JAKARTA, KOMPAS - Bursa Efek Indonesia secara resmi mengumumkan hasil evaluasi berkala atau rebalancing anggota Indeks Kompas100 yang akan efektif berlaku mulai 3 Agustus 2026. Di tengah upaya reformasi pasar modal, saham-saham dengan indikator transparansi dan likuiditas rendah, termasuk yang mendapat cap High Shareholding Concentration, dikeluarkan dari daftar. Upaya ini bertujuan menjadikan indeks Kompas100 tetap relevan bagi para investor.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan ini bersamaan dengan tujuh indeks lainnya, termasuk Indeks LQ45, IDX80, dan IDX30, pada Senin (27/7/2026). Adapun penyesuaian Indeks Kompas100 kali ini merupakan bagian dari major review atau evaluasi besar yang rutin dilaksanakan dua kali dalam setahun, yakni pada periode Februari dan Agustus.
Dalam evaluasi teranyar ini, otoritas bursa menetapkan sembilan emiten baru masuk ke dalam jajaran konstituen untuk menggantikan sembilan emiten lain yang dikeluarkan dari indeks Kompas100.
Sembilan emiten yang resmi bergabung ke dalam jajaran Indeks Kompas100 periode Agustus 2026 tersebut mencakup PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT RMK Energy Tbk (RMKE), PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP).
Kemudian, Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN), PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), serta PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN).
Sementara itu, konstituen yang dikeluarkan adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Bank BTPN Svariah Tbk (BTPS), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT MD Entertainment Tbk (FILM), dan PT H.M. Sampoerna Tbk (HMSP).
Kemudian, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul (SIDO), dan PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI).
Hasil evaluasi indeks Kompas100 ini berlaku efektif mulai 3 Agustus 2026 sampai dengan 29 Januari 2027.
Direktur Pengembangan BEI Iding Pardi, kepada Kompas, menyampaikan, berdasarkan hasil evaluasi indeks Kompas100 yang dilakukan selama bulan Juli 2026, seleksi dilakukan terhadap 150 saham yang telah tercatat lebih dari 6 bulan dengan nilai transaksi tertinggi di pasar regular selama 12 bulan terakhir sebagai universe indeks.
Metodologi perhitungan Kompas100 menerapkan metode Capped Free Float Adjusted Market Capitalization Weighted, yakni pembobotan menggunakan saham publik yang bisa diperdagangkan (free float) dengan batas bobot tertinggi (capping) sebesar 9 persen untuk setiap saham pada tiap periode evaluasi. Saham free float didefinisikan sebagai saham scripless yang dimiliki investor dengan kepemilikan di bawah 5 persen, di luar saham milik manajemen dan saham treasuri.
"Dengan mempertimbangan aspek likuiditas dan fundamental serta saham yang masuk High Shareholding Concentration (HSC), terdapat 9 saham yang keluar dan masuk indeks," kata Iding.
Penetapan saham dalam daftar HSC baru-baru ini menjadi alat BEI untuk mereformasi pasar modal dengan meningkatkan transparansi perdagangan, yang dipermasalahkan lembaga penyedia indeks global.
BEI menyaring saham-saham yang kepemilikannya terkonsentrasi, termasuk dengan indikator baru berupa dampak harga (price impact) yang baru diterapkan Juli ini.
Dalam metodologi terbaru itu, BEI mengukur saham berkapitalisasi besar dari perubahan harga saham terhadap tingkat kecepatan perputaran saham (velocity). Sementara itu, nilai velocity diperoleh dari rata-rata volume transaksi dibandingkan dengan jumlah free float.
Dengan metode tersebut, saham yang memiliki volume transaksi rendah atau velocity kecil, tetapi mengalami perubahan harga yang signifikan akan menghasilkan price-impact ratio yang tinggi. Saham-saham tersebut kemudian akan disaring lebih lanjut untuk melihat ada atau tidaknya indikasi HSC.
Direktur Infovesta Utama Wawan Hendrayana, kepada Kompas, Selasa (28/7/2026), menilai, evaluasi mayor kali ini pada dasarnya adalah pembersihan indeks.
Dari sembilan saham yang keluar, empat di antaranya berstatus HSC, seperti BREN, DSSA, FILM, dan TCPI. Empat emiten itu sudah lebih dulu didepak dari indeks utama, yakni LQ45, IDX30, dan IDX80 sejak Mei 2026.
Lima saham lainnya seperti HMSP, INTP, MTEL, SIDO, dan BTPS, keluar karena degradasi likuiditas dan kapitalisasi yang sudah berlangsung bertahap sejak 2025.
”Empat konstituen Kompas100 periode berjalan yang berstatus HSC persis keluar pada evaluasi Agustus ini. Artinya, Kompas100 periode Agustus 2026 sampai Januari 2027 bebas saham HSC,” kata Wawan.
Namun demikian, mengingat BEI mengevaluasi daftar saham berstatus HSC secara bulanan, perubahan bisa tidak sejalan.
