Surabaya (ANTARA) - Seekor tikus yang melintas di saluran air, seekor kelelawar yang mencari makan di malam hari, atau seekor anjing peliharaan yang tidak pernah divaksin sering kali dipandang sebagai bagian biasa dari kehidupan kota.
Di balik keseharian itu tersimpan satu ancaman yang tidak selalu terlihat, yakni penyakit zoonosis, penyakit yang dapat menular dari hewan kepada manusia.
Dalam beberapa dekade terakhir, dunia berkali-kali diingatkan bahwa wabah besar tidak selalu berawal dari laboratorium atau rumah sakit. Banyak penyakit justru muncul dari interaksi manusia dengan hewan maupun lingkungan yang berubah.
Ebola, flu burung, rabies, leptospirosis, hingga Virus Nipah menjadi pengingat bahwa batas antara kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan sesungguhnya sangat tipis.
Kondisi tersebut menjadikan kota-kota besar seperti Surabaya tidak cukup hanya mengandalkan pelayanan kesehatan ketika penyakit telah muncul. Pencegahan jauh sebelum wabah terjadi justru menjadi strategi yang lebih menentukan.
Kesadaran itulah yang mulai diperkuat Pemerintah Kota Surabaya, Jawa Timur, melalui penguatan sistem surveilans, komunikasi risiko, edukasi masyarakat, serta kolaborasi lintas sektor.
Upaya tersebut melibatkan tidak hanya dinas kesehatan, tetapi juga sektor kesehatan hewan, organisasi masyarakat, akademisi, media, hingga pemerintah di tingkat kelurahan. Pendekatan semacam ini menunjukkan bahwa pengendalian zoonosis tidak mungkin diselesaikan oleh satu institusi saja.
Langkah tersebut bukan tanpa alasan. Kementerian Kesehatan menyebut sekitar 70 persen penyakit menular baru yang berpotensi menimbulkan wabah berasal dari hewan. Angka itu memperlihatkan bahwa ancaman kesehatan pada masa depan lebih banyak lahir dari perubahan hubungan manusia dengan satwa maupun lingkungan dibandingkan dari faktor lain.
Di Surabaya sendiri, ancaman tersebut memang masih berada dalam tingkat yang terkendali. Selama lima tahun terakhir tidak ditemukan suspek flu burung pada manusia maupun kasus antraks.
Tren suspek leptospirosis dan kasus gigitan hewan penular rabies masih terus muncul, sehingga kewaspadaan tidak boleh menurun. Pada 2025 tercatat 25 suspek leptospirosis dan 40 kasus gigitan hewan penular rabies, sedangkan hingga pertengahan 2026 telah dilaporkan 14 suspek leptospirosis dan 33 kasus gigitan hewan penular rabies.
Data tersebut memang tidak menunjukkan keadaan darurat. Akan tetapi, kesehatan masyarakat tidak diukur dari besarnya wabah yang sudah terjadi, melainkan dari kemampuan mencegah wabah itu muncul.
Satu ekosistem
Penyakit zoonosis sesungguhnya mencerminkan perubahan cara manusia berinteraksi dengan alam. Urbanisasi, kepadatan penduduk, meningkatnya mobilitas manusia dan hewan, perubahan iklim, hingga perdagangan satwa menjadi faktor yang memperbesar peluang perpindahan patogen dari hewan kepada manusia.
Surabaya memiliki karakter sebagai kota metropolitan, sekaligus pusat perdagangan, jasa, pelabuhan, dan distribusi logistik. Setiap hari ribuan orang, kendaraan, bahan pangan, hingga ternak keluar masuk kota. Mobilitas tinggi tersebut membawa manfaat ekonomi, tetapi pada saat yang sama meningkatkan kompleksitas pengawasan kesehatan.
Situasi itu terlihat jelas menjelang Idul Adha. Lalu lintas ternak meningkat tajam, sehingga pemerintah memperketat syarat masuk hewan kurban melalui kewajiban vaksinasi PMK, surat keterangan kesehatan hewan, sertifikat veteriner, serta pengawasan lokasi penjualan dan pemotongan.
Kebijakan tersebut bukan sekadar urusan administrasi, melainkan bagian dari upaya memutus potensi penyebaran penyakit hewan menular strategis dan zoonosis.
Ancaman lain juga tidak selalu berasal dari dalam kota. Virus Nipah, misalnya, belum ditemukan di Surabaya maupun Indonesia. Meskipun demikian, pemerintah tetap memperkuat sistem surveilans, meningkatkan koordinasi lintas sektor, dan mengedukasi masyarakat mengenai pola hidup bersih sebagai bentuk kesiapsiagaan. Pendekatan ini menunjukkan perubahan paradigma dari menunggu kasus menjadi mencegah sejak awal.
