Wamen ESDM, Yuliot Tanjung, merespons soal posibilitas harga Pertamax atau BBM non subsidi turun di tengah situasi global saat ini. Menurutnya, saat ini ketidakpastian global masih tinggi.
“Untuk harga pertamax, kita mengikuti harga pasar. Untuk harga pasar, kalau kita lihat kondisi secara geopolitik, ada juga uncertainty-nya cukup tinggi. Jadi justru di pasar internasional kan harga naik,” kata Yuliot ditemui di Kantor BRIN, Jakarta Pusat pada Selasa (28/7).
Menurut Yuliot perhitungan keputusan kenaikan harga Pertamax merupakan kewenangan Pertamina. Jika memang harga minyak dunia turun, maka penyesuaian harga juga akan dilakukan.
“Jadi nanti akan dihitung BPP-nya Pertamina plus itu keuntungan. Jadi nanti kami dari Kementerian ESDM akan mencoba melihat kira-kira harga yang ini keekonomian kira-kira bagaimana. Termasuk kalau potensi nanti ini harga itu secara rata-rata turun, ya tentu dari Pertamina akan menyesuaikan harga,” ujarnya.
Sebelumnya, harga minyak mentah merosot tajam pada perdagangan Senin (27/7), rekor dalam lebih dari tiga bulan karena AS menghentikan serangan harian terhadap Iran dan kapal tanker berlayar untuk memuat di terminal ekspor Kazakh yang baru-baru ini terganggu, mengurangi tekanan pasokan di pasar.
Dikutip dari Bloomberg, harga minyak mentah Brent untuk penyelesaian September turun 8,7 persen menjadi USD 88,36 per barel, penurunan satu hari terbesar sejak 17 April. West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September menurun 7,5 persen menjadi USD 82,61 per barel di New York.
Pasar minyak merosot karena AS tampaknya telah menunda pemogokan baru sejak Jumat malam, menyusul 13 malam berturut-turut serangan yang bertujuan untuk menurunkan kemampuan Iran untuk mengganggu pengiriman komersial.
Iran mengisyaratkan menahan diri dari pembalasan apa pun dan mengadakan pembicaraan dengan Oman di Selat Hormuz, meskipun Arab Saudi kemudian mengatakan mereka mencegat drone dari Irak yang menargetkan fasilitas minyaknya.






Komentar (0)