Semangati Suara Kritis, Doli Kurnia Kumpulkan Aktivis

jpnn.com
3 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com - JAKARTA - Ratusan aktivis berkumpul dalam Reuni Aktivis in the ADK SHOW atau Arena Demokrasi & Kritik di Auditorium RRI Jakarta, Minggu (26/7) malam.

Ajang yang mengambil tempat hanya beberapa meter dari Istana Negara itu digagas oleh politisi Partai Golkar Ahmad Doli Kurnia.

BACA JUGA: Doli Kurnia DPR Dorong Indonesia Bentuk Kaukus Parlemen untuk Perdamaian

Para aktivis, akademisi, dan politisi dari beragam latar belakang, entah itu yang berada di koalisi pemerintah atau penyeimbang, hadir.

Di antara kerumunan terlihat:

BACA JUGA: Ahmad Doli Kurnia DPR: Pengelolaan Data Terintegrasi Jadi Fondasi Dalam Perumusan Kebijakan Nasional

  • Syahganda Nainggolan, Ketua Dewan Direktur Great Institute, lembaga think tank yang dekat dengan pemerintah.
  • Rocky Gerung, kritikus papan atas yang populer dengan tagline “No Rocky No Party”.
  • Bursah Zarnubi, legenda aktivis Jakarta yang kini menjadi bupati di Kabupaten Lahat.
  • Mardani Ali Sera, politisi PKS.
  • Adian Napitupulu, anggota parlemen PDIP yang dikenal lantang.
  • Titi Anggraini, pembina Perludem.
  • Feri Amsari, pakar hukum tata negara.
  • Budiman Tanuredjo, wartawan lawas.
  • Arifin Ashydad, jurnalis senior.
  • Akbar Faizal dan Syukur Mandar, aktivis yang kini menjadi konten kreator dan youtuber.
  • Akbar Tandjung, Marzuki Darusman, Jimly Assidiqie, Suharso Monoarfa, Fachri Ali, dan MS Kaban, para tokoh-tokoh senior di panggung politik nasional.

Dalam Reuni Aktivis, Doli meluncurkan empat buku terbaru masing-masing berjudul Perspektif, Kacamata Doli Kurnia (2), Quote of The Day, dan Kacamata versi Komik.

Secara keseluruhan, Wakil Ketua Umum Partai Golkar itu telah menulis 14 buku sejak 1999.

Dalam buku yang dibagikan ke tamu undangan, Perspektif bercerita tentang perjalanan hidup Doli dari Medan hingga menjadi politisi seperti saat ini.

Namun -berbeda dengan biografi, buku tersebut justru menceritakan berbagai fenomena dan orang-orang yang hadir dalam perjalanan hidupnya.

Dia tidak menceritakan dirinya, melainkan menulis tentang lingkungan dan orang-orang yang berkesan dalam hidupnya.

“Bukan autobiografi; justru ini merupakan cara pandang, POV, atau perspektif saya tentang apa yang saya lihat dan rasakan sejak kecil hingga sekarang," katanya.

"Mungkin satu peristiwa bisa dilihat secara berbeda. Itulah kekayaan perspektif. Bahwa perbedaan cara pandang itu biasa,” imbuh ayah dua anak itu.

Pada buku Kacamata Doli Kurnia, merupakan kumpulan tulisan Wakil Ketua Baleg tersebut selama setahun terakhir.

Ia menulis tentang isu UU Pemilu, sistem politik, kekerasan terhadap anak, hingga Palestina dan Iran.

Saat ditanya mengapa temanya variatif—tidak hanya isu di komisinya di DPR—Doli menjelaskan bahwa justru ruang menulis di kolom media menjadi oasis untuk merenungkan banyak hal.

“Dan saya, sebagai anggota parlemen, pada dasarnya tidak hanya mewakili satu bidang atau satu dapil saja. Namun, semua isu yang menjadi kegelisahan rakyat,” katanya.

“Saya merasa bahwa saya akan tetap menjadi aktivis ke depan. Manusia harus bersedia menerima kritik dan saran," imbuh Doli.

ADK Show dibuka oleh komika Mamat Alkatiri sebagai host, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan.

Setelah itu, legenda Golkar, Akbar Tandjung, yang duduk di kursi roda bersama istrinya, Nina Tandjung, memberikan testimoni spesial perdana.

Pesan kedua orang yang sangat dekat dengan Doli tersebut sangat mengena: politik adalah panggilan jiwa. Akbar juga menekankan bahwa jabatan, popularitas, dan kehormatan bukan hanya bentuk penghargaan, tetapi juga merupakan ujian bagi setiap pemimpin.

“Kehormatan dan ketenaran juga merupakan bagian dari cobaan," ujar Akbar.

Sementara itu, Guru Besar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Siti Zuhro menilai Doli sebagai representasi kader Golkar dan HMI yang sangat diperhitungkan.

Namun, ia menyampaikan catatan dengan nada ringan tentang karakter yang bersangkutan.

“Saya melihat Doli kurang punya sense of humor,” kata Mbak Wiwiek -panggilan akrabnya. Semua tertawa mendengarnya.

Selain testimoni, acara juga dimeriahkan dengan sesi roasting yang melibatkan sejumlah aktivis, akademisi, dan praktisi.

Salah satu momen yang paling mengundang gelak tawa datang dari Rocky Gerung.

Menurutnya, kesediaan seseorang untuk di-roasting menunjukkan keterbukaan terhadap kritik dan keberanian untuk menerima pandangan yang berbeda.

“Kalau ada seseorang yang mau di-roasting, itu artinya dia masih punya akal sehat dan keberanian untuk menerima kritik,” ujar Rocky. (*/jpnn)


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Hadirkan Tokoh Nasional, IIFTIHAR Bedah Visi Teknologi Habibie
• 20 jam lalu
0
thumb
Selamat Berbahagia! 5 Zodiak Paling Hoki pada 29 Juli 2026: Kesempatan Besar Datang Bersamaan dengan Kabar Baik
• 6 jam lalu
0
thumb
Lulusan IPDN Jadi Rebutan Kepala Daerah, Mendagri Ungkap Alasannya
• 13 jam lalu
0
thumb
Polisi Tetapkan 2 Tersangka Polisi Pengedar Narkoba, Kasat Narkoba Tangsel Tak Termasuk
• 16 jam lalu
0
thumb
Daftar top skor sepanjang sejarah Piala AFF, Teerasil Dangda masih tak tertandingi
• 6 jam lalu
0
Berhasil disimpan.