Laporan ke Prabowo AHY Ungkap Ada Dua Ancaman Besar El Nino, Apa Saja?

tvonenews.com
11 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, tvOnenews.com — Pemerintah mulai mematangkan langkah antisipasi menghadapi potensi cuaca ekstrem akibat fenomena El Nino yang diperkirakan beririsan dengan musim kemarau. 

Dua ancaman utama menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto, yakni risiko krisis air dan meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan, dirinya diundang mengikuti rapat terbatas di Istana Kepresidenan untuk membahas strategi menghadapi dampak El Nino yang diperkirakan semakin kuat.

“Iya saya mendapatkan undangan untuk mengikuti rapat terbatas yang saya tahu tentang mengantisipasi cuaca ekstrem, khususnya El Nino yang berhimpitan dengan masa kemarau,” kata AHY di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (28/7/2026).

Menurut AHY, pemerintah memfokuskan perhatian pada dua persoalan yang dinilai paling krusial. Pertama, memastikan ketersediaan air tetap terjaga di tengah ancaman kemarau panjang.

Ia menegaskan, pengelolaan sumber daya air harus dilakukan secara efisien agar pasokan air bersih bagi masyarakat tetap terpenuhi, sekaligus menjamin kebutuhan irigasi untuk menjaga produktivitas sektor pertanian.

“Jadi tentu kita harus mengantisipasi paling tidak dua isu utama. Yang pertama adalah kekurangan air, kekeringan, ketika terjadi El Nino apalagi dengan status yang kuat misalnya, maka kita harus memastikan air kita cukup,” jelas dia.

“Sumber daya air yang harus dikelola dengan efisien untuk memastikan suplai air bersih untuk rumah tangga, termasuk tentunya irigasi untuk mengairi sawah-sawah dan meningkatkan atau menjaga produktivitas pertanian kita juga dapat dijamin dengan baik,” lanjutnya.

Selain mengoptimalkan pengelolaan sumber daya air, pemerintah juga membuka peluang melakukan operasi modifikasi cuaca apabila kondisi di lapangan mengharuskannya. Langkah tersebut akan dikoordinasikan bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk menjaga ketersediaan air di waduk maupun danau.

“Kemudian tentunya selain itu kita harus mengantisipasi jika memang sangat diperlukan, tentu kita berkoordinasi dengan BMKG misalnya untuk melakukan operasi modifikasi cuaca untuk memastikan waduk-waduk kita debit airnya tetap dalam kondisi yang aman, termasuk danau,” tutur AHY.

Ancaman kedua yang menjadi perhatian pemerintah adalah meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan. AHY menilai karhutla merupakan persoalan serius yang harus dicegah sejak dini agar titik-titik api tidak berkembang menjadi kebakaran besar.

Ia menambahkan, kawasan lahan gambut harus dijaga tetap basah sebagai bagian dari strategi mitigasi untuk menekan potensi kebakaran.

“Nah, yang kedua tentu juga ada ancaman Karhutla, kebakaran hutan dan lahan. Ini juga sesuatu yang serius harus kita antisipasi, jangan sampai titik-titik api tidak bisa kita kontrol dengan baik,” ungkapnya.

“Tanah lahan gambut itu juga harus tetap dalam kondisi yang basah. Ini untuk memitigasi potensi kebakaran hutan. Saya rasa itu ya, sebagai pendekatan,” tandas dia. (agr/cmi)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
BIAS 2026 Kota Kediri Dimulai Agustus, Dinkes Ajak Sekolah Sukseskan Imunisasi Anak
• 9 jam lalu
0
thumb
Hasil Survei Kepuasan Kepimpinan
• 16 jam lalu
0
thumb
Banyak Acara Internasional Digelar di Tanah Air, Qodari: Jadi Bukti Indonesia Negara yang Aman dan Nyaman
• 13 jam lalu
0
thumb
NFC China-BRMS Bakal Garap Timah Hitam di Sumut, Kapasitas 1 Juta Ton per Tahun
• 1 jam lalu
0
thumb
Dari PRSU Hingga Kursi Kepemimpinan: Kisah "Cinta Tukang Parkir'
• 7 jam lalu
0
Berhasil disimpan.