Konferensi Jadi Ladang Mencari Uang

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Aspek bisnis begitu kental pada sejumlah konferensi ilmiah berlabel internasional di Tanah Air. Untuk ikut sesi daring, peserta harus membayar Rp 1 juta-Rp 6 juta. Tim Investigasi Harian Kompas mengungkap, panitia konferensi mendulang keuntungan ratusan juta rupiah dari peserta hanya dari forum daring.

Investigasi selama Juni-Juli 2026 menelusuri sejumlah konferensi yang memungut biaya pendaftaran kepada peserta. Salah satunya The 6th International Research Conference on Management and Business (IRCMB) 2025 di Jakarta. Konferensi ini menyediakan tingkatan tarif berdasarkan status peserta dan sesi yang harus diikuti (daring atau hadir langsung ke lokasi pertemuan). Tarif pendaftaran juga dibedakan antara early bird dan tarif normal.

Untuk sesi daring, peserta berstatus akademisi harus membayar Rp 1 juta untuk tarif normal. Sementara untuk mahasiswa, nilainya Rp 750.000 untuk tarif normal. Jumlah pemakalah daring mencapai 237 orang! Ini terlacak dari prosiding atau kumpulan makalah IRCMB 2025.

Baca JugaGuru Besar Terlibat Konferensi Abal-abal

Dengan mengacu tarif normal terendah saja (Rp 750.000 untuk mahasiswa), panitia meraih Rp 177 juta dari peserta daring. Ini belum termasuk peserta offline yang jumlah makalahnya sebanyak 15 dengan biaya pendaftaran dua kali lipat dari peserta daring.

Senin (13/7/2026), Kompas menemui Ketua Konferensi IRCMB 2025 berinisial SH, yang juga Guru Besar Universitas Negeri Jakarta. Wawancara berlangsung lebih dari dua jam. Namun, ia tidak bersedia materi wawancara ditulis dalam laporan ini. ”Wawancara ini dianggap tidak ada saja,” kata SH.

Baca JugaIndonesia, Negara Produsen Konferensi

Berikutnya, konferensi 2nd International Academic Conference on Teaching Education and Recent Learning Technologies (ICTERLT) juga tak kalah mahal. Dalam posternya, panitia mengklaim acara diadakan di sebuah hotel di Jakarta, 17-18 Juni 2026. Saat dicek ke lokasi, ternyata tak ada kegiatan itu di hotel yang dimaksud. Sejumlah pembicara ICTERLT yang dikonfirmasi menyatakan pertemuan itu berlangsung secara virtual saja.

Dengan demikian, seluruh abstrak yang tercatat pada prosiding ICTERLT berstatus peserta daring. Dalam prosiding terindeks 25 abstrak penelitian. Adapun biaya pendaftaran untuk sesi daring mencapai 350 dolar AS. Nilai ini setara Rp 6,2 juta mengacu kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) per 23 Juli 2026. Artinya, penyelenggara ICTERLT meraup Rp 155 juta hanya dengan menggelar pertemuan ilmiah daring.

Dosen Universitas Sumatera Utara, BS, menjadi salah seorang pembicara kunci dalam ICTERLT. Ia mengaku tidak dibayar panitia. Ia menerima tawaran sebagai pembicara utama karena kegiatan ini bisa menjadi penambah angka kredit dosen. ”Cuma dikasih sertifikat (sebagai pembicara), enggak ada tawaran (fee) dari mereka (panitia),” jelasnya, Jumat (19/6/2026).

Baca JugaJanji Surga Penyelenggara Menjaring Peserta Konferensi
Panitia asal India

BS dihubungi lewat aplikasi Linkedin oleh seorang bernama Sharmila, penghubung di IFERP Academy, lembaga yang menyelenggarakan konferensi ICTERLT. Sharmila awalnya meminta BS menjadi pembicara pada konferensi di India.

BS agak lama merespons tawaran ini lantaran lokasi konferensi terlalu jauh. Kemudian, Sharmila menyatakan konferensi juga akan digelar di Indonesia dan BS bisa memaparkan materi secara visual. BS pun menyanggupinya. ”Waktu konferensi itu semua panitianya orang India. Saya juga agak bingung itu kenapa mereka juga melampirkan venue konferensinya di salah satu hotel di Jakarta,” jelasnya.

Baca JugaMakalah Bodong Lolos Konferensi Internasional

Jika keterangan BS benar, panitia ICTERLT tidak mengeluarkan dana untuk honor pembicara utama atau narasumber. Mereka juga tak perlu menyediakan akomodasi karena para pembicara menyajikan materi lewat Zoom. Hotel yang sempat diklaim menjadi venue konferensi pun tidak jadi digunakan. Dengan kata lain, semua keuntungan panitia dari pertemuan daring mencapai Rp 155 juta.

Kompas mengirimkan permintaan konfirmasi kepada IFERP lewat surel dan menghubungi Sharmila lewat Whatsapp. Namun, hingga artikel ini diturunkan, belum ada tanggapan dari mereka.

