PT Timah Tbk (TINS) mencatatkan kinerja positif sepanjang semester I-2026 dengan membukukan laba bersih sebesar Rp2,71 triliun.
IDXChannel - PT Timah Tbk (TINS) mencatatkan kinerja positif sepanjang semester I-2026 dengan membukukan laba bersih sebesar Rp2,71 triliun. Perolehan tersebut melampaui target laba bersih perseroan untuk tahun ini yang ditetapkan sebesar Rp1,61 triliun.
Kinerja tersebut didukung oleh kenaikan harga timah global, peningkatan volume produksi, serta pertumbuhan penjualan. Pada periode tersebut, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp10,42 triliun, melonjak 247 persen dibandingkan semester I 2025 sebesar Rp4,22 triliun.
Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, laba usaha PT Timah meningkat signifikan menjadi Rp3,48 triliun dari sebelumnya Rp380 miliar. Sementara itu, EBITDA tercatat sebesar Rp3,90 triliun atau naik 363 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp840 miliar.
Direktur Utama PT Timah Tbk Restu Widiyantoro mengatakan pencapaian kinerja semester I 2026 menunjukkan strategi transformasi operasional dan bisnis perseroan berjalan efektif di tengah dinamika industri global.
"Kinerja perseroan pada semester I 2026 menunjukkan bahwa strategi transformasi operasional dan bisnis yang dijalankan perseroan mampu menghasilkan pertumbuhan yang berkualitas. Peningkatan produktivitas, disiplin dalam pengelolaan biaya, serta optimalisasi operasi menjadi faktor utama yang mendorong pencapaian tersebut," ujar Restu dalam keterangan resmi, Selasa (28/7/2026).
Dari sisi neraca, total aset perseroan hingga semester I 2026 meningkat 21 persen menjadi Rp16,45 triliun dibandingkan akhir 2025 sebesar Rp13,64 triliun. Liabilitas tercatat naik 13 persen menjadi Rp5,90 triliun, sedangkan ekuitas meningkat 25 persen menjadi Rp10,55 triliun.
Peningkatan kinerja keuangan juga tercermin dari membaiknya profitabilitas perseroan. Margin laba operasi tercatat sebesar 33,24 persen, EBITDA margin 37,39 persen, dan margin laba bersih 26,05 persen. Selain itu, tingkat pengembalian aset (ROA) mencapai 16,50 persen dan tingkat pengembalian ekuitas (ROE) sebesar 25,74 persen.
Dari sisi operasional, PT Timah mencatatkan produksi bijih timah sebesar 12.232 ton Sn pada semester I 2026, meningkat 75 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 6.997 ton Sn.
Peningkatan produksi tersebut didorong oleh optimalisasi produktivitas serta penambahan unit operasi, baik pada tambang laut maupun darat. Perseroan mengoptimalkan operasional Kapal Isap Produksi (KIP), Ponton Isap Produksi (PIP), serta tambang darat kemitraan.
Sejalan dengan kenaikan produksi bijih timah, produksi logam timah perseroan meningkat 58 persen menjadi 10.865 metrik ton Sn. Sementara itu, penjualan logam timah mencapai 10.984 metrik ton, naik 85 persen dibandingkan semester I 2025 sebesar 5.933 metrik ton.
Kenaikan kinerja tersebut turut didukung oleh kondisi pasar timah global yang masih kuat. Harga rata-rata timah di London Metal Exchange (LME) sepanjang semester I 2026 mencapai USD50.319,19 per metrik ton, meningkat 56,68 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD32.115,77 per metrik ton.
Berdasarkan data CRU Tin Monitor, produksi logam timah global pada semester I 2026 tercatat sebesar 173.536 ton, sedangkan konsumsi mencapai 179.256 ton. Kondisi tersebut menunjukkan pasar timah global masih mengalami defisit pasokan.
Ke depan, PT Timah optimistis dapat mempertahankan momentum pertumbuhan seiring prospek permintaan timah dari sektor elektronik, semikonduktor, kendaraan listrik, pusat data, dan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Hingga semester I-2026, perseroan mencatat sumber daya timah sebesar 798 ribu ton dan cadangan timah sebesar 312 ribu ton. Perseroan akan terus meningkatkan produktivitas, mengoptimalkan aset, memperkuat tata kelola pertambangan, serta menerapkan praktik pertambangan berkelanjutan.
Penjualan logam timah PT Timah pada semester I 2026 masih didominasi pasar ekspor dengan kontribusi 97 persen dari total penjualan. Adapun negara tujuan ekspor terbesar meliputi China sebesar 36 persen, India 12 persen, Korea Selatan 11 persen, Singapura 6 persen, Belanda 5 persen, dan Italia 5 persen.
(Rahmat Fiansyah)






Komentar (0)