The Odyssey Politik: Perjalanan Pulang Lebih Sulit daripada Memenangi Kekuasaan

kompas.com
8 jam lalu
Cover Berita

TIDAK banyak karya sastra yang mampu bertahan hampir tiga milenium tanpa kehilangan relevansinya. Lebih sedikit lagi yang sanggup melampaui batas zaman, budaya, agama, bahkan sistem politik untuk terus dibaca sebagai cermin kehidupan manusia.

Di antara sedikit karya tersebut, “The Odyssey” menempati posisi yang hampir tak tergantikan. Ditulis sekitar abad ke-8 sebelum Masehi oleh penyair Yunani kuno, Homer, epos ini bukan hanya kisah petualangan seorang raja yang berusaha pulang ke negerinya setelah Perang Troya.

Kisah ini juga renungan panjang tentang kekuasaan, kesetiaan, ambisi, godaan, identitas, dan harga yang harus dibayar manusia ketika berhadapan dengan nasib serta kehendak kekuatan yang jauh lebih besar daripada dirinya.

Kini, hampir 2.800 tahun kemudian, kisah tersebut kembali memperoleh kehidupan baru melalui adaptasi sinematik Christopher Nolan yang sedang menjadi perbincangan dunia saat ini.

Pria kelahiran London ini merupakan sutradara, penulis skenario, dan produser film berkebangsaan Inggris-Amerika yang terkenal lewat gaya penceritaan non-linear, konsep sains yang rumit, serta penggunaan efek praktikal berskala besar.

Sebagaimana lazimnya karya-karya Nolan, The Odyssey tidak semata menghadirkan petualangan mitologis, tapi juga eksplorasi psikologis tentang seorang pemimpin yang telah memenangi perang, tetapi belum tentu mampu memenangi dirinya sendiri.

Nolan tidak mengubah ruh kisah Homer. Ia justru memperlihatkan bahwa monster terbesar dalam perjalanan Odysseus sering kali bukan Cyclops, bukan Siren, bukan pula Poseidon, tapi ego, kesombongan, trauma, dan godaan untuk melupakan tujuan awal perjalanan.

Dalam epos aslinya, Odysseus digambarkan sebagai sosok yang lebih mengandalkan kecerdikan daripada kekuatan fisik.

Baca juga: Presiden Jangan Monopoli Patriotisme

Berbeda dengan Achilles yang menjadikan keberanian sebagai identitasnya, Odysseus menjadikan akal sebagai senjata utama.

Ia lolos dari gua Cyclops bukan karena mampu mengalahkan raksasa itu dengan pedang, tapi karena mampu mengalahkannya dengan strategi.

Ia melewati nyanyian Siren bukan karena kebal terhadap godaan, tapi karena sadar bahwa dirinya tidak kebal sehingga memilih mengikat dirinya sendiri pada tiang kapal.

Ia menghadapi amarah Poseidon bukan dengan kesombongan, tapi dengan kesabaran yang panjang, meski berkali-kali juga tergelincir oleh rasa bangga atas kecerdasannya sendiri.

Di sinilah The Odyssey berbeda dari hampir semua kisah kepahlawanan modern. Homer tidak sedang menulis tentang kemenangan, tapi tentang perjalanan pulang.

Dan perjalanan pulang, dalam filsafat politik, sering kali jauh lebih sulit ketimbang perjalanan menuju kemenangan.

Dalam politik, memperoleh kekuasaan hampir selalu lebih mudah daripada mempertahankan kebijaksanaan setelah kekuasaan berhasil diraih.

Kalimat inilah yang membuat The Odyssey terasa begitu dekat dengan kehidupan politik abad ke-21, termasuk Indonesia.

Pemilu mungkin telah selesai. Koalisi mungkin telah terbentuk. Kursi-kursi pemerintahan telah terisi. Namun, sesungguhnya perjalanan politik baru saja dimulai.

Memenangi kompetisi elektoral hanyalah Perang Troya. Sementara mengelola negara, menghadapi tekanan ekonomi, mengendalikan elite, menjaga legitimasi publik, dan mempertahankan integritas adalah perjalanan pulang menuju “Ithaca” yang jauh lebih panjang.

Di sinilah Homer tampaknya sedang mengingatkan sesuatu yang sering dilupakan para pemimpin modern, yakni kemenangan bukanlah akhir cerita. Justru kemenangan sering menjadi awal dari ujian yang sesungguhnya.

Heraclitus mengatakan bahwa karakter adalah takdir manusia. Gagasan sederhana ini menemukan ilustrasi yang nyaris sempurna dalam diri Odysseus.

Hampir seluruh malapetaka yang menimpanya bukan muncul karena musuh terlalu kuat, tapi karena sesekali ia gagal mengendalikan dirinya sendiri.

Ketika ia mengejek Cyclops dan dengan bangga menyebutkan identitasnya setelah berhasil lolos, tindakan yang tampak sepele itu justru memicu kemarahan Poseidon yang memperpanjang penderitaannya selama bertahun-tahun.

Dalam politik modern, kesalahan-kesalahan besar sering lahir bukan dari kelemahan lawan, tapi dari kelebihan rasa percaya diri para pemenang.

Kekuasaan hampir selalu menciptakan ilusi bahwa semua keputusan pasti benar, semua kritik hanyalah gangguan, dan semua lawan akan selalu bisa dikalahkan.

Padahal, sejarah menunjukkan sebaliknya. Banyak rezim tidak runtuh karena oposisinya terlalu kuat, tapi justru karena mereka berhenti mendengar kenyataan.

Indonesia bukan ruang yang steril dari paradoks tersebut. Politik nasional hari ini memperlihatkan kecenderungan bahwa kemenangan elektoral semakin sering diterjemahkan sebagai kemenangan moral yang absolut.

Padahal, demokrasi tidak pernah menjanjikan kemenangan absolut. Demokrasi hanya memberikan mandat yang selalu bersifat sementara.

Setelah itu, setiap hari legitimasi harus diperbarui melalui kebijakan yang masuk akal, kepemimpinan rendah hati, dan kemampuan menjaga keseimbangan berbagai kepentingan yang saling bertabrakan.

Di titik inilah The Odyssey berubah menjadi alegori politik yang sangat modern.

Jika Perang Troya melambangkan kompetisi politik, maka lautan yang diarungi Odysseus adalah birokrasi, ekonomi, opini publik, media sosial, tekanan global, oligarki, dan berbagai kepentingan yang setiap hari berusaha mengubah arah kapal kekuasaan.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Baca juga: Rapor Merah Politik


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Dedi Mulyadi Klarifikasi Sayembara Tangkap Begal, Warga Diminta Tak Main Hakim Sendiri
• 22 jam lalu
0
thumb
Sudaryono Batasi Bertemu Mitra MBG di Ruangannya: Kalau Saya Terima Jadi Fitnah
• 41 menit lalu
0
thumb
SPPG di Ciputat Tangsel Dibobol Maling, 1.700 Ompreng hingga Genset Raib, Pelaku Ternyata Satpam Sendiri
• 2 jam lalu
0
thumb
Dari PRSU Hingga Kursi Kepemimpinan: Kisah "Cinta Tukang Parkir'
• 17 jam lalu
0
thumb
Gempa Guncang Kumamoto Setelah 10 Tahun, Menguji Ketangguhan Jepang
• 20 jam lalu
0
Berhasil disimpan.