Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau di bulan ini bakal meluas di sejumlah titik di Indonesia dalam tiga hari ke depan hingga 31 Juli 2026. Data menunjukkan 509 zona musim, atau sekitar 72,8 persen wilayah Indonesia diprediksi akan ada di kondisi kering.
Kemarau membuat jumlah Hari Tanpa Hujan atau HTH ikut bertambah panjang di banyak titik pengamatan. Sebagian daerah bahkan mencatat HTH lebih dari 60 hari, dengan rekor terlama mencapai 80 hari di Purworejo, Jawa Tengah.
Fenomena El Nino menekan laju pembentukan awan hujan di sebagian besar wilayah RI. Meski begitu, hujan masih berpeluang turun secara lokal di sejumlah daerah karena pengaruh gangguan cuaca dari luar, seperti gelombang atmosfer dan bibit siklon tropis di dekat Filipina.
BMKG memantau dua indikator iklim global, yaitu Indeks Nino 3.4 dan Southern Oscillation Index (SOI). Nilai Indeks Nino 3.4 pada dasarian ini tercatat lebih tinggi dibanding periode sebelumnya, sementara nilai SOI berada jauh di bawah nol.
Kedua sinyal ini menunjukkan El Nino diperkirakan terus menguat hingga mencapai kategori kuat sepanjang tahun ini. Fenomena El Nino membuat suhu permukaan laut di Pasifik memanas secara tidak normal, sehingga pasokan uap air ke Indonesia berkurang dan awan hujan lebih sulit terbentuk.
Warga tetap perlu waspada terhadap cuaca panas, risiko kebakaran lahan, sekaligus potensi hujan lebat mendadak di titik-titik tertentu.
Berapa Wilayah yang Sudah Masuk Musim Kemarau?509 dari total zona musim di Indonesia sudah dinyatakan memasuki musim kemarau. Jumlah ini setara dengan 72,8 persen luas wilayah Indonesia. Artinya, sebagian besar daerah di Indonesia memang sedang mengalami periode kering.
BMKG juga memantau indikator bernama Hari Tanpa Hujan atau HTH. Sederhananya, HTH adalah hitungan berapa hari berturut-turut suatu titik pengamatan tidak kedatangan hujan sama sekali. Semakin lama angkanya, semakin kering pula kondisi tanah dan udara di titik tersebut.
BMKG membagi HTH ke dalam tiga tingkatan kategori yakni:
Kategori panjang21 sampai 30 hari tanpa hujan (HTH), terjadi di 1.366 titik.
Kategori sangat panjang31 sampai 60 hari tanpa hujan (HTH), tercatat di 943 titik.
Kategori ekstrem panjangLebih dari 60 hari tanpa hujan (HTH), tercatat di 70 titik pengamatan yang tersebar di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Rekor HTH terlama saat ini ada di Pos Hujan RPH Katerban, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, yang sudah 80 hari tidak diguyur hujan.
Adakah Peluang Hujan?Meski kondisi kering mendominasi, BMKG menyebut peluang hujan belum sepenuhnya hilang. Beberapa gangguan cuaca dari skala regional masih bisa memicu hujan lokal, misalnya pergerakan gelombang atmosfer yang melintasi Sumatera dan Kalimantan, serta keberadaan bibit siklon tropis di perairan utara Maluku Utara yang berpotensi menarik massa udara basah ke wilayah timur Indonesia.
Wilayah seperti Aceh, Sumatera bagian utara dan barat, sebagian Kalimantan, hingga Sulawesi Utara masih berpeluang diguyur hujan sedang hingga lebat dalam sepekan ke depan, meski secara umum cuaca nasional tetap didominasi kondisi cerah berawan dan kering.
Apa yang Perlu Diwaspadai Selama Musim Kemarau?Warga perlu mengantisipasi risiko dehidrasi dan kelelahan akibat beraktivitas di luar ruangan selama siang hari. Warga juga disarankan memakai pelindung seperti topi atau tabir surya, serta menjaga asupan cairan tubuh.
Selain itu, BMKG juga mengimbau warga untuk tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan cara dibakar, serta segera melapor ke pihak berwenang bila menemukan titik api. Risiko kebakaran hutan dan lahan turut meningkat seiring keringnya tanah dan vegetasi, terutama di lahan gambut, semak belukar, dan hutan kering.






Komentar (0)