BANDUNG, KOMPAS- Sebanyak 194 desa di Jawa Barat dilanda kekeringan selama sebulan terakhir. Akibatnya, 205.567 warga krisis air bersih.
Pranata Hubungan Masyarakat di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jabar, Hadi Rahmat di Bandung, Selasa (28/7/2026), mengatakan, 194 desa itu tersebar di 15 kabupaten dan kota.
Daerah itu antara lain Kabupaten Bekasi, Kabupaten dan Kota Bogor, Garut, Purwakarta, Bandung Barat, Kota Sukabumi, dan Kabupaten Ciamis. "Sejauh ini, daerah terdampak paling besar adalah Kabupaten Bogor dengan 107.109 jiwa," papar Hadi.
Ia menuturkan, di daerah terdampak kekeringan, tercatat curah hujannya sangat rendah, tanah mengering dan retak, serta berkurangnya sumber air di sumur maupun area mata air. Kondisi tersebut berpotensi memicu gagal panen bila tidak segera diatasi.
Sejauh ini, Hadi mengatakan, BPBD Jabar telah menyalurkan bantuan air bersih ke semua desa terdampak. Total bantuannya mencapai 4 juta liter air.
"Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan seluruh pihak yang berwenang. Tujuannya, mempercepat penanganan serta memastikan distribusi air berjalan merata, " tuturnya.
Ke depan, Hadi mengimbau masyarakat mewaspadai tanda-tanda kekeringan dan menghemat penggunaan air selama musim kemarau berlangsung.
"Kami meminta warga untuk segera melapor kepada aparatur wilayah setempat apabila mengalami kesulitan memperoleh air bersih. Kami akan berupaya membantu warga, " tambahnya.
Nemin, warga Desa Parungmulya, Kabupaten Karawang, mengatakan, terpaksa menggali kubangan kecil di dasar sungai demi mendapatkan air. Air yang keluar dari kubangan tersebut ditampung menggunakan ember.
"Saya menggunakan air ini untuk memenuhi kebutuhan mandi dan mencuci sehari-hari, " ungkapnya.
Prakirawan di Stasiun Klimatologi Jabar Vivi Indhira memaparkan, BMKG memprediksi 93 persen wilayah diperkirakan mengalami sifat hujan di bawah normal. Adapun wilayah yang diprediksi mengalami curah hujan normal umumnya berada di bagian utara Jabar.
”Musim kemarau kali ini akan lebih kering dibandingkan kondisi klimatologis normal,” katanya.
Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus dan mencakup sekitar 90 persen wilayah Jabar. Sementara itu, 8 persen wilayah, terutama di bagian timur dan utara, diperkirakan mencapai puncak kemarau pada Juli, sedangkan 2 persen wilayah lainnya di bagian utara pada September.






Komentar (0)