HARIAN.FAJAR.CO.ID, SURABAYA — Tak banyak pemain asing yang mampu meninggalkan jejak sedalam Bruno Moreira di Persebaya Surabaya. Selama empat musim berseragam Green Force, winger asal Brasil itu bukan hanya menjadi andalan di lapangan, tetapi juga menjelma menjadi salah satu idola Bonek berkat loyalitas, kerja keras, dan kontribusinya untuk klub.
Karena itu, ketika kontraknya bersama Persebaya berakhir, banyak pihak meyakini Bruno akan tetap berkarier di Indonesia. Sejumlah klub peserta Super League bahkan dikabarkan siap memberikan tawaran dengan nilai yang lebih tinggi dibandingkan kontrak sebelumnya.
Namun, Bruno memilih jalan berbeda.
Alih-alih menerima pinangan klub rival, pemain berusia 27 tahun tersebut justru memutuskan melanjutkan karier di luar Indonesia dengan bergabung bersama klub Thailand, Port FC. Keputusan itu diambil bukan semata-mata karena faktor kompetisi, tetapi juga karena rasa hormatnya kepada Persebaya.
Bruno mengaku tidak ingin berada di posisi harus menghadapi klub yang telah membesarkan namanya di sepak bola Indonesia.
Takdir ternyata berkata lain.
Belum lama meninggalkan Surabaya, Bruno justru kembali ke Stadion Gelora Bung Tomo setelah Port FC menjadi salah satu peserta Piala Presiden 2026. Kehadirannya bersama wakil Thailand itu membuat publik Surabaya kembali menyambut pemain yang pernah menjadi pujaan tribun Green Force.
Bahkan, peluang mempertemukannya dengan Persebaya kembali terbuka apabila kedua tim bertemu pada pertandingan Grup B yang dijadwalkan berlangsung pada 1 Agustus mendatang.
Momen itu menjadi sesuatu yang bahkan tidak pernah dibayangkan oleh Bruno.
“Ketika meninggalkan Indonesia, saya tidak pernah membayangkan akan kembali ke sini dan bermain lagi di GBT,” ujar Bruno Moreira kepada Jawa Pos seusai konferensi pers laga Port FC melawan PSMS Medan, Minggu (26/7).
Dalam pertandingan pembuka Grup B tersebut, Bruno langsung dipercaya tampil sebagai starter. Kepercayaan yang diberikan pelatih Port FC menunjukkan bahwa dirinya tetap menjadi bagian penting dari rencana permainan klub asal Thailand tersebut.
Kini, perhatian mulai tertuju pada kemungkinan duel emosional antara Bruno dan Persebaya.
Jika Port FC bertemu Green Force, Bruno akan berada di sisi yang berbeda. Bukan lagi mengenakan jersey hijau kebanggaan Surabaya, melainkan membela tim yang datang sebagai lawan.
Meski demikian, Bruno menegaskan dirinya tetap seorang profesional.
Ia mengaku siap memberikan seluruh kemampuan terbaik apabila pelatih kembali mempercayainya tampil menghadapi mantan klubnya.
“Namun, inilah sepak bola. Sekarang saya di Port FC dan, jika pelatih memainkan saya, mungkin saya akan menghadapi Persebaya (1/8),” katanya.
“Jika pelatih memainkan saya, saya akan bermain dengan 100 persen kemampuan saya saat melawan Persebaya,” lanjutnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan dilema yang sering dialami seorang pesepak bola profesional. Di satu sisi ada ikatan emosional dengan mantan klub, tetapi di sisi lain terdapat tanggung jawab untuk memberikan performa terbaik bagi tim yang kini dibelanya.
Meski siap bertanding habis-habisan, Bruno memastikan rasa cintanya kepada Persebaya tidak pernah berubah.
Menurutnya, Green Force memiliki tempat yang sangat istimewa dalam perjalanan kariernya. Selama empat musim membela Persebaya, ia berkembang menjadi salah satu pemain asing terbaik di kompetisi Indonesia dan mendapatkan pengakuan luas dari pencinta sepak bola nasional.
“Saya bermain di sini selama empat tahun. Persebaya adalah klub yang membuat saya dikenal di sini,” ungkap Bruno.
Pernyataan itu menjadi bukti bahwa hubungan Bruno dengan Persebaya tidak sekadar hubungan antara pemain dan klub. Ada ikatan emosional yang terbentuk selama bertahun-tahun bersama para suporter, rekan setim, dan masyarakat Surabaya.
Karena itulah, apabila benar bertemu pada Piala Presiden 2026 nanti, pertandingan tersebut dipastikan menghadirkan suasana yang berbeda.
Bruno kemungkinan akan tetap mendapatkan sambutan hangat dari Bonek sebagai bentuk penghormatan atas dedikasinya selama mengenakan seragam Green Force. Namun ketika peluit kick-off dibunyikan, seluruh kenangan itu akan disimpan sejenak.
Di atas lapangan, Bruno adalah pemain Port FC yang memiliki tanggung jawab membawa timnya meraih kemenangan. Sementara Persebaya tentu ingin menunjukkan kualitasnya di hadapan pendukung sendiri.
Duel ini bukan hanya mempertemukan dua klub, tetapi juga menghadirkan kisah emosional seorang pemain yang pernah menjadi ikon, lalu kembali sebagai rival.
Sepak bola memang kerap menghadirkan cerita seperti ini. Seorang pemain bisa meninggalkan klub yang dicintainya, tetapi kenangan yang telah dibangun bersama suporter akan selalu melekat.
Kini, Bruno Moreira hanya tinggal menunggu keputusan pelatih Port FC. Jika namanya kembali masuk dalam susunan pemain saat menghadapi Persebaya, maka Stadion Gelora Bung Tomo akan menjadi saksi pertemuan emosional antara seorang mantan idola dengan klub yang pernah mengangkat namanya hingga dikenal luas di Indonesia.






Komentar (0)