Mojokerto (beritajatim.com) – Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto memperluas sosialisasi Program Beasiswa Mahasiswa Berprestasi (Pro Bestari) 2026 dengan melibatkan ketua RT, RW, kader PKK, hingga tokoh masyarakat. Langkah ini dilakukan agar tidak ada mahasiswa yang memenuhi syarat kehilangan kesempatan memperoleh beasiswa hanya karena kurang mendapatkan informasi.
Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari mengatakan, pola sosialisasi tahun ini berbeda dibandingkan sebelumnya. Jika selama ini informasi lebih banyak disampaikan melalui media sosial dan surat kepada kelurahan, kini pemerintah turun langsung ke masyarakat agar penyebaran informasi lebih merata.
“Kenapa sekarang kami datang langsung ke kelurahan? Karena kami ingin Pro Bestari bisa diakses lebih luas oleh masyarakat Kota Mojokerto. Jangan sampai ada mahasiswa yang sebenarnya memenuhi syarat, tetapi tidak pernah mendengar adanya program ini,” ungkapnya saat sosialisasi Program Pro Bestari di Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan.
Menurutnya, RT dan RW menjadi ujung tombak penyebaran informasi karena merupakan pihak yang paling dekat dengan masyarakat. Karena itu, ia meminta seluruh ketua RT dan RW aktif menyampaikan informasi kepada warga yang memiliki anak sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi negeri.
“Saya titip kepada Bapak-Ibu Ketua RT dan Ketua RW, kalau ada tetangga, saudara, atau warga yang memiliki putra-putri kuliah di perguruan tinggi negeri, tolong disampaikan bahwa mulai 1 Agustus pendaftaran Pro Bestari dibuka. Jangan sampai kesempatan baik ini terlewat hanya karena tidak mengetahui informasinya,” katanya.
Ning Ita (sapaan akrab, red) menjelaskan, Pro Bestari merupakan inovasi Pemerintah Kota Mojokerto yang telah berjalan selama enam tahun secara berkelanjutan. Meski pemerintah kabupaten maupun kota tidak memiliki kewenangan menyelenggarakan pendidikan tinggi, Pemkot tetap mengalokasikan anggaran sebagai bentuk investasi jangka panjang untuk pembangunan sumber daya manusia.
“Program ini bukan program wajib pemerintah daerah. Ini adalah kreativitas dan inovasi kita. Tujuannya sederhana, agar semakin banyak warga Kota Mojokerto yang bisa menempuh pendidikan tinggi dan menjadi sarjana,” katanya.
Ia menilai peningkatan jumlah lulusan perguruan tinggi akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia sekaligus mendorong peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Mojokerto.
“Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Mungkin manfaat besarnya tidak langsung kita rasakan hari ini, tetapi 10 sampai 20 tahun ke depan kita akan memiliki semakin banyak SDM unggul yang akan membangun Kota Mojokerto dan memberikan kontribusi bagi Indonesia. Pada tahun 2026, Pemkot Mojokerto menyediakan kuota sebanyak 300 penerima Pro Bestari,” jelasnya.
Mahasiswa berprestasi yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi negeri akan menerima bantuan biaya hidup sebesar Rp3,6 juta per semester. Selain Pro Bestari, Pemkot Mojokerto juga menggandeng Baznas Kota Mojokerto melalui Program Satu Keluarga Satu Sarjana (SKSS) yang ditujukan bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu.
Mengakhiri sosialisasi, orang nomor satu di lingkungan Pemkot Mojokerto ini kembali mengajak seluruh peserta menjadi perpanjangan tangan pemerintah untuk menyebarluaskan informasi mengenai Pro Bestari agar semakin banyak mahasiswa Kota Mojokerto dapat memanfaatkan program tersebut.
“Semakin banyak masyarakat yang mengetahui Pro Bestari, semakin banyak pula putra-putri Kota Mojokerto yang bisa memanfaatkan kesempatan ini. Saya berharap Bapak-Ibu semua ikut menyampaikan informasi ini kepada lingkungan masing-masing agar manfaatnya bisa dirasakan lebih luas,” pungkasnya. [tin/aje]





Komentar (0)