Menelusuri Jejak Biksu Xuanzang Melintasi Lanskap Suci Dunia Buddhis yang Telah Hilang

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

Oleh Eusebia (Venus Upadhayaya)

Salah satu catatan perjalanan paling penting dan paling rinci mengenai Jalur Sutra kuno berasal dari perjalanan biksu Tiongkok Xuanzang (玄奘), yang hidup pada awal Dinasti Tang (626–907). Ia juga dikenal sebagai sosok yang menginspirasi tokoh Biksu Tang dalam novel klasik besar Perjalanan ke Barat (Journey to the West).

Berabad-abad kemudian, luasnya perjalanan dan besarnya tantangan yang dihadapi Xuanzang tetap belum tertandingi—bahkan hingga abad ke-19 ketika para penjelajah Barat melakukan ekspedisi panjang untuk menemukan kembali wilayah-wilayah yang pernah dilalui biksu Tiongkok tersebut dalam perjalanannya ke India demi mencari Dharma Buddha.

Xuanzang lahir pada tahun 602 di sebuah keluarga cendekiawan Konfusianisme di wilayah yang kini menjadi Provinsi Henan, Tiongkok. Keinginannya memperoleh ajaran asli Buddha Sakyamuni, yang telah mencapai pencerahan dan mengajarkan Dharma lebih dari seribu tahun sebelumnya, mendorongnya menempuh perjalanan sejauh sekitar 15.500 hingga 16.500 mil pulang pergi ke India dalam pengembaraan yang berlangsung selama 17 tahun.

Ia juga menjelajahi India secara luas, mengunjungi banyak tempat suci agama Buddha dan bertemu para penganutnya di seluruh anak benua India.

Setelah memasuki India, ia mengembara melintasi berbagai kerajaan dari bagian paling utara anak benua India hingga ke selatan, barat, dan timur. Selama 17 tahun ziarahnya, ia mengunjungi lebih dari 100 kerajaan yang kini berada di wilayah sembilan negara di Asia Selatan, Asia Timur, dan Asia Tengah.

Perjalanan “Ziarah Bayangan”

Seluruh perjalanan Xuanzang melintasi wilayah India Raya dibagi menjadi kawasan “Shadow Pilgrimage” (Ziarah Bayangan) dan “Sacred Geography” (Geografi Suci) oleh Aparajita Goswami dan Deepak Anand dalam buku mereka The Pilgrimage Legacy of Xuanzang. Beberapa tahun lalu saya membeli buku tersebut di sebuah toko buku kecil di luar gerbang Kuil Mahabodhi di Bodh Gaya, tempat Buddha Sakyamuni mencapai pencerahan di bawah Pohon Bodhi.

Bagi Xuanzang, pencari kebijaksanaan Buddha yang tiada bandingnya, Bodh Gaya—yang pada zamannya dikenal sebagai Mahabodhi (sementara permukiman besarnya disebut Urvela)—merupakan tujuan ziarah tertinggi.

Ia meninggalkan uraian yang sangat rinci mengenai kuil tersebut beserta lingkungannya, termasuk gambaran patung Buddha berlapis emas yang duduk dalam posisi bhumisparsha (menyentuh bumi), yang memperingati saat Buddha mencapai pencerahan, serta pohon pipal suci (Ficus religiosa) tempat Buddha memperoleh pencerahan.

Menurut Goswami dan Anand, ketika Xuanzang tiba di Magadha, kerajaan kuno tempat Mahabodhi berada, lima tahun telah berlalu sejak ia meninggalkan Chang’an, ibu kota Dinasti Tang.

Saat biksu Tiongkok itu tiba di Urvela, sejumlah besar biksu telah berkumpul di sana setelah musim hujan berakhir. Tak lama kemudian, kabar tentang kedatangannya sampai ke Nalanda Vihara, universitas berasrama terbesar di dunia kuno sekaligus pusat utama kajian Buddhisme.

Xuanzang kemudian diantar ke Nalanda dengan penyambutan meriah dan diterima oleh kepala biara yang telah berusia lebih dari 80 tahun, Śīlabhadra, yang meminta Raja Harsha memberikan hasil pendapatan dari tiga desa di sekitar Nalanda untuk membiayai masa tinggal Xuanzang di universitas tersebut.

