Emiten raksasa teknologi PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) akan melaporkan kinerja keuangan semester pertama 2026 pada Rabu (29/7) ini. Pelaku pasar pun menanti-nanti apakah perusahaan mampu mempertahankan profitabilitas setelah mencetak laba untuk pertama kalinya pada kuartal pertama 2026, setelah bertahun-tahun membukukan kerugian.
Kinerja GOTO menjadi sorotan di tengah kekhawatiran dampak implementasi Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026 yang dinilai berpotensi menekan kinerja perseroan. Perpres itu membatasi komisi yang dapat ditarik aplikator ojek online (ojol) maksimal hanya 8%. Di saat yang sama, harga saham GOTO masih bertahan di level Rp 50 alias gocap sejak 5 Mei 2026 hingga perdagangan Rabu (29/7) ini.
Menjelang pengumuman laporan keuangan, antrean jual saham GOTO juga membengkak hingga 245,2 juta lot. Sementara itu, kapitalisasi pasar perseroan tercatat sebesar Rp 59,55 triliun.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas. Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, investor akan mencermati apakah laba yang mulai dibukukan GOTO dapat dipertahankan secara berkelanjutan. Menurut dia, perhatian pasar kini tidak lagi hanya tertuju pada pertumbuhan gross transaction value (GTV), tetapi juga kualitas pendapatan, adjusted EBITDA, arus kas operasional, serta kemampuan perusahaan menjaga profitabilitas di tengah persaingan industri.
"Untuk semester II 2026, saya memperkirakan kinerja GOTO masih memiliki prospek yang cukup baik apabila volume transaksi tetap bertumbuh dan efisiensi operasional terus dijaga," kata Nafan kepada Katadata.co.id, Rabu (29/7).
Dia menilai sinergi antara layanan on-demand, e-commerce, dan layanan keuangan digital masih menjadi motor utama pertumbuhan perusahaan.
Menurut Nafan, kebijakan penurunan batas potongan komisi menjadi 8% memang berpotensi menekan take rate dalam jangka pendek sehingga pendapatan per transaksi dapat berkurang. Namun, apabila kebijakan tersebut mampu meningkatkan jumlah mitra aktif, memperbesar volume transaksi, serta meningkatkan loyalitas merchant dan konsumen, tekanan terhadap pendapatan berpotensi tertutupi oleh pertumbuhan skala bisnis.
Senada dengan itu, Samuel Sekuritas Indonesia menilai investor akan mengamati kemampuan GOTO mempertahankan laba setelah mencetak keuntungan kuartalan pertamanya pada kuartal I 2026. Pasar juga akan mencermati perkembangan bisnis GoPay Financial, prospek pertumbuhan perusahaan, serta dampak kebijakan pembatasan komisi layanan ride-hailing yang mulai berlaku pada Juli 2026.
Meskipun dibayangi sejumlah tantangan, konsensus analis masih cenderung positif terhadap prospek saham GOTO. Dari 31 perusahaan sekuritas yang memantau saham ini, sekitar 77% memberikan rekomendasi beli.
Berdasarkan konsensus Bloomberg, rata-rata target harga saham GOTO berada di Rp 80 per saham atau sekitar 60% lebih tinggi dibandingkan harga penutupan terakhir.
Maybank Sekuritas memberikan rekomendasi buy dengan target harga Rp 80 per saham. Morgan Stanley mempertahankan rekomendasi equal weight dengan target harga Rp 79 per saham.
Sementara itu, UOB Kay Hian Sekuritas dan BRI Danareksa Sekuritas masing-masing merekomendasikan buy dengan target harga Rp 78 dan Rp 70 per saham. Adapun Macquarie menetapkan rekomendasi outperform dengan target harga Rp 72 per saham.
Laba Perdana GOTO pada Kuartal IPada kuartal pertama tahun ini, GOTO membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 257,94 miliar. Capaian tersebut menjadi laba pertama dalam sejarah perusahaan sejak berdiri dan berbalik dari rugi bersih Rp 283,32 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pendapatan perseroan meningkat 26,25% secara tahunan menjadi Rp 5,34 triliun dari Rp 4,23 triliun pada kuartal I 2025. Sementara itu, adjusted EBITDA melonjak 131% menjadi Rp 907 miliar.
Direktur Utama GOTO, Hans Patuwo mengatakan, pencapaian laba bersih pertama merupakan tonggak penting bagi perusahaan. Menurut dia, GOTO akan terus mengakselerasi pertumbuhan melalui pengembangan produk dan investasi berkelanjutan pada kapabilitas bisnis.
"Kami akan terus berinvestasi pada kemampuan bisnis yang mendukung pertumbuhan jangka panjang perusahaan," ujar Hans dalam keterangannya, Selasa (28/4).
Sepanjang kuartal I 2026, jumlah pengguna bertransaksi tahunan atau annual transacting users (ATU) meningkat 22% menjadi 69 juta. GTV inti grup tumbuh 65% menjadi Rp 138 triliun, sedangkan total GTV naik 63% menjadi Rp 236 triliun. Perseroan juga membukukan arus kas bebas yang disesuaikan positif sebesar Rp 1,3 triliun.
Dari segmen teknologi finansial, adjusted EBITDA melonjak 674% menjadi Rp 364 miliar. Pendapatan bersih naik 58% menjadi Rp 1,9 triliun, ditopang pertumbuhan nilai buku pinjaman dan transaksi pembayaran.
Jumlah pengguna bertransaksi bulanan atau monthly transacting users (MTU) fintech meningkat 33% menjadi 27,5 juta, mendorong lebih dari dua miliar transaksi sepanjang kuartal I 2026 atau naik 84% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. GTV inti segmen fintech tumbuh 72% menjadi Rp 131 triliun, sedangkan nilai buku pinjaman meningkat 59% menjadi Rp 9,9 triliun.
Di segmen on-demand services (ODS), adjusted EBITDA naik 40% menjadi Rp 439 miliar dan mencatatkan perbaikan selama tujuh kuartal berturut-turut. GTV ODS mencapai lebih dari Rp 16 triliun pada kuartal pertama.
Mengacu pada laporan keuangan konsolidasian yang belum diaudit, GOTO memiliki saldo kas, setara kas, dan deposito jangka pendek sebesar Rp 23 triliun. Total aset perseroan tercatat Rp 46,8 triliun dengan ekuitas mencapai Rp 28,8 triliun.
*Penafian:
Keputusan investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab investor. Artikel ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.





Komentar (0)