Mata Uang Asia Won, Yen - Ringgit Kebakaran: Rupiah Paling Sengsara

cnbcindonesia.com
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia mengawali perdagangan Selasa (28/7/2026) dengan lesu. Tidak ada satu pun mata uang yang mampu menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS), di tengah penantian pasar menjelang keputusan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, seluruh 10 mata uang Asia terpantau bergerak di zona merah terhadap dolar AS.

Rupiah menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam di Asia pada pagi ini. Mata uang Garuda melemah 0,39% ke posisi Rp18.070/US$. Posisi ini membuat rupiah kembali bertahan di atas level psikologis Rp18.000/US$.

Baca: Angin Segar untuk IHSG-Rupiah! Minyak Anjlok, KSSK-Danantara Diperkuat

Tekanan cukup besar juga dialami won Korea Selatan dan dolar Taiwan yang sama-sama melemah 0,29%. Won berada di posisi KRW 1.468,8/US$, sementara dolar Taiwan berada di TWD 32,38/US$.

Baht Thailand ikut terkoreksi 0,12% ke posisi THB 33,65/US$, disusul peso Filipina yang melemah 0,09% ke PHP 61,703/US$.

Dong Vietnam turun 0,08% ke posisi VND 26.334/US$, sementara dolar Singapura terkoreksi 0,05% ke SGD 1,2919/US$.

Pelemahan lebih tipis terlihat pada yen Jepang dan ringgit Malaysia yang sama-sama turun tipis 0,02%, masing-masing ke posisi JPY 163,78/US$ dan MYR 4,084/US$. Adapun yuan China terkoreksi tipis 0,01% ke CNY 6,7667/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah tipis 0,03% ke posisi 101,504 pada waktu yang sama. Meski terkoreksi tipis, posisi DXY masih berada di level tinggi dan dekat dengan level tertinggi satu bulan.

Dolar AS masih mendapat dukungan karena pasar menimbang peluang kenaikan suku bunga The Fed pada rapat FOMC pekan ini. The Fed akan menggelar rapat dua hari yang berakhir pada Rabu waktu setempat atau Kamis dini hari waktu Indonesia.

Pelaku pasar memang melihat penurunan harga minyak setelah AS menghentikan sementara serangan terhadap Iran. Penurunan harga minyak sempat meredakan sebagian kekhawatiran inflasi. Namun, imbal hasil obligasi pemerintah AS hanya turun terbatas, sehingga dolar AS tetap relatif kuat.

Chris Weston, head of research Pepperstone, menilai kuatnya dolar AS masih ditopang oleh pergerakan di pasar obligasi AS.

"Minimnya pembelian yang berarti di bagian depan kurva Treasury telah membantu menjaga dolar AS tetap tertopang dengan baik," ujar Weston, dikutip dari Reuters.

Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed juga belum hilang. Berdasarkan CME FedWatch, pasar memperhitungkan peluang 36,3% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada rapat pekan ini. Peluang tersebut meningkat dibandingkan 16% pada pekan lalu.

Untuk rapat September, pasar bahkan memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga sebesar 81%. Kondisi ini menunjukkan pelaku pasar masih melihat ruang pengetatan kebijakan moneter AS tetap terbuka.

Sejumlah broker besar juga mulai melihat risiko nyata bahwa The Fed dapat menaikkan suku bunga pada pekan ini. Hal ini terutama dipicu oleh lonjakan harga minyak sepanjang bulan ini serta meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Mahjabeen Zaman, head of FX research ANZ Bank, menilai dolar AS berpotensi mendapat dorongan kuat jika The Fed benar-benar memberi kejutan berupa kenaikan suku bunga.

"Jika kita mendapatkan kenaikan suku bunga yang mengejutkan, tentu itu akan memberi dukungan bagi dolar, kemungkinan akan membawa dolar ke level tertinggi baru dan mempertahankan kekuatannya, terutama terhadap mata uang berimbal hasil rendah seperti yen Jepang dan franc Swiss," ujar Zaman dalam sebuah podcast, dikutip dari Reuters.

Investor juga menunggu data ekonomi penting AS lainnya pekan ini, termasuk pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 dan core PCE, ukuran inflasi favorit The Fed. Data tersebut akan menjadi petunjuk tambahan mengenai kesehatan ekonomi AS dan arah kebijakan suku bunga berikutnya.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw) Add as a preferred
source on Google

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Honda dan GAC Perpanjang Kerja Sama hingga 2038, Perkuat Strategi EV di China
• 2 jam lalu
0
thumb
5 Berita Terpopuler: Aturan Baru Potong Gaji Muncul, PPPK Paruh Waktu Galau Massal, Sangat Menyedihkan
• 3 jam lalu
0
thumb
Ketika Administrasi Negara Gagal Mengakhiri Polemik
• 23 jam lalu
0
thumb
Mantan Presiden Honduras Kembali ke Negaranya Usai Diampuni Trump
• 22 jam lalu
0
thumb
Tercurinya Interaktivitas Anak-Anak oleh Kehadiran Artificial Intelligence
• 23 jam lalu
0
Berhasil disimpan.