Perubahan paradigma tersebut selaras dengan konsep One Health yang kini semakin banyak diterapkan di berbagai negara. Pendekatan ini memandang kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus menempatkan pendekatan One Health sebagai fondasi penting menuju kedaulatan kesehatan nasional. Sejalan dengan itu, pemerintah juga tengah menyiapkan regulasi nasional One Health untuk memperkuat koordinasi lintas kementerian dan lembaga dalam pengendalian zoonosis, resistensi antimikroba, keamanan pangan, dan kesehatan lingkungan
Di tingkat global, pendekatan serupa juga diperkuat melalui kerja sama Badan Karantina Indonesia dengan FAO dalam membangun sistem biosekuriti berbasis digital, pemetaan risiko, serta sistem peringatan dini.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa ancaman penyakit tidak lagi dipandang sebagai persoalan kesehatan semata, tetapi juga berkaitan dengan ketahanan pangan, perdagangan, dan stabilitas ekonomi.
Pengalaman dunia memberikan pelajaran yang sama. Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo menunjukkan bagaimana penyakit zoonosis dapat berkembang menjadi krisis kemanusiaan apabila deteksi dini dan respons cepat tidak berjalan optimal. Mobilitas manusia lintas negara menjadikan penyakit lokal dapat berubah menjadi perhatian internasional dalam waktu singkat.
Semua itu memperlihatkan bahwa kota tidak lagi cukup membangun rumah sakit yang lebih besar. Yang lebih penting ialah membangun sistem yang mampu mendeteksi risiko jauh sebelum ruang perawatan dipenuhi pasien.
Budaya siaga
Pengendalian zoonosis bukan hanya persoalan teknologi atau kebijakan pemerintah. Faktor penentu justru berada pada perilaku masyarakat.
Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun, menggunakan alas kaki saat banjir, menjaga kebersihan lingkungan, memvaksinasi hewan peliharaan, tidak mengonsumsi hewan yang sakit, hingga segera memeriksakan diri setelah tergigit hewan merupakan tindakan sederhana yang memiliki dampak besar dalam memutus rantai penularan. Langkah-langkah tersebut tampak sederhana, tetapi justru menjadi fondasi kesehatan masyarakat.
Di sisi lain, kualitas informasi menjadi sama pentingnya dengan kualitas pelayanan kesehatan. Pada era media sosial, informasi yang keliru dapat menyebar lebih cepat dibandingkan penyakit itu sendiri.
Kepanikan akibat hoaks berpotensi melahirkan keputusan yang salah, mulai dari mengabaikan gejala hingga melakukan tindakan yang justru memperbesar risiko penularan.
Karena itu, komunikasi risiko yang jelas, konsisten, dan mudah dipahami menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sistem kesehatan modern.
Penguatan pengawasan terhadap perdagangan satwa liar juga menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan. Perpindahan satwa tanpa pengawasan kesehatan membuka peluang munculnya patogen baru yang dapat mengancam manusia, sekaligus mengganggu ketahanan ekonomi. Pencegahan perdagangan satwa ilegal karena itu bukan hanya agenda konservasi, tetapi juga investasi kesehatan publik.
Bagi Surabaya, berbagai langkah yang telah ditempuh menunjukkan arah yang tepat. Kolaborasi lintas sektor, penguatan surveilans, edukasi masyarakat, pengawasan hewan, serta kesiapsiagaan menghadapi penyakit baru merupakan fondasi penting untuk membangun kota yang tangguh terhadap ancaman zoonosis.
Bersamaan dengan itu, tantangan ke depan akan semakin kompleks. Perubahan iklim, meningkatnya mobilitas penduduk, perkembangan kawasan perkotaan, dan intensitas perdagangan akan terus membuka peluang munculnya penyakit baru yang belum pernah dikenali sebelumnya.
Karena itu, investasi terbesar bukan hanya pada fasilitas kesehatan, melainkan juga pada sistem peringatan dini, riset, literasi kesehatan masyarakat, dan kolaborasi yang berkesinambungan.
Keberhasilan menghadapi zoonosis tidak ditentukan ketika wabah berhasil diatasi. Keberhasilan sesungguhnya tercermin ketika masyarakat dapat menjalani kehidupan sehari-hari tanpa pernah merasakan datangnya wabah karena ancamannya telah dicegah jauh sebelum menjadi krisis.