Di Yogyakarta, lembaga International Center for Research & Development (ICRD) menggelar dua konferensi ilmiah internasional pada pertengahan Juli 2026. ICRD dalam situsnya mengklaim sebagai penyelenggara konferensi terkemuka di Asia. Biaya pendaftaran kedua konferensi ini juga sangat tinggi.

Tarifnya 365-425 dolar AS, tergantung status peserta konferensi. Tarif terendah untuk peserta guru SMA atau pendengar konferensi. Tarif paling atas untuk pemakalah. Jika dikonversi, tarif dua konferensi ICRD ini setara Rp 6,5 juta-Rp 7,6 juta, kurs per 19 Juni 2026 merujuk Jisdor.

Baca JugaBegini Rasanya Ikut Konferensi Abal-abal

Dalam laman kedua konferensi bikinan ICRD disebutkan, pendaftaran hanya mencakup satu presenter, satu makalah, satu presentasi, satu publikasi, dan satu sertifikat. Jika penulis pendamping (dalam artikel ilmiah lazim disebut sebagai penulis kedua, ketiga, dan seterusnya) ingin ikut konferensi, ia harus mendaftar secara terpisah. Artinya, dari satu makalah yang ditulis bersama, panitia bisa menjaring lebih dari satu peserta. Adapun setiap peserta, seperti diuraikan di atas, membayar Rp 6,5 juta-Rp 7,6 juta.

Kedua konferensi ini juga mencantumkan adanya sesi virtual. Namun, panitia tak membedakan nominal tarif pendaftaran antara peserta virtual dan peserta yang hadir di lokasi. Kedua konferensi ini juga belum ada prosidingnya. Dalam laman konferensi disebutkan prosiding akan terbit sebelum akhir Desember 2026. Dengan begitu, jumlah peserta yang hadir dalam konferensi juga belum diketahui.

Kompas mengirimkan permintaan konfirmasi kepada ICRD lewat surel, Selasa (21/7/2026). Namun, hingga artikel ini diturunkan, belum ada tanggapan dari mereka.

Guru Besar Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, Masduki, mengatakan, konferensi berbiaya mahal menjadi salah satu ciri konferensi predator (predatory conferences). Penyelenggara biasanya event organizer global. Ada pola, pertemuan ilmiah itu dibuat di lokasi wisata. Tujuannya untuk menarik peserta. ”Mereka biasanya juga menyediakan paket tur wisata selain di luar agenda resmi,” ujarnya.

Diskusi kritis

Menurut Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi M Fauzan Adziman, konferensi ilmiah adalah forum akademik yang mempertemukan dosen, peneliti, mahasiswa, pakar, pembuat kebijakan, dunia usaha, dan komunitas ilmiah untuk menyampaikan, mendiskusikan, serta menguji hasil riset atau gagasan ilmiah.

Baca JugaBegini Rasanya Ikut Konferensi Abal-abal

Pertemuan ini akan memperkuat diseminasi hasil riset, membuka diskusi kritis, memperoleh masukan dari sejawat, membangun jejaring akademik, serta mendorong kolaborasi riset lintas institusi, lintas disiplin, bahkan lintas negara.

Dalam konferensi itu, lanjutnya, hasil riset tidak hanya disampaikan, tetapi juga dikritisi, diperkaya, dan dikembangkan agar dapat berkontribusi pada pengembangan pengetahuan. Pada saat bersamaan, riset itu diharapkan juga bisa menjawab kebutuhan masyarakat.

Konferensi juga dapat menjadi bagian dari pengakuan kinerja akademik dosen melalui angka kredit. Misalnya, melalui artikel yang dipresentasikan dan dimuat dalam prosiding ber-ISSN (international standard serial number) atau ISBN (international standard book number), atau presentasi ilmiah dalam seminar, simposium, lokakarya, atau orasi ilmiah.

Namun, menurut dia, konferensi ilmiah tidak boleh dipahami semata-mata sebagai instrumen mengejar angka kredit saja. Akademisi harus menempatkan konferensi sebagai ruang akademik untuk memperkuat mutu ilmu pengetahuan, integritas akademik, dan dampak riset bagi masyarakat.

”Keikutsertaan dalam konferensi harus selektif. Konferensi hanya bernilai bila memiliki mutu ilmiah, komite akademik yang jelas, proses seleksi yang kredibel, dan forum diskusi yang sungguh-sungguh,” ujarnya, dalam keterangan tertulis.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Harga Emas Hari Ini 28 Juli 2026: Antam dan Produk Global Kompak Melorot
• 4 jam lalu
0
thumb
Wamendagri Dorong Transformasi Kepemimpinan Perempuan di Daerah
• 22 jam lalu
0
thumb
KPK Didesak Tuntaskan Pengusutan Kadus Dugaan Suap Audit di Kabupaten Muara Enim
• 14 jam lalu
0
thumb
PERBANAS Minta Pasar tak Berspekulasi usai Perry Warjiyo Mundur dari BI
• 8 jam lalu
0
thumb
Hari Kebaya Nasional, Film Jalan Pulang Angkat Kisah Kebaya sebagai Warisan
• 3 jam lalu
0
Berhasil disimpan.