PT IBC Buka Peluang Pengembangan Baterai Sodium-ion dan Solid State di Indonesia

katadata.co.id
1 jam lalu
Cover Berita

PT Indonesia Battery Corporation (IBC) membuka peluang pengembangan teknologi baterai sodium-ion dan solid state di Tanah Air, di samping produksi baterai lithium-ion jenis NMC dan LFP.

Baterai sodium-ion dan solid state diprediksi kian dilirik dunia. Penggunaannya antara lain untuk suplai energi kendaraan listrik dan penyimpanan energi di pembangkit listrik tenaga surya. 

President Director PT IBC, Aditya F Arif mengatakan, pihaknya sudah memetakan calon mitra asing untuk digandeng bekerja sama. “Hanya saja nanti masalah eksekusinya kami tetap harus sepersetujuan pemegang saham dan Danantara,” kata Aditya, saat ditemui di Kantor Katadata, Selasa (28/7). 

Baterai sodium-ion merupakan baterai isi ulang yang menyimpan dan melepaskan energi dengan ion natrium. Kerjanya serupa dengan baterai lithium-ion, namun umumnya lebih tahan di suhu rendah. Selain itu, bahan bakunya yang melimpah membuka potensi biaya produksi yang lebih rendah dan rantai pasok berkelanjutan.

Sementara baterai solid state menggunakan komponen elektrolit padat, seperti keramik, polimer, atau sulfida sebagai pengganti elektrolit cair. Jenis ini disebut memiliki kepadatan energi yang lebih baik dan lebih aman.

“Kami fokusnya pada kepemilikan teknologi, jadi nanti mungkin akan ada join IP (intellectual property), jadi bukan hanya kita gunakan lisensinya, tapi memang ada sesuatu yang kita miliki jointly,” ucap Aditya menambahkan.

Rencana ini sekaligus menjawab isu "ketertinggalan" Indonesia dalam perkembangan teknologi baterai nickel manganese cobalt (NMC) yang saat ini sudah matang.

“Kita kejar sesuatu yang baru, contohnya solid state battery dan sodium ion battery. Dengan sodium ion battery, chance untuk nikel digunakan di energy storage system untuk dukung solar PV dan seterusnya, itu menjadi besar,” kata dia.

Menurut Aditya, kedua jenis baterai itu masih dalam pengembangan sehingga pilihan material yang dapat digunakan masih sangat beragam. Nikel, kata dia, menjadi salah satu kandidat terbaiknya.

Sebagai informasi, PT IBC adalah perusahaan konsorsium empat BUMN yaitu PT Aneka Tambang Tbk atau Antam (ANTM), PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Pertamina (Persero), dan PT PLN (Persero). Danantara juga turut terlibat dengan perannya sebagai pengelola portofolio BUMN yang menaungi PT IBC.

Bersama konsorsium yang dipimpin raksasa baterai asal Cina, Contemporary Amperex Technology Co Ltd (CATL), PT IBC membentuk perusahaan patungan PT Contemporary Amperex Technology Indonesia (CATIB) dan membangun pabrik baterai kendaraan listrik di Karawang, Jawa Barat. 

Pabrik tersebut dijadwalkan akan diresmikan bulan depan, dalam rangka perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Aditya mengatakan, pabrik baterai yang dikembangkan PT IBC mengutamakan pemanfaatan kekayaan nikel Indonesia, melalui hilirisasi dan industrialisasi. Karena itu, produk utamanya adalah NMC, baterai lithium-ion yang menggunakan katoda berbahan nikel, mangan, dan kobalt.

Namun, pabrik tersebut juga tetap memproduksi baterai jenis dan lithium ferro phosphate (LFP), “karena bagaimanapun sekarang kan energy storage system itu punya share yang cukup besar di market baterai dan pakai LFP. Mau tidak mau kita perlu juga produksi LFP,” ujar Aditya.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, pihaknya juga tengah menjajaki teknologi-teknologi lain untuk mengolah nikel menjadi produk bernilai tambah tinggi. 


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Trump Klaim AS Miliki Persediaan Bensin untuk 1.000 Tahun
• 1 jam lalu
0
thumb
Menko IPK dorong Kawasan KUNCI Bersama ciptakan pusat ekonomi baru
• 6 jam lalu
0
thumb
19 Ribu Botol Miras Berpita Cukai Palsu Nyaris Banjiri Bali
• 1 jam lalu
0
thumb
PM Jepang Bakal Pangkas Pajak Makanan dan Minuman Jadi 1 Persen
• 3 jam lalu
0
thumb
MAKI Tagih Komitmen KPK Tahan Tersangka Kasus CSR BI-OJK
• 15 jam lalu
0
Berhasil disimpan.