai sosial bagi seluruh warga Tengger Pasuruan. Kebersamaan masyarakat terlihat jelas dari tingginya partisipasi warga dalam setiap tahapan upacara adat yang dilaksanakan.
“Upacara Hari Raya Karo itu adalah simbol sangkan paraning dumadi, di mana cikal bakal umat manusia dan dunia ini diciptakan oleh Tuhan. Maknanya adalah bagaimana kita bisa mengingat peninggalan-peninggalan para leluhur terkait dengan sangkan paraning dumadi, asal-muasal cikal bakal umat manusia,” kata Ketua Komisi 2 DPRD Kabupaten Pasuruan, Agus Setya Wardhana yang juga merupakan warga Brang Kulon, Rabu (29/7).
Sajian Tari Sodor menjadi salah satu prosesi pembukaan utama yang menandai dimulainya rangkaian Hari Raya Karo tahun ini. Pementasan tarian sakral tersebut dibawakan oleh pemuda-pemudi setempat yang telah mempersiapkan diri dengan matang.
Pelaksanaan pembukaan perayaan Karo dipusatkan di Desa Tosari dan diikuti oleh perwakilan masyarakat dari wilayah sekitarnya. Penari yang tampil membawakan Tari Sodor tersebut merupakan pemuda pilihan dari 11 desa yang berada di kawasan Tengger Pasuruan.
“Latihannya 15 hari buat tari sodoran, susahnya itu saat mempersamakan gerakan kepada teman kita permasalahannya ya itu, tadi juga sempet grogi tapi setelah semuanya gerakannya sama akhirnya udah jadi terbiasa. Ini semua yang menari sodoran itu pemuda dari Desa Keduwung, Kecamatan Tosari,” ujar salah satu penari sodoran, Arya Kakanda.
Setelah seluruh prosesi pembukaan selesai dilaksanakan, masyarakat Tengger melanjutkan tradisi dengan menggelar kegiatan open house. Momen silaturahmi dengan saling berkunjung ke rumah saudara dan tetangga ini berlangsung hangat selama 7 hari berturut-turut.
Usai masa silaturahmi tujuh hari berakhir, warga kemudian melangsungkan tradisi Nelasi atau Nyadran di desa masing-masing. Warga berbondong-bondong mendatangi makam untuk melakukan nyekar sebagai bentuk penghormatan dan doa bagi para leluhur.
“Rangkaian acara pembukaan ini dilanjutkan dengan silaturahmi antarwarga selama tujuh hari, sebelum nantinya dilaksanakan tradisi Nelasi atau Nyadran ke makam leluhur. Seluruh prosesi ini merupakan wujud nyata penghormatan kita terhadap sejarah dan perjuangan para pendahulu dalam menjaga harmoni kehidupan,” jelas Wardana di tengah pagelaran Karo.
Puncak dari seluruh Rangkaian Hari Raya Karo diakhiri dengan upacara penutupan yang diselenggarakan secara khidmat. Lokasi pelaksanaan penutupan tradisi Karo tersebut dipusatkan di dua desa, yakni Desa Wonokitri dan Desa Sedaeng. (ada/kun)





Komentar (0)