Kebakaran hutan di Prancis dan Spanyol terus berkobar. Dipengaruhi oleh suhu tinggi, kekeringan, dan angin kencang, api menyebar dengan cepat, sehingga total lebih dari 300.000 orang di kedua negara telah dievakuasi atau mengungsi.
EtIndonesia.com Pada Minggu 26 Juli 2026, api telah mendekati kota Bordeaux di Prancis, sekitar 15 kilometer dari pusat kota, dan petugas pemadam kebakaran berupaya sekuat tenaga untuk menghentikan penyebaran api. Tempat wisata terkenal Cap Ferret juga dilanda kebakaran, dan polisi mengetuk pintu rumah demi rumah untuk mengevakuasi penduduk. Di Departemen Gironde, Prancis, sekitar 42.000 hektar lahan telah hangus, dan setidaknya 153 rumah terbakar.
Bordeaux telah mendirikan pusat penampungan besar untuk menampung ratusan warga yang dievakuasi, serta merencanakan lebih banyak ruang penginapan sementara guna menghadapi kebakaran yang terus berkobar.
Salah satu warga yang dievakuasi, Jean-Claude Lyon, mengatakan, “Masalah terbesar adalah kami tidak tahu kapan bisa pulang. Awalnya kami mengira hanya akan tinggal di sini selama 24 jam, sekarang menjadi 48 jam, mungkin 72 jam, atau bahkan lebih lama.”
Sementara itu, pemerintah Prancis mengerahkan pesawat angkut militer besar A400M untuk menjatuhkan bahan penghambat api, guna membantu membentuk sabuk pemisah api dan menghentikan penyebaran api.
Kebakaran hutan di Spanyol juga tak terkendali; tiga provinsi di bagian tengah—Ávila, Madrid, dan Toledo—mengalami dampak terparah, dengan lebih dari 45.000 hektar lahan terbakar; sementara kebakaran hutan lain di Castellón, bagian timur, juga menghanguskan lebih dari 4.300 hektar. Akibat angin kencang, api sulit dikendalikan, sehingga 16 kota dan komunitas dievakuasi secara darurat, dan lebih dari 15.000 penduduk terpaksa mengungsi.
Sejak awal tahun ini, lebih dari 150.000 hektar lahan di Spanyol telah dilalap kebakaran hutan, enam kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Selain itu, kebakaran hutan di Taman Nasional Cairngorm, Skotlandia, telah berkobar selama lebih dari seminggu, dengan hingga 500 petugas pemadam kebakaran dikerahkan untuk menangani bencana tersebut; kebakaran hutan juga terjadi di sekitar Roma, Italia, serta di Puglia, bagian selatan Italia, yang mengakibatkan penutupan jalan, gangguan lalu lintas, dan evakuasi paksa wisatawan di beberapa kawasan resor tepi pantai.
Para ilmuwan menunjukkan bahwa kekeringan berkepanjangan, gelombang panas berturut-turut, dan perubahan iklim, membuat kebakaran hutan menjadi lebih sering terjadi dan skalanya pun semakin besar. Para ahli memperingatkan bahwa di tengah suhu tinggi dan kekeringan yang terus berlanjut, kebakaran hutan di berbagai wilayah Eropa masih berisiko terus meluas dalam beberapa hari ke depan.
Laporan komprehensif oleh Zheng Shengxun, wartawan New Tang Dynasty Television






Komentar (0)