Seiring dengan pengocokan ulang tersebut, terjadi pergeseran komposisi dan pembobotan pada saham-saham papan atas Indeks Kompas100. Dua emiten perbankan besar, yakni PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), tetap mempertahankan posisi puncaknya dengan bobot masing-masing sebesar 9,00 persen, sesuai batas maksimum (capping) yang ditetapkan.
Sementara itu, beberapa saham mencatatkan kenaikan bobot pada periode Agustus dibanding evaluasi sebelumnya, antara lain PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) yang naik 0,82 persen menjadi 4,10 persen, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) naik 0,63 persen menjadi 3,02 persen, serta PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang bobotnya naik 0,37 persen menjadi 2,35 persen. Kenaikan bobot juga dicatatkan oleh TLKM menjadi 6,23 persen, ASII menjadi 5,18 persen, TPIA menjadi 2,81 persen, dan BRPT menjadi 2,65 persen.
Perubahan komposisi konstituen dan pembobotan ini turut merubah lanskap porsi sektoral di dalam Indeks Kompas100. Sektor barang baku mencatatkan lonjakan bobot terbesar, yakni naik 2,34 persen menjadi 21,88 persen, disusul sektor consumer cyclicals yang tumbuh 1,68 persen menjadi 8,07 persen. Kenaikan porsi juga terlihat pada sektor teknologi menjadi 2,61 persen, perindustrian (industrials) menjadi 9,11 persen, serta consumer non-cyclical menjadi 2,69 persen.
Sebaliknya, penurunan bobot terbesar dialami oleh sektor infrastruktur yang menyusut 3,69 persen menjadi 8,96 persen dan sektor energi yang berkurang 3,54 persen menjadi 12,20 persen, sementara sektor kesehatan serta properti dan real estat masing-masing berada di posisi 1,31 persen dan 1,18 persen.
Indeks Kompas100 sendiri merupakan indeks harga saham yang dihitung dan dipublikasikan secara bersama oleh BEI bersama Kompas Gramedia Group sejak resmi diluncurkan pada 13 Juli 2007. Pembentukan indeks ini dimulai dari tanggal dasar 2 Januari 2002 dengan nilai dasar 100.
Selain evaluasi besar pada Januari dan Juli yang efektif per Februari dan Agustus, BEI juga menggelar evaluasi kecil atau minor review pada April dan Oktober yang efektif per Mei dan November.
Diverensiasi
Pengocokan ulang anggota ini terjadi di tengah dinamika kinerja pasar saham yang mengalami koreksi sepanjang pertengahan pertama tahun 2026. Sejak awal tahun hingga Senin (27/7/2026), indeks Kompas100 terkoreksi sebesar 33 persen dari level 1.193 ke posisi 806 sejalan dengan koreksi IHSG dan indeks utama LQ45 yang masing-masing mengalami penurunan sekitar 29 persen.
Meski demikian, secara historis sejak tanggal dasarnya pada 2 Januari 2002, Kompas100 masih membukukan akumulasi pertumbuhan jangka panjang mencapai 627,91 persen.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta, saat dihubungi terpisah menilai, saham-saham yang masuk ke dalam Kompas100 berpotensi memperoleh passive inflow karena mulai masuk ke dalam portofolio dana yang mereplikasi indeks.
Selain tambahan permintaan, status sebagai konstituen Kompas100 juga biasanya meningkatkan visibilitas saham di mata investor institusi serta dapat memperbaiki likuiditas perdagangan.
"Dengan demikian, saya melihat efek rebalancing Kompas100 lebih banyak memberikan dampak teknikal jangka pendek daripada mengubah nilai intrinsik emiten," katanya.
Investor sebaiknya tidak hanya berfokus pada perubahan komposisi indeks, tetapi juga tetap mencermati kualitas fundamental, prospek pertumbuhan, tingkat valuasi, serta likuiditas masing-masing saham.
Jika fundamental perusahaan tetap solid, tekanan akibat passive outflow pasca-rebalancing sering kali hanya bersifat sementara dan dapat membuka peluang akumulasi bagi investor dengan horizon investasi menengah hingga panjang.
Adapun BEI, menurut Iding, berharap agar Kompas100 memiliki diferensiasi yang jelas dibanding indeks utama seperti LQ45 dan IDX80. Dengan ini, Indeks Kompas100 dapat fokus menjadi investable index, bukan hanya media index atau benchmark publikasi.
Indeks Kompas100 juga diharapkan dapat lebih mendorong penerbitan produk investasi lain seperti ETF, Index Fund, dan produk derivatif yang menggunakan Kompas100 sebagai underlying atau aset acuan. Kemudian, dapat meningkatkan utilisasi oleh Manajer Investasi sebagai benchmark kinerja portofolio.
"Semoga indeks Kompas100 dapat menjadi acuan bagi investor pasar modal Indonesia," kata Iding.






Komentar (0)