Itulah bentuk ketahanan kesehatan yang layak menjadi tujuan setiap kota yang ingin terus tumbuh, aman, dan berkelanjutan.
Di balik keseharian itu tersimpan satu ancaman yang tidak selalu terlihat, yakni penyakit zoonosis, penyakit yang dapat menular dari hewan kepada manusia.
Dalam beberapa dekade terakhir, dunia berkali-kali diingatkan bahwa wabah besar tidak selalu berawal dari laboratorium atau rumah sakit. Banyak penyakit justru muncul dari interaksi manusia dengan hewan maupun lingkungan yang berubah.
Ebola, flu burung, rabies, leptospirosis, hingga Virus Nipah menjadi pengingat bahwa batas antara kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan sesungguhnya sangat tipis.
Kondisi tersebut menjadikan kota-kota besar seperti Surabaya tidak cukup hanya mengandalkan pelayanan kesehatan ketika penyakit telah muncul. Pencegahan jauh sebelum wabah terjadi justru menjadi strategi yang lebih menentukan.
Kesadaran itulah yang mulai diperkuat Pemerintah Kota Surabaya, Jawa Timur, melalui penguatan sistem surveilans, komunikasi risiko, edukasi masyarakat, serta kolaborasi lintas sektor.
Upaya tersebut melibatkan tidak hanya dinas kesehatan, tetapi juga sektor kesehatan hewan, organisasi masyarakat, akademisi, media, hingga pemerintah di tingkat kelurahan. Pendekatan semacam ini menunjukkan bahwa pengendalian zoonosis tidak mungkin diselesaikan oleh satu institusi saja.
Langkah tersebut bukan tanpa alasan. Kementerian Kesehatan menyebut sekitar 70 persen penyakit menular baru yang berpotensi menimbulkan wabah berasal dari hewan. Angka itu memperlihatkan bahwa ancaman kesehatan pada masa depan lebih banyak lahir dari perubahan hubungan manusia dengan satwa maupun lingkungan dibandingkan dari faktor lain.
Di Surabaya sendiri, ancaman tersebut memang masih berada dalam tingkat yang terkendali. Selama lima tahun terakhir tidak ditemukan suspek flu burung pada manusia maupun kasus antraks.
Tren suspek leptospirosis dan kasus gigitan hewan penular rabies masih terus muncul, sehingga kewaspadaan tidak boleh menurun. Pada 2025 tercatat 25 suspek leptospirosis dan 40 kasus gigitan hewan penular rabies, sedangkan hingga pertengahan 2026 telah dilaporkan 14 suspek leptospirosis dan 33 kasus gigitan hewan penular rabies.
Data tersebut memang tidak menunjukkan keadaan darurat. Akan tetapi, kesehatan masyarakat tidak diukur dari besarnya wabah yang sudah terjadi, melainkan dari kemampuan mencegah wabah itu muncul.
Satu ekosistem
Penyakit zoonosis sesungguhnya mencerminkan perubahan cara manusia berinteraksi dengan alam. Urbanisasi, kepadatan penduduk, meningkatnya mobilitas manusia dan hewan, perubahan iklim, hingga perdagangan satwa menjadi faktor yang memperbesar peluang perpindahan patogen dari hewan kepada manusia.
Surabaya memiliki karakter sebagai kota metropolitan, sekaligus pusat perdagangan, jasa, pelabuhan, dan distribusi logistik. Setiap hari ribuan orang, kendaraan, bahan pangan, hingga ternak keluar masuk kota. Mobilitas tinggi tersebut membawa manfaat ekonomi, tetapi pada saat yang sama meningkatkan kompleksitas pengawasan kesehatan.
Situasi itu terlihat jelas menjelang Idul Adha. Lalu lintas ternak meningkat tajam, sehingga pemerintah memperketat syarat masuk hewan kurban melalui kewajiban vaksinasi PMK, surat keterangan kesehatan hewan, sertifikat veteriner, serta pengawasan lokasi penjualan dan pemotongan.
Kebijakan tersebut bukan sekadar urusan administrasi, melainkan bagian dari upaya memutus potensi penyebaran penyakit hewan menular strategis dan zoonosis.
Ancaman lain juga tidak selalu berasal dari dalam kota. Virus Nipah, misalnya, belum ditemukan di Surabaya maupun Indonesia. Meskipun demikian, pemerintah tetap memperkuat sistem surveilans, meningkatkan koordinasi lintas sektor, dan mengedukasi masyarakat mengenai pola hidup bersih sebagai bentuk kesiapsiagaan. Pendekatan ini menunjukkan perubahan paradigma dari menunggu kasus menjadi mencegah sejak awal.