Xuanzang juga meninggalkan catatan rinci mengenai Raja Harsha, yang ia sebut Śīlāditya (“Matahari Kebajikan”). Berkat anugerah kerajaan itulah Xuanzang dapat tinggal di Nalanda, mempelajari berbagai śāstra dan sutra, serta menyiapkan naskah-naskah yang kemudian dibawanya kembali ke Tiongkok.

Sebelum mencapai Bodh Gaya atau Nalanda—tempat ia tinggal hampir lima tahun—Xuanzang telah mengunjungi banyak pusat ziarah penting lainnya dalam perjalanan dari Asia Tengah menuju India. Catatannya menjadi salah satu deskripsi paling rinci mengenai geografi abad ke-7.

Uraiannya begitu akurat sehingga pada masa kolonial para penjelajah, arkeolog, dan ekspedisionis berusaha membangun kembali dunia yang digambarkannya berdasarkan tulisan-tulisan tersebut.

Arkeolog dan sejarawan seni asal Prancis Alfred Charles Auguste Foucher, yang mengkhususkan diri pada ikonografi Buddha dan pertama kali mengemukakan bahwa bentuk patung Buddha sangat dipengaruhi tradisi seni Yunani, menulis komentar panjang mengenai Geografi Kuno Gandhara berdasarkan catatan perjalanan Xuanzang.

Goswami dan Anand menjelaskan bahwa wilayah Ziarah Bayangan terletak di sepanjang Jalur Sutra, di kawasan yang pernah dilalui Aleksander Agung—wilayah yang kini berada di Afghanistan dan Pakistan dan dahulu menjadi penghubung antara Tiongkok dan India.

Tempat-tempat ini bukanlah lokasi yang pernah dikunjungi langsung oleh Buddha Sakyamuni ketika menyebarkan Dharma, maupun tempat penyimpanan relik utama beliau. Kawasan tersebut berkembang kemudian di bawah pemerintahan Yunani-Baktria, Indo-Yunani, dan Kekaisaran Kushan, yang melestarikan berbagai benda yang dikaitkan dengan Buddha, termasuk pakaian dan barang-barang pribadinya.

Xuanzang memasuki anak benua India melalui Jalur Sutra bagian barat dan mengunjungi sejumlah lokasi ziarah di jalur Ziarah Bayangan, termasuk kerajaan Hwo (Kunduz), Baktra (Balkh), Kie-chih (Dara-i-Suf), Bamiyan, Gandhara, Kapisa (Bagram), Lanpo (Lamghan), dan Nagarahara (Jalalabad).

Kini kerajaan-kerajaan kuno tersebut berada di Afghanistan bagian timur dan utara serta Pakistan. Dari Nagarahara, Xuanzang memasuki Gandhara lalu menuju Taxila, sebelum melanjutkan perjalanan ke Kashmir. Dari sana ia bergerak menuju Magadha dan akhirnya tiba di Urvela.

Rute ini penting untuk dikenang kembali karena pada dasarnya telah lenyap dari dunia modern, berulang kali dihancurkan oleh invasi, peperangan, dan pergolakan politik sejak abad ke-10. Namun pada masa Xuanzang, kawasan tersebut merupakan wilayah yang makmur secara ekonomi, kaya budaya, dan para penguasanya secara aktif melindungi agama Buddha.

Sebagian relief dan patung Buddha dari situs-situs di jalur Ziarah Bayangan kini masih tersimpan di Museum Lahore dan Museum Nasional Afghanistan di Kabul yang porak-poranda akibat perang.

Kita juga mengetahui nasib tragis Patung Buddha Raksasa Bamiyan, yang dihancurkan Taliban pada tahun 2001. Pada masa Xuanzang, patung-patung monumental itu masih berdiri megah dan baru berusia beberapa abad.

Yang tidak kalah menarik adalah bagaimana geografi Buddha “Bayangan” ini terus direplikasi di sepanjang Jalur Sutra yang lebih luas, sementara Geografi Suci tetap berada di lokasi yang sama.

Kompleks gua Buddha paling awal di Kizil (Xinjiang sekarang) dan Gua Mogao dekat Dunhuang telah menjadi bagian dari Geografi Bayangan sejak masa Xuanzang. Kini relik-relik dan manuskripnya tersebar di berbagai museum di seluruh dunia.

