SiCepat memperluas bisnis dari layanan courier, express, and parcel (CEP) ke sektor logistik dengan membidik segmen business-to-business (B2B), retail, perusahaan, hingga manufaktur melalui SiCepat Logistik.
Commercial and External Affairs Director SiCepat, Imam Sedayu, mengatakan ekspansi tersebut dilakukan untuk memperluas manfaat dan solusi yang selama ini dibangun SiCepat di sektor perdagangan dan ekonomi digital kepada pasar yang lebih luas.
“Tidak hanya untuk penerima atau konsumen, tetapi juga untuk B2B, perusahaan, manufaktur, dan sebagainya. Akhirnya, kami memutuskan pada 2026 ini untuk melakukan ekspansi ke retail dan segmen B2B melalui SiCepat Logistik,” ujar Imam dalam acara peluncuran SiCepat Logistik di Jakarta Timur, Selasa (28/7).
Menurut dia, SiCepat memiliki modal dasar berupa jaringan dan infrastruktur yang telah dibangun dari bisnis express. Saat ini, SiCepat memiliki 470 hub dan 61 sortation station serta mencakup lebih dari 35 provinsi dengan dukungan sekitar 1.700 armada, termasuk truk dan van.
Selain itu, SiCepat telah memiliki 61 operational warehouse, 45.000 drop point untuk segmen retail, serta lebih dari 490 processing location. Jangkauan operasional perusahaan juga telah mencapai 99% area.
Dari sisi volume, SiCepat saat ini menangani sekitar 250.000 ton per tahun dan sekitar 1 juta paket per hari. Perusahaan juga telah memiliki sekitar 6 juta seller dan partner yang bergabung.
Imam mengatakan jaringan itu menjadi salah satu alasan SiCepat melihat peluang untuk memperluas bisnis dari layanan express dan last-mile delivery ke layanan logistik yang lebih terintegrasi.
“Logistik memang harus dikembangkan, tidak hanya express dan tidak hanya last-mile delivery,” katanya.
Bidik Pasar Rp3.000 triliun pada 2030Dia menilai peluang pasar logistik di Indonesia masih sangat besar. Bisnis courier, express, and parcel yang selama ini digarap SiCepat disebut baru mencakup sekitar 10% dari total pasar logistik yang diproyeksikan hampir US$ 178 miliar atau setara Rp3.000 triliun pada 2030.
Sementara itu, sekitar 90% aktivitas lainnya berada di sektor logistik di luar bisnis courier, express, and parcel.
Karena itu, SiCepat Logistik diarahkan untuk membangun integrated supply chain and distribution ecosystem yang mencakup proses logistik dari hulu hingga hilir, baik untuk kebutuhan online maupun offline.
Ekosistem itu mencakup distribusi barang mulai dari pabrik, principal atau brand, distributor, retailer, hingga konsumen. Untuk mendukung layanan tersebut, SiCepat Logistik akan menggunakan sistem multimoda, mulai dari trucking, kapal laut, hingga air freight.
Dari sisi layanan, SiCepat Logistik menyediakan sejumlah solusi seperti full truckload (FTL), less than truckload (LTL), trucking, warehousing, custom logistics, freight forwarding, export-import, custom clearance, hingga layanan cargo.
SiCepat juga membawa kapabilitas teknologi yang telah digunakan dalam bisnis express ke bisnis logistik, termasuk real-time tracking, dashboard, API, order, pickup, dan tracking system. Perusahaan juga menggandeng CKL Cargo dalam pengembangan layanan tersebut.
Selain itu, SiCepat Logistik mengembangkan layanan SiCepat Fast Lane untuk mendukung distribusi antar-pulau menggunakan kapal laut. Layanan tersebut ditujukan sebagai alternatif di tengah meningkatnya biaya logistik udara.
Melalui SiCepat Fast Lane, perusahaan menawarkan layanan distribusi antar-pulau yang dapat digunakan untuk kebutuhan last mile, transportasi antargudang, hingga distribusi ke retailer.
Dengan ekspansi tersebut, SiCepat menargetkan pembangunan ekosistem logistik end-to-end yang mencakup first mile, middle mile, hingga last mile.
“Barang dari pabrik atau manufaktur, kemudian keluar sampai ke principal atau brand, distributor, retailer, hingga sampai ke tangan konsumen, semuanya bisa kita layani,” kata Imam.
Imam menambahkan, SiCepat Logistik telah melayani sejumlah sektor industri, antara lain makanan dan minuman (F&B), healthcare, research and development (R&D), serta pendidikan.





Komentar (0)