Jayapura (ANTARA) - Tim gabungan pemantauan mitigasi bencana Kabupaten Jayapura, Papua mulai melakukan analisis kawasan Sungai Kemiri dan Cagar Alam Cycloop guna memastikan kondisi terkini di lokasi longsor yang berpotensi membentuk bendungan alami.
Tim gabungan tersebut meliputi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA), Basarnas, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Memberamo, Dinas Lingkungan Hidup, dan WWF Indonesia, serta Pramuka Saka Wanabakti.
Baca juga: Menjaga cagar alam Cycloop demi kelestarian flora fauna di Tanah Papua
Asisten III Bidang Administrasi Umum Setda Kabupaten Jayapura Derek Timotius Wouw dalam keterangan di Jayapura, Selasa, mengatakan misi dari tim ini sangat penting, karena hasil dari pemantauan yang dilakukan akan menjadi dasar pemerintah daerah dalam menentukan langkah mitigasi bencana.
"Kami mendukung penuh apa yang dilakukan tim ini karena kegiatan ini memiliki satu tujuan, yaitu melihat dan mengamati secara langsung kondisi di kawasan Gunung Cycloop," katanya.
Pihaknya berharap hasil analisis yang disampaikan kepada pemerintah daerah harus benar-benar akurat, objektif, dan dapat dipertanggungjawabkan.
"Kami menekankan pentingnya ketelitian dalam menyusun hasil kajian, sebab kesalahan dalam menganalisis kondisi alam dapat berdampak terhadap keselamatan masyarakat, terutama jika potensi bencana tidak teridentifikasi secara tepat," ujarnya.
Baca juga: Tokoh Adat Papua minta pemerintah lebih serius jaga cagar alam Cycloop
Baca juga: Penghijauan cagar alam Cycloop perlu perhatikan jenis pohon
Dia menjelaskan wilayah Sentani merupakan kawasan yang memiliki tingkat kerawanan bencana yang cukup tinggi. Dengan demikian, upaya mitigasi harus dilakukan secara maksimal agar risiko terhadap masyarakat dapat diminimalkan.
Dia menambahkan kegiatan tersebut merupakan bagian dari langkah antisipatif pemerintah daerah bersama para pemangku kepentingan untuk memperoleh data di lapangan yang akurat tentang kondisi titik longsor sekaligus mengumpulkan data sebagai dasar penyusunan langkah mitigasi bencana di kawasan pegunungan Cycloop.
Tim gabungan tersebut meliputi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA), Basarnas, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Memberamo, Dinas Lingkungan Hidup, dan WWF Indonesia, serta Pramuka Saka Wanabakti.
Baca juga: Menjaga cagar alam Cycloop demi kelestarian flora fauna di Tanah Papua
Asisten III Bidang Administrasi Umum Setda Kabupaten Jayapura Derek Timotius Wouw dalam keterangan di Jayapura, Selasa, mengatakan misi dari tim ini sangat penting, karena hasil dari pemantauan yang dilakukan akan menjadi dasar pemerintah daerah dalam menentukan langkah mitigasi bencana.
"Kami mendukung penuh apa yang dilakukan tim ini karena kegiatan ini memiliki satu tujuan, yaitu melihat dan mengamati secara langsung kondisi di kawasan Gunung Cycloop," katanya.
Pihaknya berharap hasil analisis yang disampaikan kepada pemerintah daerah harus benar-benar akurat, objektif, dan dapat dipertanggungjawabkan.
"Kami menekankan pentingnya ketelitian dalam menyusun hasil kajian, sebab kesalahan dalam menganalisis kondisi alam dapat berdampak terhadap keselamatan masyarakat, terutama jika potensi bencana tidak teridentifikasi secara tepat," ujarnya.
Baca juga: Tokoh Adat Papua minta pemerintah lebih serius jaga cagar alam Cycloop
Baca juga: Penghijauan cagar alam Cycloop perlu perhatikan jenis pohon
Dia menjelaskan wilayah Sentani merupakan kawasan yang memiliki tingkat kerawanan bencana yang cukup tinggi. Dengan demikian, upaya mitigasi harus dilakukan secara maksimal agar risiko terhadap masyarakat dapat diminimalkan.
Dia menambahkan kegiatan tersebut merupakan bagian dari langkah antisipatif pemerintah daerah bersama para pemangku kepentingan untuk memperoleh data di lapangan yang akurat tentang kondisi titik longsor sekaligus mengumpulkan data sebagai dasar penyusunan langkah mitigasi bencana di kawasan pegunungan Cycloop.






Komentar (0)