Gua-gua tersebut dihiasi lukisan-lukisan megah yang menggambarkan kehidupan Buddha Sakyamuni beserta manuskrip-manuskrip Buddha yang ditemukan kembali oleh para penjelajah Barat pada masa The Great Game abad ke-19.

“Geografi Suci”

Menurut Goswami dan Anand, wilayah Geografi Suci yang dilalui Xuanzang disebut Buddhacarika, yang berarti “pengembaraan agung Sang Buddha.”

Sebelum membahas rute tersebut, menarik untuk memahami makna metaforis kata Sanskerta Buddhacarika. Sebagaimana dalam bahasa Tionghoa makna sebuah kata bergantung pada karakter penyusunnya, dalam bahasa Sanskerta makna muncul dari akar katanya.

Buddhacarika (बुद्धचरिका) berasal dari dua akar kata, yaitu Buddha (बुद्ध) dan Carikā (चरिका).

Karena itu, Buddhacarika secara harfiah berarti “pengembaraan Buddha”, tetapi juga dapat dimaknai sebagai “jalan menuju pencerahan Buddha.”

Penafsiran ini sesuai dengan sejarah. Sejak meninggalkan istana ayahnya sebagai seorang pangeran hingga bertahun-tahun mengembara dan mengajarkan Dharma di dataran Sungai Gangga, Sakyamuni menyebut dirinya sebagai Bodhisattva. Baru setelah mencapai pencerahan di bawah Pohon Bodhi, beliau menyebut dirinya Tathāgata.

Dengan demikian, Buddhacarika melambangkan wilayah yang dilalui Buddha selama menjalani pertapaan, meditasi, dan transformasi spiritual dari Bodhisattva menjadi Tathāgata. Lanskap inilah yang kemudian menjadi tujuan ziarah utama para pengikut Buddha, termasuk Xuanzang.

Secara geografis, jalur tersebut meliputi kerajaan Magadha, Vajji, Kosala, dan Kuru.

Magadha menjadi pusatnya karena mencakup Urvela (Mahabodhi), Nalanda Mahavihara, dan berbagai tempat lain yang berkaitan langsung dengan kehidupan Buddha.

Vajji merupakan konfederasi kerajaan sekaligus lokasi retret musim hujan terakhir Buddha, tempat beliau mengumumkan semakin dekatnya Parinirvāṇa, yakni wafat terakhir yang melampaui siklus kelahiran dan kematian.

Kosala, dengan ibu kota Śrāvastī, merupakan kerajaan terkuat pada masa Buddha dan tempat beliau menjalani banyak retret musim hujan. Namun ketika Xuanzang datang, kerajaan itu telah lenyap secara politik, walaupun tempat-tempat sucinya masih tetap ada.

Kuru bahkan merupakan kerajaan yang lebih tua daripada masa Buddha sendiri. Kerajaan Veda yang mencakup wilayah Haryana, sebagian Delhi, dan Uttar Pradesh bagian barat ini penting dalam geografi suci Buddhisme karena di sinilah Buddha menyampaikan Mahāsatipaṭṭhāna Sutta dan Satipaṭṭhāna Sutta.

Pada masa Xuanzang, Kuru sudah tidak lagi berdiri sebagai kerajaan, meskipun Buddhisme masih berkembang di sana, walaupun tidak sekuat di Magadha. Saat Xuanzang mengunjungi Geografi Suci tersebut, sebagian besar wilayah berada di bawah pemerintahan Raja Harsha.

Mahāsatipaṭṭhāna Sutta dan Satipaṭṭhāna Sutta merupakan dua khotbah dasar Buddhisme mengenai praktik kesadaran penuh (mindfulness).

Prestasi dan Kontribusi Xuanzang bagi Buddhisme Tiongkok

Hampir satu dekade setelah meninggalkan Chang’an, Universitas Nalanda menerima undangan dari Raja Śīlāditya untuk mengikuti sebuah debat ilmiah besar di Kanyakubja, ibu kota kerajaannya.

Perdebatan tersebut mempertemukan aliran Mahayana dan Hinayana.

