Komisi IX DPR meminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menerapkan pemeriksaan kesehatan mental secara berkala bagi seluruh tenaga kesehatan, terutama dokter.
Hal itu disampaikannya menyusul meninggalnya seorang dokter muda bernama Siti Zahra Maghfira yang diduga melompat dari lantai 18 sebuah apartemen di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan.
Anggota Komisi IX DPR Irma Suryani Chaniago mengatakan, skrining kesehatan mental secara rutin diperlukan agar kondisi psikologis tenaga kesehatan dapat terpantau dan berbagai persoalan yang berpotensi membahayakan dapat dicegah sejak dini.
“Iya, kita memang mengusulkan, ya, Komisi IX mengusulkan kepada kementerian untuk diadakannya cek kesehatan secara berkala, kesehatan mental ya, secara berkala untuk semua petugas-petugas kesehatan, terutama dokter. Agar jangan terjadi seperti hari ini, ada yang meninggal, ada yang di-bully, gitu ya, kemudian enggak kuat mentalnya dan lain sebagainya,” kata Irma di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (28/7).
Menurut Irma, pemeriksaan kesehatan mental berkala menjadi salah satu langkah yang perlu dilakukan untuk memastikan tenaga kesehatan tetap memiliki kondisi psikologis yang baik dalam menjalankan pekerjaannya.
“Jadi untuk mengatasi itu, maka harus ada cek kesehatan secara berkala agar dokter-dokter yang bekerja atau semua petugas kesehatan yang bekerja itu mentalnya kuat, mentalnya stabil, dan sehatlah secara lahir dan batin. Jangan sampai ada kejadian-kejadian seperti ini kan, yang kejadian bunuh diri ini toh,” ujarnya.
Ia menilai, peristiwa tersebut juga menjadi catatan serius bagi Kemenkes dalam mengelola sistem pembinaan tenaga kesehatan.
“Nah, yang seperti ini kan menjadi preseden buruk bagi Kementerian Kesehatan dalam mengatur tata kelola juga,” tutur Irma.
Karena itu, ia meminta Kemenkes mengambil langkah tegas dengan membuat aturan yang mewajibkan pemeriksaan kesehatan mental secara berkala bagi tenaga kesehatan.
“Makanya kita minta Kementerian Kesehatan untuk bersikap tegas, ya. Ada peraturan yang memang dikeluarkan oleh kementerian, bagaimana semua pegawai kesehatan gitu ya, dokter terutama, melakukan cek kesehatan mental secara berkala,” kata dia.
Sebelumnya, Kemenkes menyampaikan duka cita atas meninggalnya dokter muda bernama Siti Zahra Maghfira (SZM). Dokter tersebut ditemukan tewas setelah diduga melompat dari lantai 18 sebuah apartemen di Jakarta Selatan, pada Minggu (26/7) siang.
“Dengan penuh rasa duka, Kementerian Kesehatan menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas berpulangnya dr. Siti Zahra Maghfira, peserta Program Internsip Dokter Indonesia di RS Sentra Medika, Cisalak, Depok, Jawa Barat,” demikian keterangan Kemenkes di Instagram resminya, Senin (27/7).
Kemenkes telah berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait untuk melakukan investigasi secara menyeluruh dan berkomitmen mengungkap fakta serta kronologi kejadian secara utuh.
Ke depan, Kemenkes menyatakan akan terus memperkuat penyelenggaraan Program Internship.
“Melalui penyempurnaan tata kelola, penguatan pembinaan dan supervisi, pembatasan jam kerja, pengaturan waktu istirahat dan libur, serta peningkatan mekanisme pelindungan bagi seluruh peserta,” ujarnya.
Terkait peristiwa ini, Polisi masih menyelidiki penyebab pasti korban nekat mengakhiri hidupnya.
Korban merupakan perempuan kelahiran 2001. Ia juga diketahui sebagai lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Jenazahnya telah dievakuasi ke RS Polri Kramat Jati untuk penanganan lebih lanjut.






Komentar (0)