Melihat kreativitas siswa Sekolah Rakyat dalam JFC

antaranews.com
1 jam lalu
Cover Berita
Jember, Jawa Timur (ANTARA) - Tangan mungil itu bergerak kesana kemari menempelkan beberapa ornamen untuk kostum yang akan dipakai dalam pagelaran karnaval busana internasional yang ditunggu publik hingga mancanegara, yakni Jember Fashion Carnaval(JFC) di Kabupaten Jember, Jawa Timur, pada 24-26 Juli 2026.

Tidak hanya membantu menempel, Nirmala Dwi Agustina, siswa kelas 3 Sekolah Rakyat Terintegrasi 6 Jember, itu juga ikut membantu para guru dan wali asuh untuk mencari beberapa barang bekas yang dapat didaur ulang agar bisa digunakan sebagai pernak-pernik dalam kostum tersebut.

Anak dari keluarga prasejahtera (Desil 1 dan 2) itu awalnya bingung dan lebih banyak diam karena baru pertama kali mengenal dunia fesyen, bahkan rasa minder juga sempat dialami. Namun, dengan kesabaran dan tekad yang kuat, ia pun pelan-pelan berusaha memahami arti sebuah kreativitas.

Nirmala tidak sendiri, ada 14 anak Sekolah Rakyat lainnya yang juga dipercaya untuk berproses mengasah kreativitas, mulai dari mendesain dan merancang kostum, mencari bahan pernak-pernik, serta ornamen yang diperlukan, hingga membuat kostum tersebut sampai selesai.

Sebanyak 15 siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 6 Jember ikut ambil bagian dalam ajang Jember Fashion Carnaval 2026 dan nekat menerobos ajang karnaval kelas dunia, meski usia lembaga pendidikan berasrama yang digagas pemerintah itu belum genap satu tahun.

Siapa sangka, di balik kemegahan busana spektakuler itu terdapat jemari mungil belasan anak dari Sekolah Rakyat yang ikut menorehkan kreativitas tinggi, hingga layak ditonton ribuan warga yang berjajar sepanjang panggung jalanan 3,6 kilometer yang dilalui para talenta JFC.

Rasa bangga bisa tampil di JFC disampaikan siswa kelas 7 Sekolah Rakyat Rizky Ibrahim Sukito yang selama ini hanya menonton di layar kaca dan tidak pernah melihat secara langsung karena rumahnya jauh dari kota.

"Saya senang dan bangga bisa mengikuti JFC yang mendunia. Dengan ikut JFC, saya perlahan-lahan mulai percaya diri untuk tampil di depan umum," katanya.

Guru Sekolah Rakyat Jember yang menjadi Koordinator JFC Muhammad Dimas Nasihudin mengatakan sebanyak 15 siswa tersebar di beberapa defile, baik dalam "World Kids Carnaval" (WKC) maupun "Grand Carnival" JFC.

Sebanyak delapan siswa tampil WKC dengan defile Inuid sebanyak 5 siswa, Roots sebanyak 2 siswa, dan Gaia sebanyak 1 siswa. Sementara tujuh siswa di "Grand Carnival" yang tersebar di defile Re-Birth (1 siswa), Roots (1 siswa), Conscience (3 siswa), dan Noise (2 siswa).

Keterlibatan anak-anak dalam JFC masuk sebagai bagian kokurikuler di Sekolah Rakyat, yakni kegiatan pembelajaran di luar jam pelajaran kelas yang berguna untuk penguatan, pendalaman, dan pengayaan materi intrakurikuler.

Pelibatan mereka, mulai dari konsep awal perencanaan, perancangan, hingga penyelesaian kostum yang sebagian besar menggunakan bahan daur ulang melibatkan anak-anak Sekolah Rakyat, sehingga mereka paham tentang karakter kostum yang digunakan saat tampil pada ajang tahunan yang menarik wisatawan Nusantara dan asing itu.

Berbagai ornamen dan pernak-pernik, botol plastik bekas, potongan kardus, hingga beberapa bahan bekas lainnya dirangkai menjadi busana anggun dan spektakuler, bahkan semua anak terlibat untuk menuangkan kreativitasnya secara mandiri, dengan bimbingan guru-guru, serta pendampingan dari Tim Relawan JFC.

Keterlibatan para siswa juga merupakan bentuk penerapan kurikulum pembelajaran mendalam (Program dari Kemendikdasmen), tempat proses belajar meluas hingga luar kelas, dengan materi pembelajaran fokus pada keterampilan esensial yang relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri, sehingga para siswa memiliki bekal yang kuat untuk masa depan.

Usaha melibatkan para siswa dari tidak mampu itu bukan tanpa tantangan. Pembuatan kostum JFC memerlukan kesabaran dan keuletan dalam membimbing mereka untuk menghasilkan karya yang spektakuler.

Selama dua bulan anak-anak terlibat dalam proses pembuatan kostum hingga selesai, tidak ada kata lelah dari siswa Sekolah Rakyat, meski terkadang mengerjakan kostum pada jam istirahat sekolah. Di luar penyiapan kostum, jadwal latihan gerakan dari tim JFC dilaksanakan pada sore, hingga malam hari.

