Beijing (ANTARA) - Pendorong-pendorong pertumbuhan baru yang berkembang pesat, termasuk industri berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), terus memacu pertumbuhan berkelanjutan dalam laba industri China, seiring pergeseran negara tersebut menuju pembangunan berbasis inovasi meraih momentum.
Laba perusahaan-perusahaan industri besar di China naik 18,7 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada paruh pertama (H1) tahun ini, mengalami percepatan dari kenaikan sebesar 15,5 persen pada kuartal pertama (Q1), demikian disampaikan Biro Statistik Nasional (National Bureau of Statistics/NBS) China pada Senin (27/7).
Perusahaan-perusahaan industri ini, yang memiliki pendapatan bisnis utama tahunan sedikitnya 20 juta yuan (1 yuan = Rp2.625) atau sekitar 2,95 juta dolar AS (1 dolar AS = Rp17.973), mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 6,5 persen pada periode Januari-Juni, menunjukkan percepatan dari 5 persen pada Q1. Selain itu, margin laba operasional mereka naik menjadi 5,7 persen, angka year-to-date tertinggi sejak 2024.
Mengomentari data tersebut, ahli statistik NBS Yu Weining mengatakan pemerintah telah meluncurkan berbagai kebijakan makro yang lebih proaktif tahun ini, mengembangkan kekuatan produktif berkualitas baru, serta membantu menjaga produksi industri tetap berada di jalur pertumbuhan yang stabil.
Salah satu penyumbang terbesar adalah industri elektronik, di mana pengadopsian AI yang pesat di berbagai sektor memicu lonjakan permintaan terhadap daya komputasi.
Pada H1, laba di sektor elektronik nyaris melonjak dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menyumbang 8,5 poin persentase terhadap pertumbuhan laba keseluruhan perusahaan-perusahaan industri besar, tunjuk data NBS.
Jika diperinci, laba perusahaan-perusahaan manufaktur komputer melonjak hampir tujuh kali lipat dibanding setahun lalu pada H1, sementara produsen sirkuit terpadu mencatat kenaikan laba hampir 26 kali lipat. Produsen serat optik, yang diuntungkan oleh meningkatnya permintaan akan konektivitas pusat data, mengalami kenaikan laba lebih dari empat kali lipat.
Kinerja yang kuat ini juga meluas ke luar sektor teknologi tinggi. Laba di sektor produksi bahan baku melonjak 71,7 persen (yoy) dalam enam bulan pertama, dengan kenaikan signifikan di industri logam nonbesi dan kimia.
Meskipun angka-angkanya sangat mengesankan, sejumlah tantangan masih tetap ada. Yu menyebutkan bahwa ketidakpastian seputar harga komoditas internasional, permintaan pasar yang kurang memadai, dan tekanan terhadap arus kas perusahaan terus membebani sejumlah perusahaan industri.
Ke depannya, lebih banyak upaya perlu dilakukan untuk terus mengembangkan industri-industri baru dan industri masa depan, sekaligus memperbarui sektor manufaktur tradisional guna memastikan kelancaran transisi dari pendorong pertumbuhan lama ke pendorong yang baru, kata Yu.
Rencana Lima Tahun ke-15 (2026-2030) China menyoroti pengembangan sistem industri modern yang ditopang oleh manufaktur canggih.
Provinsi-provinsi manufaktur utama sudah mulai bergerak ke arah tersebut, sebagaimana Provinsi Jiangsu di China timur sedang membangun basis manufaktur canggih yang kompetitif secara internasional, serta Provinsi Henan di China tengah menargetkan agar industri-industri baru yang strategis menyumbang 30 persen dari nilai tambah industri per 2030.
Seiring semakin pesatnya perkembangan teknologi baru dan manufaktur canggih, pendorong-pendorong pertumbuhan baru negara tersebut diperkirakan akan memainkan peran yang semakin penting dalam mendukung pertumbuhan industri dan pembangunan ekonomi berkualitas tinggi, menurut pakar.
Laba perusahaan-perusahaan industri besar di China naik 18,7 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada paruh pertama (H1) tahun ini, mengalami percepatan dari kenaikan sebesar 15,5 persen pada kuartal pertama (Q1), demikian disampaikan Biro Statistik Nasional (National Bureau of Statistics/NBS) China pada Senin (27/7).
Perusahaan-perusahaan industri ini, yang memiliki pendapatan bisnis utama tahunan sedikitnya 20 juta yuan (1 yuan = Rp2.625) atau sekitar 2,95 juta dolar AS (1 dolar AS = Rp17.973), mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 6,5 persen pada periode Januari-Juni, menunjukkan percepatan dari 5 persen pada Q1. Selain itu, margin laba operasional mereka naik menjadi 5,7 persen, angka year-to-date tertinggi sejak 2024.
Mengomentari data tersebut, ahli statistik NBS Yu Weining mengatakan pemerintah telah meluncurkan berbagai kebijakan makro yang lebih proaktif tahun ini, mengembangkan kekuatan produktif berkualitas baru, serta membantu menjaga produksi industri tetap berada di jalur pertumbuhan yang stabil.
Salah satu penyumbang terbesar adalah industri elektronik, di mana pengadopsian AI yang pesat di berbagai sektor memicu lonjakan permintaan terhadap daya komputasi.
Pada H1, laba di sektor elektronik nyaris melonjak dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menyumbang 8,5 poin persentase terhadap pertumbuhan laba keseluruhan perusahaan-perusahaan industri besar, tunjuk data NBS.
Jika diperinci, laba perusahaan-perusahaan manufaktur komputer melonjak hampir tujuh kali lipat dibanding setahun lalu pada H1, sementara produsen sirkuit terpadu mencatat kenaikan laba hampir 26 kali lipat. Produsen serat optik, yang diuntungkan oleh meningkatnya permintaan akan konektivitas pusat data, mengalami kenaikan laba lebih dari empat kali lipat.
Kinerja yang kuat ini juga meluas ke luar sektor teknologi tinggi. Laba di sektor produksi bahan baku melonjak 71,7 persen (yoy) dalam enam bulan pertama, dengan kenaikan signifikan di industri logam nonbesi dan kimia.
Meskipun angka-angkanya sangat mengesankan, sejumlah tantangan masih tetap ada. Yu menyebutkan bahwa ketidakpastian seputar harga komoditas internasional, permintaan pasar yang kurang memadai, dan tekanan terhadap arus kas perusahaan terus membebani sejumlah perusahaan industri.
Ke depannya, lebih banyak upaya perlu dilakukan untuk terus mengembangkan industri-industri baru dan industri masa depan, sekaligus memperbarui sektor manufaktur tradisional guna memastikan kelancaran transisi dari pendorong pertumbuhan lama ke pendorong yang baru, kata Yu.
Rencana Lima Tahun ke-15 (2026-2030) China menyoroti pengembangan sistem industri modern yang ditopang oleh manufaktur canggih.
Provinsi-provinsi manufaktur utama sudah mulai bergerak ke arah tersebut, sebagaimana Provinsi Jiangsu di China timur sedang membangun basis manufaktur canggih yang kompetitif secara internasional, serta Provinsi Henan di China tengah menargetkan agar industri-industri baru yang strategis menyumbang 30 persen dari nilai tambah industri per 2030.
Seiring semakin pesatnya perkembangan teknologi baru dan manufaktur canggih, pendorong-pendorong pertumbuhan baru negara tersebut diperkirakan akan memainkan peran yang semakin penting dalam mendukung pertumbuhan industri dan pembangunan ekonomi berkualitas tinggi, menurut pakar.






Komentar (0)