Saat itu Xuanzang telah membangun reputasi luar biasa sebagai cendekiawan di Nalanda dan diminta memimpin perdebatan tersebut. Acara itu dihadiri 3.000 biksu Buddha, 2.000 brahmana, serta para raja dan pangeran dari berbagai kerajaan.

Perdebatan berlangsung selama 18 hari, tanpa seorang pun berhasil mematahkan argumen Xuanzang.

Sebagai penghargaan atas kepakarannya, para biksu Mahayana menganugerahinya gelar “Mahayana Deva”, yang berarti “Dewa Mahayana”, sedangkan para sarjana Hinayana memberinya gelar “Moksha Deva”, yang berarti “Dewa Pembebasan.”

Dalam buku mereka, Goswami dan Anand menyebut pertemuan tersebut sebagai “contoh unik pertukaran budaya dalam sejarah hubungan India–Tiongkok.”

Salah satu aspek terpenting perjalanan Xuanzang melintasi Geografi Suci adalah bahwa ia tidak hanya mengumpulkan kitab-kitab suci Buddha, tetapi juga menyaksikan bagaimana Raja Ashoka menandai lanskap suci dengan berbagai monumen dan penanda peringatan, sementara Raja Kanishka membangun infrastruktur Buddhisme di sepanjang jalur Ziarah Bayangan.

Perlindungan kerajaan tersebut, dipadukan dengan beragam ritual dan kisah lokal, membuat ajaran, kisah, dan ingatan tentang Buddha tetap hidup di tengah masyarakat.

Xuanzang membawa kembali ke Tiongkok kesan mendalam itu bersama enam miniatur patung Buddha Sakyamuni dari berbagai tempat ziarah, 150 relik suci Buddha untuk ditempatkan di biara-biara di seluruh Tiongkok, serta 657 naskah Sanskerta.

Setelah kembali ke Tiongkok, Xuanzang masih hidup selama 19 tahun, yang seluruhnya ia dedikasikan untuk menerjemahkan naskah-naskah Sanskerta tersebut ke dalam bahasa Tionghoa.

Walaupun penulis lahir dalam keluarga India, penulis memiliki nama Yunani. Hingga beberapa waktu lalu, itulah satu-satunya hubungan penulis dengan Yunani.

Kemudian penulis mulai menelusuri sejarah kawasan tempat saya berasal—sejarah yang membentang selama berabad-abad di sepanjang lembah Sungai Indus, mulai dari Ladakh, Jammu dan Kashmir, Punjab, serta Himachal Pradesh hingga wilayah Pakistan modern dan Afghanistan bagian timur.

Dalam proses itu penulis menemukan bukan hanya nama-nama tempat yang berkaitan dengan Yunani, tetapi juga hubungan yang sangat dalam antara budaya, agama, spiritualitas, sejarah, dan arkeologi Yunani serta India, terutama di India bagian utara.

Ketika Dhamma (Dharma) Buddha mencapai bangsa Yunani, istilah itu diterjemahkan sebagai Eusebeia, yang berarti “kesalehan” atau “penghormatan.”

Karena itu, Eusebeia (सद्भक्ति dalam bahasa Sanskerta; 淑敬 dalam bahasa Tionghoa) merupakan upaya untuk menelusuri hubungan tersebut secara sungguh-sungguh dan membagikannya kepada dunia—dengan harapan dapat menerangi ikatan abadi antara Timur dan Barat.

Artikel ini terbit di Visiontimes.com


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Jadwal SIM Keliling Bandung Hari Ini 28 Juli 2026, Cek Lokasi dan Persyaratan
• 11 jam lalu
0
thumb
Berita Populer: Jumlah Pesanan Jaecoo J5 EV; Gerai 70mai Tahun Ini
• 10 jam lalu
0
thumb
BPK Kaltim Memfasilitasi Pameran Tunggal Maestro Cadio Tarompo untuk Dukung Pelestarian Seni Rupa
• 5 menit lalu
0
thumb
Meriahkan HUT RI Ke-81, Warga Lereng Gunung Lawu Hias Jalan dengan Motif Batik dan Pasang Penjor
• 21 jam lalu
0
thumb
Penjelasan Lengkap John Herdman soal Alasannya Pimpin Timnas Indonesia dari Tribune: Mereka Cetak 3 Gol Tanpa Pelatih di Pinggir Lapangan
• 7 jam lalu
0
Berhasil disimpan.