Meskipun demikian, anak-anak itu tetap antusias bersiap mengikuti karnaval kelas dunia yang menjadi bagian dari upaya mengembangkan kreativitas, kepercayaan diri, dan keberanian menunjukkan potensi, hingga memiliki keterampilan merancang busana.

Dengan keterlibatan dalam ajang bergengsi itu, anak-anak bisa belajar mendesain hingga membuat kostum untuk menambah keterampilan mereka saat lulus nanti, sehingga ke depannya keterampilan mereka terus bisa diasah. Keterampilan itu diharapkan menjadi salah satu alternatif mata pencarian untuk membantu keluarganya dalam memutus rantai kemiskinan.

Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 6 Jember Kartika Sari Dewi mengatakan pengalaman anak-anak mengikuti JFC menjadi proses pembelajaran yang berharga bagi para siswa dan kegiatan itu masuk dalam program kokurikuler Sekolah Rakyat.

Sekolah itu ingin membuktikan bahwa anak-anak Sekolah Rakyat yang berasal dari keluarga Desil 1 dan 2 mampu menciptakan karya terbaiknya di JFC, bahkan mereka sudah mulai percaya diri saat tampil di depan publik.

Komitmen sekolah mendukung penuh anak-anak tersebut terlibat dalam JFC juga mendapat dukungan dari Kementerian Sosial, sehingga ajang tersebut dapat mengajarkan kerja sama tim dan nilai tanggung jawab untuk membantu menyelesaikan kostum.

Seorang guru Sekolah Rakyat Jember membantu siswa untuk tampil di "Grand Carnival" JFC di Kantor Pemkab Jember, Minggu (26/7/2026). (ANTARA/Zumrotun Solichah) Presiden JFC Budi Setiawan mengatakan sangat mendukung partisipasi anak-anak Sekolah Rakyat dalam ajang itu karena pada hakikatnya semua anak memiliki kesempatan yang sama dan karyanya ternyata tidak tidak kalah dengan yang lain.

Ajang JFC yang pada 2026 ini sudah memasuki tahun ke-24 merupakan pergerakan transformatif dalam membangun ruang inklusi, sehingga siapapun dapat berkarya dan menghasilkan karya spektakuler, termasuk anak-anak dari Sekolah Rakyat Terintegrasi 6 Jember.

Tema HEAL (Humanity, Earth and Life) JFC tahun ini bercerita tentang penyembuhan hubungan antara manusia dan alam, dengan delapan defile yang ditampilkan, yakni Gaia, Noise, Pandemic, Sanctuary, White Guardian, Conscience, Re-Birth, dan Roots.

Aksi memukau para pelajar Sekolah Rakyat itu tak hanya menghipnotis masyarakat Jember, namun perhatian tokoh-tokoh nasional, hingga wisatawan mancanegara yang hadir di panggung kehormatan.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto, Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak, Konsulat Jenderal (Konjen) Jepang, Yayasan Sakuranesia, dan para tamu undangan serta ribuan masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara hadir menyaksikan kreativitas anak Sekolah Rakyat bersama peserta lain di ajang itu.

Menpar Widiyanti Putri Wardhana, saat memberikan sambutan pada Grand Carnival JFC mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Jember, yayasan penyelenggara, serta semua pihak yang terlibat menjaga semangat JFC hingga menjadi salah satu kebanggaan Indonesia dan telah menunjukkan bahwa karya besar tidak selalu lahir dari kota besar.

Keberhasilan ajang itu tidak hanya diukur dari megahnya pertunjukan, tetapi juga dari manfaat yang dirasakan masyarakatnya. Pariwisata bukan hanya tentang menghadirkan lebih banyak wisatawan, tetapi tentang menciptakan lebih banyak peluang, lebih banyak manfaat ekonomi, lebih banyak ruang untuk pelaku seni, UMKM, dan masyarakat untuk tumbuh bersama.

Karena itu, ajang tersebut diharapkan terus menginspirasi Indonesia untuk melahirkan karya-karya terbaik, dan membawa nama bangsa semakin harum di mata masyarakat dunia.

Karya terbaik itu, salah satunya ditunjukkan oleh hasil kreativitas anak-anak Sekolah Rakyat. Mereka mampu menghasilkan kreativitas tinggi dan capaian itu menjadi bukti nyata keberhasilan pendidikan inklusif di sekolah yang menjadi program prioritas Presiden Prabowo Subianto.

Kesempatan belajar secara inklusif benar-benar terwujud di Sekolah Rakyat Jember. Para siswa mendapat kesempatan yang sama untuk tampil di panggung internasional dengan penuh percaya diri.




Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Gempa Jepang 7,1 Magnitudo: Korban Luka, Kerusakan, dan Imbauan WNI
• 6 jam lalu
0
thumb
Pemda Bisa Bernapas Lega, Skema Top Up Anggaran Disebut Solusi Atasi Tekanan Fiskal
• 5 jam lalu
0
thumb
YLKI: Putusan MK Terkait Kuota Tak Lagi Hangus Jangan Jadi Alasan Operator Naikkan Harga Layanan
• 1 jam lalu
0
thumb
Kondisi Rupiah dan IHSG usai Perry Warjiyo Mundur dari Gubernur BI
• 22 jam lalu
0
thumb
Pilu Ningrum dan Kisah di Balik Anak Kayuh Sepeda demi Peluk Ayah di Penjara
• 13 jam lalu
0
Berhasil disimpan.