1. Apa yang sebenarnya terjadi dalam bentrokan warga di Menteng?
2. Mengapa bentrokan di Jalan Tambak bisa berubah menjadi aksi berdarah?
3. Bagaimana penanganan polisi terhadap kasus bentrokan di Menteng?
4. Mengapa kawasan Jalan Tambak kerap menjadi lokasi bentrokan?
5. Apa yang perlu dilakukan agar bentrokan serupa tidak terulang?
Bentrokan di Jalan Tambak I, Kelurahan Pegangsaan, Menteng, Jakarta Pusat, pada Minggu (26/7/2026), bermula dari gesekan yang tampak sepele. Polisi menyebut seorang anggota kelompok masyarakat menggeber knalpot sepeda motor hingga mengganggu warga. Saat ditegur, ia tidak terima lalu memanggil rekan-rekannya untuk kembali ke lokasi.
Menurut Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Budi Hermanto, kelompok tersebut kemudian melampiaskan kemarahannya dengan merusak gerobak pedagang nasi uduk di depan Masjid Jami Matraman. Tindakan itu memicu kemarahan warga yang kemudian melakukan penyerangan balik terhadap kelompok pelaku.
Keributan berkembang menjadi bentrokan massal. Polisi mencatat satu orang tewas akibat pengeroyokan dan satu orang lainnya mengalami luka berat. Selain korban jiwa, sejumlah bangunan, kendaraan, dan fasilitas di sekitar lokasi juga mengalami kerusakan akibat aksi saling serang.
Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa konflik tidak dipicu persoalan pembayaran makanan seperti sempat beredar di masyarakat. Pengurus Masjid Jami Matraman, Rino Prabowo, menegaskan bentrokan murni dipicu ketidakpuasan setelah ditegur karena kebisingan knalpot, yang kemudian berkembang menjadi aksi perusakan dan kekerasan.
Peristiwa di Jalan Tambak tidak berhenti pada cekcok antara dua pihak. Setelah gerobak pedagang dirusak, warga sekitar yang merasa pedagang menjadi korban ikut turun tangan. Situasi yang semula berupa perselisihan berubah menjadi bentrokan antarkelompok dengan jumlah massa yang terus bertambah.
Saksi mata Fian menuturkan, warga memasuki lahan kosong yang menjadi tempat berkumpul salah satu kelompok masyarakat. Mereka merusak pagar, menjebol tembok, dan melempari orang-orang di dalam menggunakan batu. Beberapa korban bahkan diseret keluar dan dianiaya hingga mengalami luka parah.
Menurut Fian, banyak warga lain ikut terlibat setelah diduga terprovokasi oleh situasi yang semakin panas. Akibatnya, jumlah massa terus membesar sehingga aparat membutuhkan waktu untuk mengendalikan keadaan. Kondisi itu memperlihatkan bagaimana konflik lokal dapat berkembang cepat ketika emosi massa tidak terkendali.
Pengurus Masjid Jami Matraman Rino Prabowo juga mengungkapkan bahwa pada malam harinya kelompok yang sebelumnya diserang sempat kembali membawa senjata tajam. Beruntung aparat berhasil melakukan dialog sehingga bentrokan susulan berhasil dicegah.
Kepolisian menangani perkara ini sebagai dua tindak pidana yang berbeda, yakni perusakan dan penganiayaan yang menyebabkan kematian. Setelah melakukan olah tempat kejadian perkara, memeriksa saksi, dan menganalisis rekaman CCTV, polisi menetapkan tujuh tersangka.
Empat orang berinisial NA, AJL, FAM, dan ELL menjadi tersangka kasus perusakan gerobak pedagang. Sementara tiga orang lainnya, yakni SK, AS, dan OR, ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pengeroyokan yang menyebabkan satu orang meninggal.
Menurut Kombes Budi Hermanto, penyidikan belum berhenti. Polisi masih mengembangkan perkara untuk mengetahui kemungkinan adanya pelaku lain yang ikut terlibat dalam bentrokan tersebut. Proses hukum, kata dia, akan dilakukan secara profesional.
Kepala Polres Metro Jakarta Pusat Kombes Reynold EP Hutagalung menambahkan, aparat gabungan dari Polda Metro Jaya, Polres, Polsek, dan TNI terus berjaga di sejumlah titik rawan. Pengamanan dilakukan sembari mengajak masyarakat menahan diri agar situasi tetap kondusif.
Bentrokan terbaru di Jalan Tambak bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Kawasan Pegangsaan, Menteng Atas, Manggarai, dan Pasar Manggis telah lama dikenal sebagai wilayah yang rawan konflik antarkelompok. Kompas bahkan mencatat jejak kekerasan di kawasan itu sejak akhir 1990-an.
Pada 2019, warga dari empat kelurahan pernah membuat ikrar damai untuk mengakhiri stigma sebagai kampung tawuran. Namun, berbagai konflik masih terus berulang meski pemicunya sering kali hanya persoalan kecil, seperti perselisihan antarwarga atau anak-anak.
Penelitian Program Studi Kriminologi Universitas Budi Luhur yang dimuat dalam Deviance Jurnal Kriminologi menyebut tawuran di kawasan Manggarai dan sekitarnya telah berkembang menjadi budaya kekerasan yang diwariskan antargenerasi. Solidaritas kelompok dan aksi balas dendam menjadi faktor yang membuat konflik sulit berhenti.
Karena itu, bentrokan di Jalan Tambak dipandang bukan sekadar persoalan spontan, melainkan bagian dari persoalan sosial yang telah berlangsung lama. Upaya penegakan hukum perlu disertai pendekatan sosial agar mata rantai kekerasan dapat diputus.
Berbagai pihak menilai penegakan hukum saja tidak cukup menghentikan konflik di Jalan Tambak. Anggota Komisi A DPRD Jakarta Kevin Wu meminta Pemerintah Provinsi Jakarta memperkuat Satgas Jaga Jakarta agar lebih aktif mendeteksi potensi konflik sebelum berkembang menjadi bentrokan.
Satgas tersebut diharapkan memperkuat koordinasi antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat. Selain itu, Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) diminta lebih aktif mengenali gejala konflik sehingga penyelesaian dapat dilakukan melalui mediasi lebih awal.
Staf Khusus Gubernur Jakarta Bidang Komunikasi Publik Chico Hakim mengatakan, Gubernur Pramono Anung telah menginstruksikan perangkat wilayah berkoordinasi dengan polisi, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh pemuda untuk menjaga situasi tetap aman. Warga juga diminta tidak mudah terprovokasi ataupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Sementara itu, Camat Menteng Nurhelmi Savitri menyatakan pemerintah kecamatan akan menggelar dialog dengan tokoh masyarakat serta mengganti gerobak pedagang yang dirusak agar aktivitas ekonomi dapat kembali berjalan. Langkah-langkah tersebut diharapkan menjadi awal pemulihan sekaligus pencegahan konflik serupa.






Komentar (0)