JAKARTA, KOMPAS – Anak-anak dan generasi muda dengan segala kreativitasnya diyakini bakal mewujudkan Indonesia Emas 2045. Meski demikian, terdapat sejumlah tantangan yang perlu diatasi seperti keterikatan dengan dunia digital dan kendala anak berkebutuhan khusus untuk berkarya.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengungkapkan optimisme tersebut saat menyampaikan sambutan dalam ”Canvas of Dreams” di Bentara Budaya Art Gallery, Jakarta, Senin (27/7/2026). Ia turut mengamati karya-karya yang dipajang dalam pameran seni tersebut.
“Ruang anak-anak Indonesia untuk berimajinasi harus diberikan seluas-luasnya. Imajinasi mereka sangat otentik,” ujarnya. Pameran tersebut merupakan seleksi lebih dari 1.000 karya dari 113 kabupaten/kota di 26 provinsi. Jumlah itu disaring menjadi 103 nomine yang dipilih lagi menjadi 10 karya untuk menerima apresiasi.
Kalau ingin membangun bangsa yang kuat, harus punya ikatan sosial dengan masyarakat di mana mereka berada.
“Setelah melihat karya-karya yang dipamerkan, saya yakin dengan prestasi dan ajang tersebut, Indonesia Emas 2045 yang disampaikan Presiden akan terwujud,” ucapnya. Visi itu menjadi bagian dari capaian semua pihak setelah seabad Indonesia merdeka.
Mu’ti meyakini bahwa anak adalah investasi bangsa. Merekalah yang akan memimpin Indonesia. Anak-anak juga merupakan wajah Indonesia di masa depan. Indonesia Emas 2045 yang akan dicapai 19 tahun lagi, dapat dilihat dari kualitas mereka yang kini menempuh pendidikan dasar.
Menurut Mu’ti, terdapat sejumlah tantangan yang masih dihadapi. Pertama, anak-anak saat ini hidup dalam dunia digital. Kadang-kadang, dunia digital bisa menjauhkan manusia dari interaksi sosial. “Kalau ingin membangun bangsa yang kuat, harus punya ikatan sosial dengan masyarakat di mana mereka berada,” katanya.
Terkait dengan upaya untuk memberdayakan bibit-bibit bertalenta, ”Canvas of Dreams” juga dilakukan secara inklusif dengan turut memamerkan karya anak-anak dengan disabilitas. Mereka pun merupakan tunas bangsa yang akan berperan dalam Indonesia Emas 2045.
Mu’ti memandang anak-anak dengan disabilitas perlu disediakan lebih banyak ruang berekspresi. Setidaknya, terdapat empat kendala untuk memberikan ruang itu. Dalam perspektif keagamaan tertentu, misalnya, kadang memicu pandangan di sebagian masyarakat bahwa kehadiran anak berkebutuhan khusus merupakan suatu bentuk cobaan.
“Tak boleh terjadi dan dibiarkan. Mereka harus diberikan pemahaman yang benar bahwa semua manusia diciptakan sebagai makhluk sempurna,” tuturnya. Persoalan lain, yakni kultural lantaran masih ada orangtua yang menganggap status sosialnya turun jika sang anak belajar bersama ABK.
Problem selanjutnya, jumlah SLB yang belum memadai sehingga Mu’ti mendorong sekolah inklusi diperkuat dengan memberikan pelatihan kepada guru-guru. Kendala terakhir adalah keterbatasan finansial karena membangun SLB membutuhkan biaya besar.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf yang turut mengunjungi ”Canvas of Dreams” juga menilai peran seni sangat besar untuk mengonkretkan Indonesia Emas 2045. Sekolah tak hanya soal kemampuan matematika atau pelajaran tertentu. “Kesenian juga menjadi penopang. Kesimbangan otak kanan dan kiri. Jadi, ini penting,” jelasnya.
Saifullah mengapresiasi ”Canvas of Dreams” sebagai wadah untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak, termasuk disabilitas untuk menghadirkan karya-karyanya. Ajang itu menjadi panggung yang memotivasi banyak anak untuk mengekspresikan bakatnya.
Bukan sekadar menang, tetapi keberanian berkreasi dan kesempatan untuk mewadahinya pun sangat penting. Saifullah berharap, acara itu bisa diselenggarakan secara rutin. “Kami akan diskusikan lebih lanjut. Semoga tahun depan bisa menjangkau lebih banyak anak,” imbuhnya.
Pemimpin Redaksi Harian Kompas Haryo Damardono mengatakan, ”Canvas of Dreams” digelar untuk memberikan ruang bagi anak-anak muda sebagai generasi penerus. “Bukan hal baru bagi Harian Kompas karena kami punya universitas. Baru-baru ini, juga dididirikan Sekolah Multimedia Nusantara,” katanya.
Langkah tersebut diimplementasikan sebagai peran yang tak hanya di tingkat pendidikan tinggi, tetapi juga dasar dan menengah. “Sebab, pendiri Harian Kompas, Jakob Oetama, punya latar belakang sebagai guru sebelum menjadi wartawan,” ungkapnya.






Komentar (0)