Perubahan paradigma tersebut selaras dengan konsep One Health yang kini semakin banyak diterapkan di berbagai negara. Pendekatan ini memandang kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus menempatkan pendekatan One Health sebagai fondasi penting menuju kedaulatan kesehatan nasional. Sejalan dengan itu, pemerintah juga tengah menyiapkan regulasi nasional One Health untuk memperkuat koordinasi lintas kementerian dan lembaga dalam pengendalian zoonosis, resistensi antimikroba, keamanan pangan, dan kesehatan lingkungan
Di tingkat global, pendekatan serupa juga diperkuat melalui kerja sama Badan Karantina Indonesia dengan FAO dalam membangun sistem biosekuriti berbasis digital, pemetaan risiko, serta sistem peringatan dini.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa ancaman penyakit tidak lagi dipandang sebagai persoalan kesehatan semata, tetapi juga berkaitan dengan ketahanan pangan, perdagangan, dan stabilitas ekonomi.
Pengalaman dunia memberikan pelajaran yang sama. Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo menunjukkan bagaimana penyakit zoonosis dapat berkembang menjadi krisis kemanusiaan apabila deteksi dini dan respons cepat tidak berjalan optimal. Mobilitas manusia lintas negara menjadikan penyakit lokal dapat berubah menjadi perhatian internasional dalam waktu singkat.
Semua itu memperlihatkan bahwa kota tidak lagi cukup membangun rumah sakit yang lebih besar. Yang lebih penting ialah membangun sistem yang mampu mendeteksi risiko jauh sebelum ruang perawatan dipenuhi pasien.
Budaya siaga
Pengendalian zoonosis bukan hanya persoalan teknologi atau kebijakan pemerintah. Faktor penentu justru berada pada perilaku masyarakat.
Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun, menggunakan alas kaki saat banjir, menjaga kebersihan lingkungan, memvaksinasi hewan peliharaan, tidak mengonsumsi hewan yang sakit, hingga segera memeriksakan diri setelah tergigit hewan merupakan tindakan sederhana yang memiliki dampak besar dalam memutus rantai penularan. Langkah-langkah tersebut tampak sederhana, tetapi justru menjadi fondasi kesehatan masyarakat.
Di sisi lain, kualitas informasi menjadi sama pentingnya dengan kualitas pelayanan kesehatan. Pada era media sosial, informasi yang keliru dapat menyebar lebih cepat dibandingkan penyakit itu sendiri.
Kepanikan akibat hoaks berpotensi melahirkan keputusan yang salah, mulai dari mengabaikan gejala hingga melakukan tindakan yang justru memperbesar risiko penularan.
Karena itu, komunikasi risiko yang jelas, konsisten, dan mudah dipahami menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sistem kesehatan modern.
Penguatan pengawasan terhadap perdagangan satwa liar juga menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan. Perpindahan satwa tanpa pengawasan kesehatan membuka peluang munculnya patogen baru yang dapat mengancam manusia, sekaligus mengganggu ketahanan ekonomi. Pencegahan perdagangan satwa ilegal karena itu bukan hanya agenda konservasi, tetapi juga investasi kesehatan publik.
Bagi Surabaya, berbagai langkah yang telah ditempuh menunjukkan arah yang tepat. Kolaborasi lintas sektor, penguatan surveilans, edukasi masyarakat, pengawasan hewan, serta kesiapsiagaan menghadapi penyakit baru merupakan fondasi penting untuk membangun kota yang tangguh terhadap ancaman zoonosis.
Bersamaan dengan itu, tantangan ke depan akan semakin kompleks. Perubahan iklim, meningkatnya mobilitas penduduk, perkembangan kawasan perkotaan, dan intensitas perdagangan akan terus membuka peluang munculnya penyakit baru yang belum pernah dikenali sebelumnya.
Karena itu, investasi terbesar bukan hanya pada fasilitas kesehatan, melainkan juga pada sistem peringatan dini, riset, literasi kesehatan masyarakat, dan kolaborasi yang berkesinambungan.
Keberhasilan menghadapi zoonosis tidak ditentukan ketika wabah berhasil diatasi. Keberhasilan sesungguhnya tercermin ketika masyarakat dapat menjalani kehidupan sehari-hari tanpa pernah merasakan datangnya wabah karena ancamannya telah dicegah jauh sebelum menjadi krisis.
Itulah bentuk ketahanan kesehatan yang layak menjadi tujuan setiap kota yang ingin terus tumbuh, aman, dan berkelanjutan.






Komentar (0)